Arka mengira latihan balap berarti mengayuh sampai muntah. Maka ia terkejut ketika, di hari ketiga, Hasan tidak menyuruhnya naik sepeda sama sekali, melainkan menyerahkannya pada seorang gadis di pojok garasi velodrom yang penuh perkakas.
"Mei," kata Hasan singkat. "Dia satu-satunya atlet yang masih tersisa di sini. Endurance—jarak jauh. Dia akan mengajarimu hal-hal yang lebih penting daripada kaki. Dengarkan dia seperti kamu mendengarkan aku." Lalu ia pergi, menyeret kakinya, meninggalkan keduanya.
Mei berusia delapan belas, setahun lebih muda dari Arka, tapi caranya menatap membuat Arka merasa seperti murid yang terlambat masuk kelas. Ia kurus dan kecil, dengan tangan penuh noda gemuk dan lengan berotot tipis yang dibentuk ribuan kilometer. Ia tidak basa-basi. Ia menyodorkan sebuah ban tubular dan sekaleng lem.
"Kamu tahu cara ngelem ban?"
"Aku kurir. Aku tambal ban sejak umur sepuluh."
Mei mendengus pelan. "Bukan ban biasa. Ini tubular. Tidak ada ban dalam yang bisa kamu copot dan tambal. Seluruh ban dilem langsung ke pelek, tangan, lapis demi lapis, dan kalau lemmu jelek, di kecepatan enam puluh kilometer per jam di tikungan empat puluh dua derajat, ban itu lepas dari pelek dan kamu—" ia menjentikkan jari, "—nempel di pagar. Bukan kamu yang naik sepeda ini ngandelin lemnya. Aku. Mei. Jadi kamu akan belajar ngelem yang benar, karena kalau bukan kamu yang mempercayakan nyawamu ke pekerjaanku, suatu hari nanti, kamu akan mempercayakannya ke pekerjaan orang lain. Itu cara kerja tempat ini."
Arka berhenti. Kalimat terakhir itu menyangkut di suatu tempat di dadanya, tapi ia belum tahu kenapa. Ia mengambil ban itu.
Mei mengajarinya pelan, telaten, kejam dalam ketelitiannya. Ia menunjukkan cara membersihkan pelek dari sisa lem lama, cara mengoleskan lapisan tipis dan menunggunya mengering sampai lengket sempurna, cara memasang ban dengan ibu jari sambil meluruskannya agar tak ada gelombang sedikit pun. "Gelombang sebesar uang logam," kata Mei, "membuat sepeda goyang di kecepatan tinggi. Dan goyang di banking adalah jatuh. Tidak ada toleransi. Olahraga ini menghukum kemalasan dengan kulit dan tulang."
Arka yang terbiasa cepat dan kasar, mendapati tangannya gemetar oleh ketelitian yang dituntut pekerjaan itu. Ia merusak ban pertamanya—lem terlalu tebal, menggumpal. Mei tak memarahinya; ia hanya menyodorkan ban kedua dengan wajah datar. Arka mengulang. Yang kedua lebih baik. Yang ketiga, dua jam kemudian, akhirnya disetujui Mei dengan anggukan kecil yang terasa Arka seperti medali.
Sesudah ban, datang gir. Mei membentangkan tabel di atas meja kerja: angka-angka, perbandingan jumlah gigi depan dan belakang. "Gear ratio. Di sepeda ini, kamu memilih satu rasio untuk satu lomba, dan begitu kamu di lintasan, kamu terkunci dengan pilihan itu. Tidak bisa pindah gigi. Rasio besar—gigi depan banyak, belakang sedikit—berat dikayuh tapi kecepatan puncaknya tinggi; bagus untuk sprinter yang mau ledakan akhir. Rasio kecil ringan dikayuh, cepat berputar, bagus untuk lomba yang butuh akselerasi dan ketahanan. Memilih rasio yang salah untuk satu lomba sama saja kalah sebelum mulai. Itu keputusan yang kamu ambil di garasi, berjam-jam sebelum bel pertama. Setengah dari balapan ini dimenangkan di sini, di antara perkakas, bukan di papan."
Lalu lap board. Mei membawanya ke pinggir lintasan dan menunjuk papan di tengah, papan dengan angka yang bisa diputar, dan sebuah bel kecil di sampingnya. "Setiap putaran, angkanya berkurang. Lima, empat, tiga. Dan di lap terakhir, bel ini dibunyikan—" ia memukul bel, dan dentingnya bergema di velodrom kosong, "—untuk memberitahu semua pembalap: ini putaran terakhir, sekarang atau tidak sama sekali. Kamu harus melatih telingamu pada bel itu, melatih matamu pada papan itu, karena di tengah balapan, dengan paru-paru terbakar dan jantung di telinga, kamu harus tetap bisa menghitung. Pembalap yang lupa berapa lap tersisa adalah pembalap yang melepas terlalu cepat dan kehabisan tenaga, atau menunggu terlalu lama dan kehilangan kesempatan. Olahraga ini sebagian besar bukan kaki. Sebagian besar kepala."
Arka, yang sepanjang hidupnya menang dengan kaki dan tak pernah dengan kepala, merasa kesal. "Aku ke sini buat ngebut, bukan buat duduk diam belajar tabel."
Mei menatapnya, dan untuk pertama kalinya wajahnya melunak sedikit, bukan jadi ramah, tapi jadi paham. "Aku tahu jenismu. Kamu pikir cepat itu segalanya. Kamu pikir kalau kamu cukup kuat, kamu tak butuh siapa-siapa dan tak butuh aturan apa-apa. Aku pernah lihat tiga anak seperti kamu masuk velodrom ini. Mereka semua hebat di hari pertama dan tak ada satu pun yang bertahan, karena begitu kekuatan kasar tak lagi cukup, mereka tak punya apa-apa lagi untuk diandalkan. Mereka tak pernah belajar bahwa di papan ini, kamu tak menang sendirian. Kamu menang dengan membaca ritme orang lain, mencuri angin orang lain, kadang mempercayakan rodamu pada orang lain. Dan kalau kamu tak bisa percaya, kamu akan selalu kalah dari orang yang bisa."
Kata itu—percaya—jatuh di antara mereka seperti benda asing. Arka mengalihkan pandang. Sesuatu di dalam dirinya mengeras secara naluri, otot lama yang terbentuk dari bertahun-tahun belajar bahwa orang yang kau percayai adalah orang yang paling cepat meninggalkanmu. Ia tak menjawab. Mei melihatnya, melihat dinding yang baru saja naik di mata anak itu, dan ia tidak memaksa. Ia hanya menyimpannya, seperti orang menyimpan informasi tentang lawan.
"Sekarang," kata Mei, mengembalikan suaranya ke nada datar, "ulangi yang aku jelaskan tentang ritme napas. Empat hitungan tarik, empat hitungan buang, dikunci ke putaran kayuh. Karena kalau napasmu kacau di lap ketiga, kakimu sekuat apa pun tak akan menyelamatkanmu."
Arka menarik napas. Ia mulai melihat sesuatu yang tak pernah ia duga: bahwa olahraga ini, yang ia kira soal otot, sebenarnya soal pikiran—papan catur yang dimainkan dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam dan paru-paru yang terbakar. Catur yang bidaknya adalah tubuhmu sendiri. Dan untuk pertama kalinya, meski ia tak mau mengakuinya pada Mei, ia merasakan sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar penasaran.
Ia merasa tertantang.