Hujan turun sejak sore.
Butiran air menghantam kaca jendela ruang tamu dengan ritme yang membuat rumah terasa semakin sunyi. Di meja makan, empat hidangan yang Arina masak sendiri masih tertutup tudung saji. Sup ayam kesukaan suaminya mulai kehilangan uap hangatnya. Steak lada hitam yang ia pelajari dari puluhan video memasak kini hanya menyisakan aroma rempah yang perlahan memudar.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.47.
Arina melirik ponselnya untuk kesekian kali.
Tidak ada pesan baru.
Ia membuka kembali ruang obrolannya dengan suaminya.
Mas, sudah landing?
Terkirim.
Dibaca tiga jam lalu.
Tidak ada balasan.
Arina mengembuskan napas panjang sambil memeluk lutut di sofa.
Besok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh.
Karena itu, sejak pagi ia membersihkan seluruh rumah, membeli bunga lily putih-bunga favorit suaminya-dan memasak semua makanan kesukaan pria itu.
Di sudut ruang tamu, sebuah kotak kecil berisi jam tangan kulit yang sudah ia beli selama tiga bulan terakhir masih terbungkus rapi.
Hadiah sederhana.
Dibeli dari hasil menabung diam-diam.
"Semoga Mas suka..."
Ia tersenyum sendiri.
Senyum yang perlahan memudar saat layar ponselnya kembali gelap.
________________________________________
Dua jam sebelumnya...
Bandara Soekarno-Hatta.
Pesawat dari Singapura sebenarnya sudah mendarat tepat waktu.
Namun bukan rumah yang menjadi tujuan pertama Adrian.
Melainkan sebuah hotel berbintang lima di pusat kota.
Lift berhenti di lantai dua puluh satu.
Pintu kamar terbuka.
Seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun sudah berdiri di sana dengan gaun satin warna merah marun yang membalut tubuhnya secara elegan.
Rambut panjangnya terurai rapi.
Lipstik merahnya masih terlihat segar.
"Nungguin aku?"
Wanita itu tersenyum manis.
"Selalu, Pak Adrian."
Namanya...
Nadia.
Sekretaris pribadi Adrian selama tiga tahun terakhir.
Wanita yang selama ini dikenal semua karyawan sebagai sosok profesional, tenang, dan sangat berdedikasi.
Tidak ada seorang pun yang tahu...
bahwa hampir setiap perjalanan bisnis Adrian selalu diakhiri di kamar hotel yang sama.
Nadia mengambil koper Adrian.
"Aku sudah pesan makan malam."
Adrian mengangguk.
"Capek?"
Nadia mendekat.
Lalu merapikan dasi Adrian dengan gerakan yang terlalu akrab untuk ukuran hubungan atasan dan bawahan.
"Capek..."
Suara Adrian pelan.
"...tapi lihat kamu, capeknya hilang."
Nadia tersenyum.
Kalimat itu selalu berhasil membuat jantungnya berdebar.
Selama tiga tahun...
Ia menunggu satu kalimat lain.
"Aku akan menceraikan Arina."
Tetapi kalimat itu tak pernah benar-benar keluar.
Meski begitu...
Ia tetap bertahan.
Karena Adrian selalu memberinya harapan.
"Sabarlah sedikit lagi."
"Itu cuma soal waktu."
"Kamu tahu pernikahanku sudah hambar."
Kalimat-kalimat itu menjadi candu yang terus membuat Nadia percaya.
Padahal...
yang sebenarnya hambar bukanlah pernikahan Adrian.
Melainkan hati pria itu yang mulai terbiasa hidup dalam kebohongan.
________________________________________
Sementara itu...
Di rumah.
Lampu teras masih menyala.
Arina membuka pintu setiap kali mendengar suara mobil melintas.
Namun setiap kali pula...
Mobil itu hanya lewat.
Bukan Adrian.
Ia kembali duduk.
Mengusap air mata yang mulai jatuh.
Ibunya pernah berkata,
"Perempuan yang mencintai dengan tulus selalu bisa menunggu. Tapi jangan sampai penantianmu membuatmu kehilangan harga dirimu."
Dulu Arina tidak memahami maksud kalimat itu.
Malam ini...
Untuk pertama kalinya...
Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.
Sesuatu yang sangat buruk.
________________________________________
Di hotel...
Nadia menuangkan dua gelas anggur.
"Untuk perjalanan bisnis yang sukses."
Gelas mereka beradu pelan.
Ting.
Adrian tersenyum.
Ponselnya bergetar.
Layar menyala.
Arina ❤️
"Mas... aku tunggu ya. Hati-hati di jalan pulang."
Adrian hanya melirik sekilas.
Lalu...
Ia membalikkan ponselnya hingga layar menghadap meja.
Tanpa membalas.
Tanpa merasa bersalah.
Nadia melihat nama itu.
Senyumnya sempat menghilang.
"Kenapa nggak dibalas?"
Adrian mengangkat bahu.
"Nanti saja."
"Nggak kasihan?"
"Dia sudah terbiasa."
Kalimat itu membuat Nadia terdiam.
Ada rasa bersalah yang muncul sekejap.
Namun rasa itu kalah oleh ego yang selama ini ia pelihara.
Kalau Arina begitu penting...
mengapa Adrian ada di sini?
Bukankah kehadiran seorang pria menunjukkan di mana hatinya berada?
Nadia memilih mempercayai pemikiran itu.
Tanpa sadar...
ia sedang membangun kebahagiaan di atas air mata perempuan lain.
________________________________________
Pukul 00.18.
Arina akhirnya tertidur di sofa.
Masih mengenakan cardigan yang sama.
Masih menggenggam ponselnya.
Masih menunggu suara mobil suaminya memasuki halaman.
Di meja makan...
Makanan mulai dingin.
Lilin kecil yang ia siapkan untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka sudah meleleh habis.
Sementara di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa kilometer...
Adrian memilih menghabiskan malam bersama wanita yang seharusnya hanya menjadi sekretarisnya.
Dan di situlah...
tanpa diketahui Arina...
retakan pertama dalam rumah tangga mereka berubah menjadi jurang yang suatu hari nanti akan menelan semuanya.
---
Pukul 02.13 dini hari.
Suara mesin mobil akhirnya terdengar memasuki halaman rumah.
Lampu depan menyapu dinding teras yang sejak sore tak pernah dimatikan.
Adrian turun dari mobil dengan wajah lelah. Jasnya masih rapi, koper hitamnya berada di tangan kanan, sementara aroma parfum yang melekat di tubuhnya bercampur samar dengan wangi bunga yang bukan milik Arina.
Ia berhenti sejenak di depan pintu.
Lampu teras masih menyala.
"Belum tidur..."
gumamnya lirih.
Kunci diputar perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Begitu pintu terbuka, ruang tamu menyambutnya dalam keheningan.
Pandangannya langsung tertuju pada sosok Arina yang tertidur meringkuk di sofa.
Ponsel masih berada dalam genggamannya.
Di bawah matanya terlihat lingkaran gelap akibat terlalu lama menunggu.
Untuk sesaat...
Hati Adrian terusik.
Ia melangkah mendekat.
Di meja ruang tamu terdapat secarik kertas kecil.
"Mas, makan malamnya aku hangatkan lagi kalau sudah pulang. Jangan lupa istirahat ya. Aku kangen."
Tulisan tangan itu membuat langkah Adrian terhenti.
Ia menoleh ke arah meja makan.
Empat hidangan masih tersusun rapi.
Lilin kecil yang telah habis meleleh meninggalkan bekas lilin putih di atas meja.
Dadanya terasa sesak.
Namun rasa bersalah itu hanya bertahan beberapa detik.
Ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan masuk.
Nadia
"Sudah sampai rumah? Istirahat ya... Jangan lupa besok meeting jam sembilan. Selamat malam."
Di sudut bibir Adrian muncul senyum tipis.
Ia membalas singkat.
"Sudah. Makasih."
Lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Tanpa sadar...
Pesan pertama yang ia balas malam itu bukanlah milik istrinya.
Melainkan milik wanita lain.
________________________________________
Arina terbangun karena mendengar suara langkah kaki.
Matanya yang masih sembab langsung berbinar.
"Mas..."
Ia segera berdiri.
"Kapan sampainya? Kok nggak bangunin aku?"
Adrian memaksakan senyum.
"Baru saja."
Arina langsung memeluk suaminya.
Pelukan yang hangat.
Pelukan seseorang yang benar-benar merindukan.
Namun Adrian membalasnya dengan kaku.
Arina tidak menyadarinya.
Yang ia rasakan hanyalah lega karena pria yang ia cintai telah pulang dengan selamat.
"Aku panasin makanannya ya."
"Nggak usah."
"Lho? Mas belum makan?"
"Sudah makan sama klien."
Jawaban itu membuat langkah Arina terhenti.
"Oh... begitu."
Senyumnya sedikit memudar.
"Tapi aku masak semua kesukaan Mas."
Adrian melirik meja makan sekilas.
"Besok saja."
Lalu ia berjalan menuju kamar.
Meninggalkan Arina berdiri sendiri di ruang makan.
Tatapannya jatuh pada makanan yang sejak sore ia siapkan.
Sup ayam itu kini benar-benar dingin.
Steak yang ia masak dengan penuh semangat mulai mengeras.
Ia menunduk.
"Enggak apa-apa..."
bisiknya, lebih seperti menghibur dirinya sendiri.
"Mungkin Mas benar-benar capek."
Ia mengambil satu per satu piring dari meja.
Memasukkannya ke dalam kulkas.
Tak satu pun ia buang.
Karena ia masih berharap...
Besok suaminya akan memakannya.
________________________________________
Di kamar tidur.
Adrian baru saja selesai mandi.
Ponselnya kembali berbunyi.
Nadia
"Aku kangen. Tadi rasanya pengin waktunya berhenti."
Adrian tersenyum tipis.
Jarinya mulai mengetik.
"Aku juga."
Belum sempat ia mengirim pesan berikutnya, pintu kamar terbuka.
Arina masuk membawa segelas s**u hangat.
Adrian buru-buru mengunci layar ponselnya.
"Aku bikinin susu."
"Taruh saja."
Arina meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.
"Mas..."
"Hm?"
"Besok jangan lupa ya."
"Lupa apa?"
Arina tersenyum kecil.
"Besok ulang tahun pernikahan kita."
Adrian terdiam.
Beberapa detik.
Ia benar-benar lupa.
"Oh... iya."
Jawaban datar itu menusuk hati Arina lebih dalam daripada bentakan.
Namun ia tetap tersenyum.
"Aku sudah siapin hadiah."
"Nggak usah repot-repot."
"Aku senang kok."
Adrian hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan.
Tak lama kemudian, Arina mematikan lampu kamar.
Ia berbaring di sisi lain ranjang.
Membelakangi Adrian.
Air mata perlahan mengalir tanpa suara.
Bukan karena marah.
Melainkan karena kecewa.
Ia selalu percaya bahwa cinta adalah tentang mengerti.
Maka malam itu...
Ia memilih memahami kelelahan suaminya.
Tanpa mengetahui bahwa yang sebenarnya menjauh bukan tubuh Adrian...
melainkan hatinya.
________________________________________
Keesokan paginya.
Pukul 07.30.
Arina bangun lebih awal.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem.
Di ruang makan sudah tersedia sarapan lengkap.
Ia bahkan menaruh kotak hadiah di samping piring Adrian.
Ketika Adrian turun, Arina tersenyum cerah.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Mas."
Adrian sempat terdiam.
Lalu menjawab pelan.
"Iya... makasih."
Arina mendorong kotak hadiah itu.
"Buka nanti saja kalau sudah sampai kantor."
Adrian mengangguk seadanya.
Belum sempat Arina mengajaknya sarapan, ponsel Adrian berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah.
Nadia.
Ia segera mengangkat telepon.
"Iya?"
Suara Nadia terdengar panik.
"Pak Adrian... saya salah kirim file ke klien. Bisa ke kantor lebih cepat? Saya takut proyek ini bermasalah."
"Aku berangkat sekarang."
Telepon ditutup.
Adrian langsung meraih jasnya.
"Mas, sarapannya..."
"Nanti saja."
"Tapi hari ini..."
"Aku buru-buru."
Pintu rumah tertutup.
Arina berdiri mematung.
Sarapan ulang tahun pernikahan mereka kembali tak tersentuh.
Di atas meja...
Kotak hadiah itu masih tertinggal.
Adrian bahkan lupa membawanya.
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju menuju kantor, Adrian sama sekali tidak menyadari satu hal.
Telepon Nadia tadi...
bukan karena file yang salah kirim.
Melainkan karena wanita itu ingin memastikan...
bahwa di hari ulang tahun pernikahan Adrian sekalipun...
yang dipilih pria itu tetap dirinya.
---
Pukul 08.45.
Gedung Adrian Group mulai dipenuhi para karyawan yang bergegas menuju ruang kerja masing-masing. Di lantai dua puluh lima, suasana jauh lebih tenang. Lantai itu hanya ditempati jajaran direksi dan ruang kerja Presiden Direktur.
Nadia berdiri di depan cermin kecil di ruangannya.
Ia merapikan blazer krem yang dikenakannya, lalu mengoleskan lipstik tipis.
Penampilannya sempurna.
Profesional.
Elegan.
Tak ada yang akan menyangka bahwa wanita yang disegani banyak karyawan itu adalah orang ketiga dalam rumah tangga atasannya.
Ketukan pelan terdengar.
"Pak Adrian sudah sampai, Bu Nadia."
"Baik."
Nadia mengambil tablet dan beberapa map rapat, lalu berjalan menuju ruang direktur.
Ia mengetuk pintu dua kali.
"Silakan masuk."
Begitu pintu terbuka, Adrian sudah duduk di balik meja kerjanya.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
Nadia meletakkan kopi hitam tanpa gula tepat di sisi kanan meja.
Tanpa diminta.
Ia hafal kebiasaan Adrian.
Bahkan lebih hafal daripada dirinya sendiri.
"Meeting jam sembilan sudah saya siapkan."
"Terima kasih."
Nadia tersenyum.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Tak ada kata-kata romantis.
Namun bagi keduanya, diam itu sudah cukup untuk saling memahami.
Sayangnya...
Pemandangan itu tidak luput dari mata seseorang.
________________________________________
Di luar ruangan.
Rina, staf administrasi, berbisik kepada sahabatnya, Maya.
"Kamu sadar nggak?"
"Apa?"
"Bu Nadia itu perhatian banget sama Pak Adrian."
Maya terkekeh.
"Namanya juga sekretaris."
"Iya sih... tapi kadang menurutku terlalu perhatian."
"Perhatian gimana?"
"Dia tahu persis Pak Adrian maunya apa. Kopinya, jadwalnya, bahkan kalau Pak Adrian lagi bad mood, Bu Nadia langsung bisa nenangin."
Maya mengangkat bahu.
"Sudahlah. Jangan suuzan."
Rina ikut mengangguk.
Mungkin benar.
Mereka hanya terlalu banyak berpikir.
Tak mungkin ada hubungan apa-apa.
Pak Adrian terkenal sebagai suami yang penyayang.
Setidaknya...
Itulah yang selama ini semua orang percaya.
________________________________________
Sementara itu...
Di rumah.
Arina sedang membereskan meja makan.
Kotak hadiah yang tadi pagi tertinggal masih berada di tempat semula.
Ia mengusap kotak itu pelan.
"Lupa dibawa..."
gumamnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Nama yang muncul membuat wajahnya cerah.
Adrian.
"Halo, Mas?"
"Arina."
"Iya?"
"Hadiahnya ketinggalan."
"Oh..."
Arina tersenyum kecil.
"Nanti malam saja kuberikan."
"Iya."
Hening.
Beberapa detik.
Arina menunggu.
Berharap Adrian mengucapkan sesuatu.
Apa saja.
Ucapan selamat.
Atau sekadar...
"Terima kasih sudah mengingat hari ini."
Namun yang terdengar justru kalimat lain.
"Aku lagi sibuk. Sudah ya."
Telepon terputus.
Arina menatap layar ponselnya cukup lama.
Lalu memaksakan senyum.
"Yang penting dia masih sempat telepon."
Ia terus mencari alasan untuk menghibur dirinya sendiri.
________________________________________
Di kantor.
Rapat baru saja selesai.
Para direktur mulai meninggalkan ruangan.
Adrian masih duduk sambil memijat pelipis.
Nadia menghampiri.
"Pak."
"Hm?"
"Tadi kelihatan pusing."
"Cuma kurang tidur."
Nadia membuka laci kecil di ruang rapat.
Ia mengeluarkan obat sakit kepala.
"Minum dulu."
Adrian menatap wanita itu.
"Kamu selalu siap."
"Saya hanya menjalankan pekerjaan."
Jawaban itu terdengar profesional.
Namun senyum tipis yang muncul sesudahnya mengatakan hal lain.
Saat semua orang sudah keluar...
Nadia menutup pintu rapat.
"Pak."
"Iya?"
"Selamat ulang tahun pernikahan."
Adrian menoleh.
"Kamu ingat?"
Nadia tersenyum pahit.
"Saya ingat semua tentang Bapak."
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
"Apa Ibu Arina senang?"
Adrian tidak langsung menjawab.
"Saya tadi lihat cincin Bapak masih dipakai."
"Tentu saja."
"Lalu... apa hati Bapak juga masih untuk beliau?"
Ruangan mendadak sunyi.
Pertanyaan itu menggantung.
Beberapa saat kemudian Adrian menghela napas.
"Aku juga nggak tahu."
Jawaban itulah yang selama ini ditunggu Nadia.
Ia melangkah mendekat.
"Cinta itu bukan soal siapa yang datang lebih dulu."
Adrian mengangkat wajah.
"Tapi siapa yang selalu ada ketika kita membutuhkannya."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun Nadia sengaja mengucapkannya.
Ia ingin Adrian membandingkan dirinya dengan Arina.
Ia ingin Adrian merasa bahwa selama ini yang selalu menemaninya bekerja, mendengarkan keluh kesahnya, dan mengurus semua kebutuhannya adalah dirinya.
Bukan istrinya.
Padahal...
Arina tak pernah memiliki kesempatan melakukan semua itu.
Karena Adrian sendiri yang membatasi dunia istrinya hanya di dalam rumah.
________________________________________
Sore harinya.
Arina memutuskan datang ke kantor membawa hadiah yang tadi tertinggal.
Ia ingin memberi kejutan.
Sambil membawa kotak kecil dan sebuket bunga lily putih, ia memasuki lobi Adrian Group.
Resepsionis tersenyum ramah.
"Selamat sore, Bu Arina."
"Sore."
"Apakah ingin bertemu Pak Adrian?"
"Iya. Aku tidak memberi tahu beliau. Mau kasih kejutan."
"Tentu, Bu."
Arina naik ke lantai dua puluh lima.
Hatinya berdebar.
Ia membayangkan Adrian akan tersenyum ketika menerima hadiah itu.
Mungkin mereka bisa makan malam bersama.
Mungkin...
Hari ulang tahun pernikahan mereka masih bisa diselamatkan.
Begitu pintu lift terbuka...
Langkah Arina terhenti.
Dari balik dinding kaca ruang rapat...
Ia melihat Adrian sedang berdiri sangat dekat dengan Nadia.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Namun cara mereka saling memandang...
terlalu hangat untuk sekadar hubungan atasan dan sekretaris.
Nadia tersenyum lembut.
Adrian membalas senyum itu.
Jantung Arina berdegup lebih cepat.
Entah mengapa...
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa ada sesuatu yang salah.
Kotak hadiah di tangannya perlahan terasa semakin berat.
Dan tanpa ia sadari...
Seseorang di dalam ruangan juga melihat bayangan Arina berdiri di balik kaca.
Nadia.
Sudut bibir wanita itu perlahan terangkat.
Bukan karena terkejut.
Melainkan karena ia tahu...
Benih kecurigaan akhirnya mulai tumbuh di hati sang istri.
Bersambung...