Bab 2 — Selamat Tinggal, New York
Koper itu sudah penuh sesak dengan gaun, blazer, celana satin, juga beberapa busana kasual. Satu tas kulit terbuka di lantai, menunggu diisi dengan aksesori berkilauan yang biasa menjadi pelengkap dunia panggung. Jemari Roseta gemetar saat memasukkan satu per satu benda, lalu menghantam paksa agar muat.
“Memang b******k!” geramnya, suara serak pecah oleh amarah yang ditahan.
Ponsel di ranjang berdering nyaring, berkali-kali. Ia membiarkan benda itu bernyanyi sumbang. Di televisi, layar infotaiment menyorot wajahnya.
Model cantik, Roseta Belingham, meninggalkan pesta dansa sebelum acara usai.
Seakan ditampar, Roseta meraih remote dan mematikan layar itu. Ia tidak ingin mendengar apa pun. Tidak dari televisi, tidak dari dunia luar.
“Nona Roseta?” Suara pelayan terdengar di balik pintu. “Ada telepon untuk Anda.”
“Jangan dijawab!” bentaknya, hampir berteriak.
Ia duduk di tepi ranjang, membuka ponsel. Layar penuh dengan panggilan tak terjawab. Pesan demi pesan berdatangan:
Jeff: Di mana kamu, Ro? Pulang tanpa kabar?
Laura: Aku balik ke pesta. Kamu dicari banyak orang.
Carol: Ya Tuhan, Roseta. Kamu bikin panik. Balas pesanku!
Logan: Sayang, kenapa tidak kembali ke hotel? Kamu ke mana?
Jari Roseta mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Matanya panas, napasnya tersengal.
“Jangan buru-buru. Aku tidak bisa menahannya, Sayang… ouh!”
Suara itu kembali menggema di kepalanya. Desah, raungan, tubuh seorang perempuan asing yang menunggangi Logan di ranjang mereka. Perutnya melilit, seolah isi perutnya berbalik arah.
“Tiga tahun hubungan kita… bukan untuk permainan, Logan.” Air matanya jatuh begitu saja.
Brengsek!
Roseta menghantam ponsel ke lantai. Plastik retak, layar pecah. Satu kartu memori kecil terlempar keluar. Ia menunduk, memungutnya dengan tangan bergetar. Simbol kecil dari kehidupan glamornya. Simbol yang kini ingin ia tinggalkan.
Ia menyeret koper besar itu menuju pintu. “Selamat tinggal, New York.”
---
Di tempat lain, pintu rumah Carol digedor kasar.
“Logan?!” Carol terperanjat melihat pria itu nyaris mengamuk di depan pintunya. “Astaga, kau bikin ribut saja!”
“Di mana Roseta?” sorot mata Logan penuh kegelisahan.
“Bukankah dia bersamamu? Semalam dia pulang duluan.”
Logan mendesis, frustrasi. “Dia tidak kembali. Nomornya mati. Pesanku tidak dibalas.”
Carol menatap curiga. Ada sesuatu di balik kepanikan Logan yang terasa janggal. “Apa kamu melakukan sesuatu padanya?”
“Maksudmu apa?!” Logan menyipitkan mata, nadanya meninggi.
Carol melipat tangan di d**a, jantungnya berdegup keras. “Entahlah… aku hanya merasa ada yang tidak beres.”
“Sudahlah, katakan di mana dia!” Logan mendesak.
Carol menutup pintu tanpa menjawab. Degup jantungnya makin liar. Ro, di mana kamu sebenarnya?
Tak lama, ia menelpon Jeff dan Laura.
"Roseta tidak menghubungimu, Jeff?" Tanya Carol.
Jeff menggeleng seraya gigit bibir.
"Kalian sunggu tidak tahu kemana dia pergi?" tanya Laura. "Maksudku semalam dia dipesta bersama kalian."
"Memang, tapi dia tiba-tiba menghilang," kata Jeff. Ada kegundahan di wajahnya.
"Oh, Roseta, di mana kamu? Apa terjadi sesuatu?" Carol bergumam sendiri, betpikir keras berharap bisa menemukan petunjuk.
Mereka bertiga berdiskusi dengan panik, menyusun rencana. “Kita datangi rumahnya sore ini. Kalau dia di sana, kita bisa memastikan keadaannya.”
---
Pesawat merendah, getarannya terasa sampai ke d**a Roseta. Ia menggenggam sandaran kursi, menahan debar jantung yang campur aduk. Ketakutan, lega, juga sedikit harapan.
Satu per satu penumpang turun. Roseta menyeret koper besarnya, tumit sepatunya mengetuk lantai bandara dengan ritme tergesa.
Bali.
Ia berhenti sejenak di luar bandara. Angin laut menyambut, asin dan lembap. Aroma bunga kamboja bercampur dengan asap kendaraan, menyalakan sensasi baru di inderanya. Roseta merentangkan tangan, menatap langit jingga yang perlahan tenggelam di barat.
“Mungkin… di sini aku bisa melupakan segalanya.”
“Nona Roseta?” Sebuah suara lembut menyapa.
Ia menoleh. Seorang pria sederhana dengan senyum ramah berdiri sambil menunduk sopan. “Saya Parjo, yang disuruh menjemput Nona.”
Roseta menatap mobil kijang tua yang diparkir tak jauh dari sana. Ia sempat ragu, tapi kemudian mengangguk.
“Bantu masukkan barang-barang saya,” ucapnya, suara terdengar tegas, meski hatinya bergetar.
Sambil berjalan menuju mobil itu, Roseta menoleh sekilas pada langit Bali. Ada harapan samar di balik luka hatinya. Perjalanan barunya baru saja dimulai.
Beberapa mobil berjejer rapi di parkiran. Parjo turun ke sisi mobil, membukakan pintu untuk Roseta.
Roseta melangkah turun dengan hati-hati. Rambutnya tersibak angin sore, dan ia berhenti sejenak untuk menghirup aroma asin yang dibawa laut. Udara terasa berbeda—lebih murni, lebih menenangkan.
Dari kejauhan, suara ombak bergemuruh lembut. Laut lepas seakan berbisik, memanggilnya untuk datang dan melupakan segalanya.
"Mari saya antar, Nona." Parjo menenteng tas Roseta, lalu menyeret koper besar itu melewati jalan setapak dari batu alam yang dikelilingi pepohonan tropis.
Roseta mengedarkan pandangan, matanya menangkap setiap detail bangunan di depannya.
Roseta mengedarkan pandangan, memperhatikan deretan bangunan kayu dengan atap rumbia yang berbaris rapi di sepanjang jalan setapak berbatu. Masing-masing bungalow tampak sederhana, dipisahkan pagar bambu rendah dan tanaman tropis, sehingga tetap memberi kesan pribadi meski letaknya berdampingan.
Teras mungil terbentang di depan pintu, dengan dua kursi kayu dan meja bulat dari anyaman bambu—cukup sederhana, tapi hangat, seolah mengundang tamu untuk duduk di sana menikmati kopi atau sekadar menatap laut.
Roseta menyentuh pegangan kayu pada tangga kecil menuju teras. Ada ukiran halus khas Bali di pintunya. Beberapa bunga kamboja tergeletak di sana jatuh dari pohonnya. Ia tersenyum tipis, seakan tempat ini memang menunggunya sejak lama.
Begitu pintu dibuka, aroma kayu bercampur wangi bunga tropis menyambutnya. Ruangan dalam tidak begitu luas, namun terasa lapang karena jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke pantai. Tirai putih tipis berkibar ditiup angin, menambah nuansa damai.
Sebuah ranjang besar berkelambu berdiri di tengah ruangan, sprei putihnya tampak bersih dan mengundang. Di sampingnya ada meja kayu dengan lampu kecil, sementara di sisi lain terdapat lemari dan meja rias sederhana.
Roseta berjalan pelan, jemarinya menyusuri permukaan meja kayu, lalu berhenti di dekat jendela. Dari sana, laut biru terbentang tanpa batas, matahari yang mulai condong memantulkan cahaya keemasan di permukaannya.
Hatinya berdesir—ini bukan hotel mewah, bukan pesta glamor, bukan hiruk pikuk paparazi. Hanya laut, angin, dan dirinya sendiri.
"Nona bisa istirahat di sini," kata Parjo seraya meletakkan koper di sudut kamar. Ia mengulurkan sebuah kunci dan menunjuk ke arah telepon kayu di atas meja kecil. "Kalau butuh sesuatu, nona bisa panggil saya. Rumah saya tidak jauh dari sini."
Roseta menerima kunci itu, jemarinya sedikit gemetar. Ia menatap sekali lagi pada pemandangan luar jendela. "Terima kasih, Parjo."
Parjo mengangguk hormat, lalu meninggalkannya sendiri di bungalow itu.