Jam enam pagi velodrom terasa berbeda. Cahaya pucat menerobos lubang-lubang kecil di atap, jatuh berkas-berkas miring ke papan kayu yang lembap oleh embun semalam. Hasan sudah ada di sana, mengeluarkan sebuah sepeda dari ruang penyimpanan dan menyandarkannya pada pagar. Arka mendekat dan langsung tahu sepeda ini makhluk yang berbeda dari apa pun yang pernah ia naiki.
Rangkanya rendah dan agresif, melengkung ke depan. Tak ada gir di belakang untuk dipindah, sama seperti sepeda kurirnya—satu gigi mati—tapi di situlah kemiripan berhenti. Rodanya tinggi, bannya tipis seperti pensil dan keras, ban tubular yang dilem langsung ke pelek. Setangnya melengkung jauh ke bawah, memaksa penunggangnya membungkuk. Dan yang paling penting, yang membuat Arka berdiri lebih lama menatapnya: tak ada satu pun tuas rem. Tak di setang, tak di mana pun.
"Sepeda kurirmu juga tanpa rem," kata Hasan, membaca pikirannya. "Tapi di jalan, kamu bisa berhenti mengayuh dan menahan pedal dengan kakimu, melawan putaran, sampai berhenti. Di sini, dalam kecepatan penuh, kamu tidak akan bisa melakukan itu tanpa terlempar. Aturannya cuma satu dan tidak boleh kamu lupakan barang sedetik pun: selama roda berputar, kakimu berputar. Kamu tidak boleh berhenti mengayuh. Tidak boleh meluncur. Tidak boleh diam. Kalau kamu mencoba menghentikan kaki sementara roda masih melaju, sepeda akan melempar tubuhmu ke depan. Mengerti?"
Arka mengangguk, tapi ia tak benar-benar mengerti. Belum.
Hasan menunjukkan cara memasang sepatu—sepatu kaku dengan klip yang mengunci ke pedal, klik, sehingga kaki menyatu dengan sepeda. "Awalnya akan terasa seperti perangkap," kata Hasan. "Memang. Itu gunanya. Tenagamu tidak boleh bocor. Setiap dorongan ke bawah harus penuh, dan kaki yang satunya menarik ke atas. Kamu mengayuh dengan lingkaran, bukan dengan tendangan."
Arka naik. Hasan memegangi sadel sementara ia mengayuh perlahan di bagian datar, di tengah lintasan, jauh dari tikungan. Rasanya aneh—setiap kali ia secara naluri ingin berhenti mengayuh untuk merasakan, pedal terus mendorong kakinya, memaksanya bergerak. Tubuhnya berkali-kali ingin meluncur, dan tubuhnya berkali-kali dikoreksi oleh sepeda dengan sentakan yang membuat jantungnya melonjak. Sepuluh menit ia hanya berputar di garis datar, belajar bahwa di sini ia tak boleh punya satu pun kebiasaan lamanya.
"Sekarang naik sedikit ke tikungan," kata Hasan dari pinggir. "Pelan-pelan. Jangan ke atas. Cukup ke bagian bawah banking, di mana kemiringannya masih landai. Tambah kecepatanmu dulu di lurus, baru masuk tikungan. Kecepatan yang menahanmu di papan. Ingat itu."
Dan di sinilah seluruh insting jalanan Arka berkhianat padanya.
Di jalan, ketika tikungan datang, tubuh berkata: pelankan. Lepaskan tenaga, melambat, baru menikung. Itu yang ia lakukan selama bertahun-tahun, ribuan kali, sampai itu jadi bagian dari tulangnya. Maka ketika dinding kayu miring itu menjulang di hadapannya, tubuhnya melakukan persis apa yang selalu menyelamatkannya di jalan: ia mengendurkan kayuhan.
Kesalahan.
Sepeda kehilangan kecepatan persis di saat ia paling membutuhkannya. Roda depan, alih-alih menempel pada papan, mulai meluncur turun. Tubuh Arka miring ke arah yang salah. Dan ketika ia panik dan mencoba menghentikan kakinya sepenuhnya—naluri terakhir, naluri paling tua—pedal yang berputar menyentaknya ke depan dengan kekuatan brutal. Ban depan menyerempet, kayu menggesek kulit, dan Arka jatuh menyamping, meluncur turun dari banking sambil membawa sepeda di atasnya. Bahu dan pinggulnya menghantam lintasan. Kulit di siku kirinya terkelupas dan langsung perih.
Ia berbaring di kayu beberapa saat, napasnya tertahan, lebih kaget daripada terluka. Lalu marah. Marah pada sepeda, pada dinding, pada tubuhnya sendiri yang tak menurut.
"Bangun," kata Hasan, tanpa terburu-buru menolongnya. "Kalau tulangmu patah, kamu tidak akan bisa marah segagah itu. Berarti kamu baik-baik saja. Bangun."
Arka berdiri, mengusap darah di sikunya, dan melotot ke pria tua itu. "Tadi aku menikung seperti biasa. Seperti yang selalu kulakukan."
"Persis. Itu masalahnya." Hasan menyeret kakinya mendekat, matanya keras. "Segala yang menyelamatkanmu di jalan akan membunuhmu di sini. Di jalan kamu melambat untuk menikung. Di sini kamu menjaga kecepatan, bahkan menambahnya, untuk menikung. Insting jalananmu memberitahu kakimu untuk mengendur tepat ketika papan ini menuntutmu untuk menekan. Dengar baik-baik, anak muda: bakatmu tidak ada gunanya di sini sampai kamu membongkar setiap kebiasaan lamamu sampai ke akarnya. Kamu datang ke sini berpikir kamu sudah bisa bersepeda. Kamu salah. Kamu harus belajar dari nol, dan tubuhmu akan melawanmu di setiap langkah, karena tubuhmu sudah pintar untuk dunia yang lain."
Kata-kata itu menyakitkan justru karena benar. Arka memandang dinding kayu yang baru saja melemparnya. Sebagian dari dirinya ingin melempar sepeda itu dan pergi, kembali ke jalan tempat ia raja. Tapi sebagian lain—bagian yang sama yang membuatnya mengayuh sampai paru-parunya terbakar di lampu merah hanya untuk membuktikan sesuatu—bagian itu menatap tikungan 42 derajat dan merasa dihina. Tikungan itu mengalahkannya. Dan Arka Wijana tak pernah bisa membiarkan dirinya kalah dari benda diam.
"Sekali lagi," katanya, menyeka siku berdarah ke celananya.
Hasan menatapnya lama, dan untuk pertama kali ada sesuatu yang nyaris seperti persetujuan di matanya. "Pelan. Jangan langsung tinggi. Naik dua jari saja dari yang tadi. Jaga kayuhanmu rata. Dan ketika tikungan datang, jangan mengendur—tekan."
Arka naik lagi. Sikunya berdenyut. Tubuhnya gemetar pelan karena adrenalin. Ia mengayuh di garis datar, mengumpulkan kecepatan, dan ketika dinding kayu itu datang, setiap saraf di tubuhnya menjerit untuk melambat. Kali ini, dengan seluruh kehendaknya, ia menolak menjerit itu. Ia menekan pedal lebih kuat tepat ketika ketakutan datang. Roda menggigit papan. Untuk dua detik yang terasa seperti dua menit, ia menempel pada dinding miring, dan velodrom itu tidak melemparnya. Lalu ia turun ke datar lagi, jantung berdebar, hidup.
Dua detik. Itu saja. Tapi Arka turun dari sepeda dengan tangan gemetar dan menyadari bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang lebih besar dari adu lampu merah mana pun. Ada seluruh dunia tersembunyi di balik dinding kayu ini, dunia yang punya aturannya sendiri, dan ia tak tahu apa-apa tentangnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ketidaktahuannya tidak membuatnya marah. Ia membuatnya lapar.