Hasan menemukannya tiga hari kemudian, di depan kantor jasa kurir tempat Arka mangkal, sedang mengelap rantai sepedanya dengan kain bekas. Pria tua itu tidak basa-basi. Ia hanya berdiri di depan Arka, menyeret kaki kirinya, dan berkata, "Kamu yang menyalip tiga anak klub di Riau Sabtu lalu."
Arka mendongak, waspada seperti kucing jalanan. "Siapa nanya?"
"Hasan. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Tidak akan lama. Kalau membosankan, kamu boleh pulang dan lupakan aku."
Arka hampir menolak. Pengalamannya dengan orang asing yang menawarkan sesuatu selalu berakhir buruk. Tapi ada sesuatu di cara pria itu berdiri—tegak, tak meminta, tak merayu—yang membuat Arka penasaran melebihi curiganya. Lagi pula hari itu sepi order. "Naik apa?" tanyanya.
"Sepedamu. Aku ikut motor. Aku ingin lihat kamu mengayuh, bukan duduk diam."
Mereka menyusuri jalan ke pinggiran kota, ke kawasan yang dulu pernah jadi pusat olahraga dan kini setengah ditinggalkan. Di ujung sebuah lapangan parkir yang retak-retak, di balik papan reklame yang catnya pudar, berdirilah bangunan itu. Bentuknya seperti telur raksasa yang separuh terbenam tanah, atapnya melengkung, dindingnya kelabu bernoda air hujan bertahun-tahun. Di atas pintunya tergantung papan nama yang hurufnya sudah copot sebagian: VELODROM RAJAWALI.
Hasan membuka gembok dengan kunci yang menggantung di lehernya. Pintu besi berderit. Di dalam, gelap dan dingin dan berbau kayu tua bercampur debu. Hasan menyalakan sakelar dan satu per satu lampu sorot menyala dengan dengung malas, sebagian mati, sebagian berkedip. Lalu Arka melihatnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia kecil, mulutnya terbuka tanpa kata.
Lintasan itu melingkar di hadapannya, terbuat dari ribuan bilah kayu yang dipasang rapat, mengilap di bagian yang sering dilalui dan kusam di sisanya. Lurusnya datar, tapi tikungannya—tikungannya naik nyaris tegak, miring sampai membuat Arka pusing hanya dengan memandangnya. Dinding kayu yang berdiri hampir vertikal, dan ia tak bisa membayangkan bagaimana mungkin sepeda menempel di sana tanpa terjatuh.
"Empat puluh dua derajat," kata Hasan, suaranya bergema di ruang kosong. "Tikungannya. Orang yang pertama kali melihat selalu bertanya hal yang sama: kenapa orang di atas situ tidak jatuh. Jawabannya kecepatan. Selama kamu cukup cepat, gaya yang menarikmu ke bawah dikalahkan oleh gaya yang menekanmu ke papan. Begitu kamu melambat, fisika berhenti memihakmu, dan kamu jadi sekarung kentang yang meluncur ke pagar."
Arka berjalan ke tepi lintasan dan menyentuh kayunya. Halus, dingin, hidup di bawah jarinya. "Tempat ini..." ia mencari kata. "Bagus. Tapi kosong. Kenapa kosong?"
Hasan duduk di bangku kayu pertama, mengistirahatkan kaki kirinya. "Karena sekarat. Velodrom satu-satunya di kota ini, mungkin salah satu dari segelintir di seluruh negeri. Sponsor terakhir kabur dua tahun lalu. Atlet binaan habis—pindah ke kota lain, pensiun, atau menyerah. Aku yang menjaga, tapi aku tak bisa menjaga gedung dengan kaki seperti ini dan rekening yang kosong." Ia menatap Arka. "Tanahnya sudah diincar pengembang. Mereka ingin membongkar semua ini dan membangun mal. Surat-suratnya sebagian besar sudah jalan. Jujur saja padamu, anak muda: kemungkinan besar tempat ini memang akan dibongkar. Aku tidak akan membohongimu soal itu."
Arka mengernyit. "Lalu kenapa kamu bawa aku ke sini? Buat apa nunjukin barang yang mau dirobohin?"
Hasan diam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati, seperti orang yang sudah lama memikirkan kalimat ini. "Gedung ini batu dan kayu. Kalau dirobohkan, ya sudah. Tapi yang lebih penting dari gedung adalah lisensinya—status pembinaan atlet kota ini. Ada program dari dinas, dana pembinaan olahraga daerah. Dana itu hanya cair, dan jalur balap sepeda lintasan kota ini hanya tetap diakui secara resmi, kalau setiap tahun ada minimal satu atlet binaan dari sini yang lolos seleksi nasional. Satu nama. Itu saja. Kalau dua tahun berturut-turut nihil, statusnya dicabut. Jalur ini dianggap mati. Dan kalau jalurnya mati, tak ada lagi alasan apa pun untuk mempertahankannya—bukan cuma gedungnya, tapi seluruh keberadaan balap lintasan di kota ini. Hilang. Tidak akan ada anak lain sesudahmu yang bahkan tahu olahraga ini ada."
"Aku tahun lalu nihil," lanjut Hasan, suaranya merendah. "Tahun ini, kalau aku tak mengirim satu nama yang lolos, selesai sudah. Bukan soal menyelamatkan tembok ini. Soal menyelamatkan supaya garis ini tidak putus. Supaya masih ada jalan untuk anak macam kamu, sepuluh tahun lagi."
Arka menyandarkan punggungnya ke pagar lintasan. Ia tak sepenuhnya paham urusan dana dan dinas dan lisensi. Tapi ia paham satu hal, dan hal itu menusuknya tepat di bawah tulang dada: garis yang putus. Tempat yang hilang sampai-sampai orang tak tahu pernah ada. Ia tahu rasanya. Ia hidup di tempat seperti itu.
"Dan kamu pikir," Arka berkata pelan, "aku bisa jadi nama itu."
"Aku tidak tahu," jawab Hasan, dan kejujurannya mengejutkan Arka. "Itulah yang ingin kucari tahu. Kakimu adalah yang terbaik yang kulihat dalam sepuluh tahun. Tapi kaki saja tidak cukup di papan ini. Di jalan, kamu raja, karena di jalan kekuatan kasar menang. Di sini, kekuatan kasar membunuhmu. Di sini menang ditentukan oleh hal-hal yang belum kamu punya: kesabaran, taktik, kemampuan membaca lawan, kemampuan menahan diri ketika seluruh tubuhmu menjerit untuk melepas. Seleksi delapan bulan lagi. Aku tidak menjanjikan apa-apa. Aku cuma menawarkan satu kesempatan untuk mencoba, dan aku tak punya siapa-siapa lagi untuk ditawari."
Arka memandang lintasan kayu itu untuk waktu yang lama. Lampu sorot berkedip. Debu menari di cahayanya. Ia membayangkan dirinya menempel di dinding miring 42 derajat, dan perutnya melilit antara takut dan rindu yang tak ia mengerti.
"Aku tidak janji," akhirnya ia berkata. "Aku akan coba sekali. Kalau bodoh, aku pergi."
Hasan tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, seperti orang yang baru saja meletakkan taruhan terakhirnya di atas meja. "Besok pagi. Jam enam. Dan tinggalkan sepeda karatmu di rumah. Sepeda ini akan membunuhmu di sini."