Tiga minggu kemudian, Hasan membawa Arka ke uji coba antar-klub. Bukan lomba resmi—hanya sesi gabungan tempat klub-klub kota berlatih bersama di velodrom yang lebih besar dan lebih terawat di sisi lain Bandung, lintasannya dari semen, bukan kayu, tapi tetap sebuah lintasan sungguhan. Hasan ingin Arka mencicipi bagaimana rasanya ada orang lain di papan yang sama, melaju ke arah yang sama, di tikungan yang sama.
Dan ia ingin Arka bertemu Senna.
Senna Rais berusia dua puluh, bertubuh dipahat seperti patung yang tahu persis untuk apa setiap ototnya. Jerseynya bersih, bertuliskan nama klub paling kaya di kota. Ia tidak sombong dengan cara yang berisik—justru sebaliknya, ketenangannya yang membuat Arka risi. Ketika Hasan memperkenalkan Arka sebagai anak binaan barunya dari Rajawali, Senna memandang Arka dari atas ke bawah, melihat sepatu pinjaman yang kebesaran dan jersey lungsuran, lalu berkata dengan nada datar, "Rajawali masih buka? Kupikir sudah jadi mal." Lalu ia berbalik dan pergi melakukan pemanasan, seolah Arka tak cukup penting untuk diingat namanya.
Arka merasa darahnya panas. "Aku mau lawan dia," katanya pada Hasan.
"Tidak," jawab Hasan. "Kamu belum siap. Hari ini kamu menonton."
"Aku mau lawan dia."
Hasan menghela napas. Ia tahu jenis keras kepala ini; ia pernah jadi jenis itu. "Baik. Satu sprint. Tapi dengar dulu apa itu sprint di lintasan, supaya kamu kalah karena kalah, bukan karena bodoh. Sprint bukan adu lampu merah. Dua pembalap, tiga lap. Dua lap pertama biasanya lambat, sangat lambat, kadang nyaris berhenti, karena tak ada yang mau memimpin di depan—pemimpin di depan harus menembus angin sendirian, dan yang di belakang menempel padanya, hemat tenaga, menunggu. Yang pintar memaksa lawannya memimpin, lalu menyerang di saat yang tak terduga. Seluruh balapan ditentukan oleh beberapa detik terakhir di lap ketiga. Kamu mengerti? Ini bukan soal siapa paling kuat. Ini soal siapa paling pintar membuat lawannya membuang tenaga."
Arka mengangguk, tapi di kepalanya cuma ada satu hal: kalahkan si dingin itu.
Mereka mengambil posisi. Bel berbunyi. Dan apa yang terjadi sesudahnya adalah pelajaran paling pahit dalam hidup Arka.
Senna, yang berhak memilih posisi, menempatkan dirinya di belakang Arka. Begitu mereka mulai, ia melambat. Melambat dengan sengaja, sampai keduanya hampir berjalan kaki di atas sepeda, terhuyung pelan di banking. Arka, di depan, terjebak. Ia tak bisa melambat lebih dari Senna tanpa terjatuh, dan selama ia di depan, ia menanggung seluruh beban angin sementara Senna beristirahat di belakangnya, hemat, sabar, menunggu. Arka tak mengerti permainan ini. Ia kira lambat berarti aman. Ia kira selama kakinya masih punya tenaga, ia akan menang di akhir.
Lalu di tengah lap kedua, ketika Arka sedikit lengah, Senna menyerang. Tapi bukan menyerang lurus—ia naik ke banking, ke atas, lalu menukik turun, dan momentum dari ketinggian itu melontarkannya melewati Arka dengan kecepatan yang membuat Arka tersentak. Dalam dua kayuhan Senna sudah di depan, dan kini posisi terbalik: Arka yang harus menembus angin, terkejut, kehilangan ritme. Ia memaksa kakinya, kekuatan mentah itu, dan untuk sesaat ia hampir menyusul—kakinya memang lebih kuat, Senna pun merasakannya. Tapi bel lap terakhir berbunyi dan Arka sudah membuang terlalu banyak tenaga karena panik, karena ia memaksa di saat yang salah, dan Senna, yang menyimpan tenaganya dengan presisi seorang akuntan, melepaskan ledakannya tepat di dua ratus meter terakhir. Ia melewati garis dua panjang sepeda di depan, bahkan tak terlihat kehabisan napas.
Arka memperlambat sepedanya, dadanya naik turun, wajahnya panas. Bukan karena lelah. Karena malu.
Senna menghampirinya, masih tenang, masih dingin. Ia tidak mengejek—itu yang membuatnya lebih menyakitkan. Ia hanya berkata, seolah memberi penilaian teknis, "Kakimu bagus. Sangat bagus, sebenarnya. Sayang ada di kepala yang kosong." Ia menyeka keringat dengan punggung tangan. "Kamu menyerang ketika seharusnya menunggu. Kamu memaksa ketika seharusnya menyimpan. Kamu pikir ini soal kaki. Ini tidak pernah soal kaki. Anak jalanan selalu mengira begitu—kalian semua sama, kalian pikir karena pernah menang di perempatan jalan, kalian bisa naik ke papan dan menang di sini. Papan ini menertawakan kalian." Ia memasang kembali helmnya. "Pulanglah ke jalananmu. Itu tempatmu."
Lalu ia pergi, dan Arka berdiri di sana, masih di atas sepeda, dengan kemarahan yang perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih berguna.
Hasan datang menyeret kakinya. Ia tidak menghibur Arka. "Sekarang kamu tahu," katanya pelan. "Bukan kakimu yang kalah. Kepalamu. Kamu menyerang di lap dua karena egomu tak tahan menunggu. Kamu memaksa di lap tiga karena kamu panik. Senna menang tanpa benar-benar mengeluarkan kekuatannya, karena ia tak perlu—ia membiarkan kebodohanmu mengalahkanmu untuknya. Itulah balap lintasan, anak muda. Kekuatan tanpa kepala adalah peluru tanpa pistol. Tak ada gunanya."
Arka tak menjawab sepanjang perjalanan pulang. Ia memandang ke luar, ke jalanan macet tempat ia dulu raja, dan untuk pertama kalinya jalanan itu terasa kecil. Di balik tulang dadanya, kemarahan tadi sudah mengeras menjadi sesuatu yang lain. Bukan dendam. Lebih seperti keputusan.
Malam itu, di gudang sewaannya, Arka tak bisa tidur. Ia memutar ulang sprint itu di kepalanya, lagi dan lagi, melihat setiap kesalahannya seolah baru sekarang ia punya mata untuk melihatnya. Lap dua, ia menyerang terlalu dini. Lap tiga, ia memaksa terlalu cepat. Senna benar tentang segalanya, dan justru karena Senna benar, Arka tak bisa membiarkannya benar selamanya.
Untuk pertama kalinya sejak Hasan mengetuk hidupnya, Arka tidak ingin sekadar mencoba. Ia ingin belajar. Sungguh-sungguh belajar. Ia ingin kembali ke papan kayu sekarat itu dan menguasai setiap detik yang membuatnya malu hari ini. Bukan demi velodrom. Belum. Demi menghapus senyum dingin yang bahkan tak repot-repot mengingat namanya.
Besok pagi, jam enam, ia akan jadi murid pertama yang datang.