Siang itu, sinar mentari menembus tirai tipis jendela kayu, membelai wajah Roseta yang masih setengah terlelap. Untungnya, mimpi buruk semalam tidak datang. Ia membuka mata perlahan, menghirup aroma asin laut yang masuk bersama angin pagi.
Rasa lelah, membuatnya terbangun hingga siang.
Dengan malas, ia menyibak selimut, menurunkan kaki jenjangnya ke lantai kayu yang dingin. Jubah katun tipis yang tergantung di kursi ia sambar, lalu melangkah menuju pintu kayu besar yang langsung menghadap laut. Begitu pintu itu terbuka lebar, cahaya dan angin berdesir masuk, membelai rambut cokelatnya yang berantakan.
Ia berdiri di ambang, kedua tangannya terentang sambil menguap panjang. Jubahnya melayang, menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam tipis. Senyum getir terukir samar di wajahnya.
"Persetan dengan mereka," gumamnya, seolah berusaha meyakinkan diri sendiri.
Roseta menuruni tangga kecil menuju teras, lalu jongkok di tepi kolam renang mungil yang menjadi bagian dari bungalow itu. Jemarinya menyentuh permukaan air, menciptakan riak-riak kecil. Pandangannya jauh, menembus cakrawala laut biru.
"Kita bahkan sudah bicara serius, Logan…" suaranya tercekat, seolah ditelan angin. "Aku sudah memberimu segalanya. Lalu kenapa kau masih bisa mengkhianati?"
Hatinya terasa sakit kembali, namun ia buru-buru menarik napas panjang, menahan air mata.
Ketukan pelan di pintu depan membuatnya menoleh. Roseta bangkit, menarik erat jubahnya, lalu berjalan kembali ke dalam.
"Ya, sebentar," sahutnya.
Di ambang pintu berdiri Parjo, pria tua enam puluh tahun dengan wajah ramah. Tangannya membawa nampan berisi sarapan lengkap.
"Sarapan untuk Nona," ucapnya sopan. "Kalau ada yang kurang cocok, Nona bisa bilang saya."
Roseta menerima nampan itu dengan senyum tipis. "Terima kasih, Pak."
Parjo sempat menoleh ke dalam bungalow sebelum kembali berkata, "Kalau butuh sesuatu, rumah saya di sisi penginapan. Ada telepon juga di meja. Nona tinggal panggil."
Roseta mengangguk, tapi sebelum Parjo benar-benar pergi, ia bersuara lagi.
"Eh, Pak… tunggu. Saya ingin membeli ponsel. Bisa bantu?"
Parjo mengangguk cepat. "Tentu. Nanti setelah Nona siap, saya antar ke toko di kota."
Setelah pria tua itu pergi, Roseta menutup pintu. Ia meletakkan nampan di meja, lalu mendesah panjang. “Hari baru. Hidup baru.”
Ia menyantap sarapan dengan cepat, lalu bersiap. Koper besar ia buka, pakaian demi pakaian ia keluarkan. Gaun-gaun pesta yang berkilauan kini tampak asing. Ia mendengus.
"Aku jarang ke pantai. Pakaian mana yang cocok? Ah, sialan!"
Dalam hitungan menit, kamar sudah berantakan. Roseta akhirnya menarik satu kaos longgar dan celana katun pendek. Rambut cokelatnya ia ikat asal ke atas. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya. Pucat, lelah, tapi matanya masih menyimpan api.
"Pelarian ini tidak akan sia-sia," katanya lirih. "Aku kaya. Aku bebas."
Dengan tas kecil di bahu, Roseta keluar dari bungalow. Jalan setapak berbatu membawanya melewati deretan penginapan lain. Angin laut membelai wajahnya, tapi langkahnya terhenti ketika suara keras menarik perhatiannya.
"Sialan! Kamu selingkuh, Tom!"
Roseta menoleh. Di halaman bungalow sebelah, sepasang kekasih bertengkar. Wanita berbaju ketat menunjuk-nunjuk seorang pria, wajahnya merah padam. Roseta hanya bisa menangkap satu kata yang ia pahami: selingkuh. Kata itu menghantam telinganya, membuat dadanya kembali sesak.
Ia mempercepat langkah, mencoba menghindar dari bayangan masa lalunya sendiri. Jalanan membelok, dan di ujung sana terlihat satu rumah kayu dengan pagar bata merah. Halaman lebih luas, ada pohon kelapa yang menjulang. Roseta ragu sejenak, lalu melangkah mendekat.
"Permisi?" panggilnya pelan.
Tak ada jawaban. Ia baru hendak mengetuk pagar ketika tiba-tiba—
Byuur!
Semburan air deras menghantam tubuhnya dari arah samping. Roseta terlonjak, menjerit kaget. Pakaiannya basah kuyup, air menetes dari wajah dan rambutnya.
"Oh, s**t!" Roseta mengusap wajahnya cepat-cepat, matanya menyipit mencari sumbernya.
Seorang pria dengan tubuh atletis dan tato bunga di lengan berlari menghampiri. Wajahnya canggung, tapi senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Sorry! Aku tidak sengaja. Sungguh, aku minta maaf."
Roseta memandangnya tajam. "Tidak bisakah kau hati-hati? Pakaianku basah semua!"
Pria itu—Harris—mengangkat kedua tangan. "Aku bilang kan tidak sengaja! Lagi pula, cuma air."
Roseta mendengus. "Cuma air? Aku tidak punya waktu untuk main-main."
Sebuah suara lain menyusul, dalam dan berat, datang dari belakang pagar.
"Ada apa ribut-ribut?"
Roseta menoleh—dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata gelap milik seorang pria jangkung. Sorotnya tajam, nyaris mengintimidasi, tapi ada sesuatu yang membuat napas Roseta tercekat sesaat.
"Air selangku menyiram dia," jelas Harris buru-buru.
Adrian—nama pria jangkung itu—hanya menatap Roseta singkat, lalu bahunya terangkat enteng. "Cuma air, tidak perlu dibesar-besarkan."
Roseta menegang. Ia menatapnya dengan sinis. "Kau pikir mudah berkata begitu? Lihat aku, basah kuyup!"
Udara sempat menegang—hingga tiba-tiba suara familiar meledak penuh semangat.
"Ro?! Astaga, ini sungguh kamu?!"
Roseta membeku. Perlahan ia menoleh, matanya melebar melihat sosok tambun yang berlari kecil dari dalam halaman.
"Bombi!" serunya, sebelum akhirnya melompat ke pelukan sahabat lamanya.
Pelukan itu erat, penuh kerinduan. Bombi sampai terisak kecil, mengusap ujung matanya.
"Aku tak percaya kamu di sini. Kenapa tidak bilang mau datang?"
Roseta terkekeh, air matanya hampir jatuh. "Aku memang berencana beli ponsel dulu untuk menghubungimu. Tapi ternyata takdir mempertemukan kita lebih cepat."
Dua pria di samping Bombi—Adrian dan Harris—saling pandang, sementara Roseta dan Bombi masih larut dalam kehangatan reuni. Sesaat, dunia seakan hanya milik mereka berdua.
Namun kemudian, suara dehaman sengaja terdengar. Adrian menatap tajam, Harris menyeringai kecil.
"Ro sayang, kenalkan," ujar Bombi sambil menggenggam tangan Roseta. "Ini teman-temanku, Adrian dan Harris."
Roseta hanya menatap sekilas, lalu tersenyum tipis. Harris mengulurkan tangan, tapi Roseta mengabaikannya begitu saja. Harris meringis, menarik kembali tangannya sambil berbisik ke Adrian,
"Sombong sekali dia."
"Siapa itu?" bisik seorang wanita dari balik tirai. Rambutnya yang panjang bergelombang ikut terayun ketika ia menarik kain tipis itu sedikit lebih lebar.
Dari jendela penginapan yang lebih besar—bersebelahan dengan rumah Pak Parjo—dua wanita tampak serius memperhatikan kedatangan Roseta.
"Dia kenal Bombi," sambung wanita lain dengan nada heran. Jemarinya mengetuk-ngetuk bingkai jendela, seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
"Sepertinya turis," sahut yang pertama lagi, kali ini dengan senyum penuh arti.
Bombi sudah menarik lengan Roseta. "Ikut aku ke dalam," katanya, seolah tak ingin orang lain lebih dulu mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Roseta.
Adrian dan Harris hanya saling pandang, lalu mengangkat bahu. Dengan langkah santai, keduanya mengikuti dari belakang, jelas ingin tahu siapa sebenarnya wanita asing yang tiba-tiba muncul.
Roseta menoleh sekilas ke arah mereka, lalu kembali menatap Bombi. "Kamu sedang berlibur? Atau ini rumahmu?" tanyanya sambil menyibakkan rambut yang masih lembap.
Bombi meringis, agak canggung. "Aku hanya berlibur. Ini milik Adrian."
Mendengar itu, Roseta spontan menoleh. Pandangannya jatuh pada sosok jangkung di samping Harris. Adrian sudah siap dengan senyum tipis penuh percaya diri, seolah menunggu pujian atau kekaguman. Namun Roseta hanya membulatkan mulut sebentar, lalu mengalihkan wajah tanpa komentar.
Senyum Adrian sedikit kaku. Harris, yang melihat itu, menahan tawa.
"Ayo masuk. Kukenalkan dengan temanku yang lain," ajak Bombi cepat-cepat, berusaha mengalihkan suasana.
Begitu pintu terbuka, aroma kayu dan sedikit wangi kopi menyeruak dari dalam. Ruang tamu luas dengan kursi rotan dan bantal-bantal bercorak tropis menambah kesan santai.
Dua wanita yang tadi mengintip segera muncul dari balik tirai. Mereka tersenyum manis, tapi tatapan matanya penuh rasa ingin tahu.
"Kenalin, ini Sarah, dan ini Via," kata Bombi.
Roseta mengulurkan tangan, menjabat satu per satu dengan senyum sopan. "Roseta."
"Siapa dia, Bom? Pacar luar negrimu?" goda Sarah sambil menyipitkan mata. Nada suaranya ringan, tapi jelas penuh sindiran.
Bombi terkekeh, lalu dengan nada bercanda menjawab, "Ya, dia pacarku."
Roseta ikut tertawa kecil, menanggapi permainan itu. Namun tanpa sadar matanya melirik ke samping—dan bertemu dengan pandangan Adrian. Tatapannya datar, dingin, seolah menilai dari atas ke bawah. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman yang timbul di d**a Roseta.
"Oh iya," ucap Bombi, menyadari pakaian Roseta masih basah kuyup. "Sarah, pinjamkan bajumu. Baju Roseta basah."
Sarah spontan berdiri, siap menuju kamar. Namun Roseta langsung menggeleng. "Tidak usah. Aku akan kembali ke penginapanku. Tidak jauh dari sini."
"Tapi—" Bombi hendak menahan.
Roseta tersenyum tipis, menepuk tangannya. "Tidak apa-apa, Bom. Kita bertemu lagi nanti."
Roseta melambaikan tangan sebentar sebelum melangkah keluar. Udara laut yang lembap kembali menyambutnya, membuat tubuhnya merinding halus. Ia merapatkan kaos tipis yang melekat di tubuh, lalu mempercepat langkah menuju bungalownya.
Namun entah kenapa, perasaan tak enak menggelitik dadanya. Seakan ada yang memperhatikan dari belakang. Ia sempat menoleh—Adrian, Harris, dan Bombi masih di ruang tamu. Sarah sibuk berbicara dengan Via.
Tapi, saat matanya tak sengaja naik ke jendela lantai atas, Roseta mendapati tirai bergerak cepat, seperti seseorang baru saja menutupnya.