Kamera berkilat-kilat, cahaya putih menyambar wajahnya dari segala arah. Roseta Belingham melangkah turun dari mobil, gaun merah darah menjuntai anggun dengan belahan setinggi paha. Setiap kilasan cahaya seakan ingin mengabadikan kesempurnaannya—meski ia tahu, di balik senyum yang dipamerkan, hatinya menyimpan rahasia yang rapuh.
Tidak ada red carpet, tidak ada sambutan megah. Hanya barisan wartawan yang berdesakan, sorakan mereka saling bertabrakan, lensa kamera tak henti memburu wajahnya.
“Roseta!”
Suara nyaring dari arah pintu masuk membuatnya menoleh. Carol, sahabat sekaligus asistennya, berlari kecil, segera menarik lengannya.
“Gila!” sembur Carol, nyaris terengah. “Di mana Logan? Kenapa dia membiarkanmu datang sendiri?”
Roseta hanya meringis samar. “Kamu tahu dia. Acara seperti ini selalu membuatnya bosan.”
Mereka berjalan menembus lorong temaram, melewati tatapan kagum tamu lain. Sepatu tumit Roseta beradu dengan lantai marmer, dentingnya bergaung pelan, kontras dengan riuh di luar.
“Mana bisa begitu, Ro. Kamu seorang bintang. Acara seperti ini bagian dari hidupmu.”
Roseta menarik napas panjang. Senyumnya tetap terjaga, tapi hatinya terasa sunyi. Bahkan, ketika pintu kaca besar terbuka, memperlihatkan ballroom berlampu kristal, penuh tawa, percakapan, dan kilau gaun mewah—kosong itu tetap tak pergi.
“Roseta!” Sapa Laura, temannya, dengan tatapan penuh kagum. “Kamu sendirian?”
Roseta mengangguk sopan.
“Ayo, duduk di sana.” Carol menunjuk meja di ujung. “Yang lain sudah menunggu.”
Roseta menyapu pandangan. Hampir delapan puluh persen tamu datang bergandengan dengan pasangan. Ini memang pesta dansa tahunan yang diselenggarakan manajemen hiburan—ajang unjuk eksistensi, juga perayaan penuh kilau.
Namun, di balik kilau lampu dan tawa, suara lain bergaung di benaknya.
“Kita bisa melakukannya lagi, Sayang.”
Ingatan itu menyeretnya kembali ke kamar hotel.
Logan berbaring di atas ranjang, wajahnya mendesah manja, tubuhnya telanjang tak ditutupi apa pun.
“Tidak, Logan. Aku akan terlambat,” suara Roseta sendiri terngiang, cepat dan gugup, ketika ia bergegas mengenakan perhiasannya.
“Oh, come on! Kamu tidak mungkin ninggalin aku kayak gini.” Logan merajuk seperti anak kecil, tangannya menepuk kasur.
Roseta sempat menunduk, memasang sepatu sambil bergumam, “Aku ke kota ini untuk acara penting. Kita bisa bersenang-senang besok.”
Wajah Logan menegang, matanya penuh ketidakpuasan.
“Hey! Kenapa bengong?” Suara Carol memutus lamunannya.
Roseta tersentak kecil, buru-buru membuang bayangan Logan dari kepalanya.
“Kamu kepikiran Logan?” tanya Carol, melirik penasaran.
Roseta mengangguk. “Dia merengek tak mau ditinggal.”
Carol terkikik. “Kalian bisa puas-puasin nanti malam.”
Roseta mendengus, pipinya memerah, dan mata julingnya membuat Carol makin cekikikan.
“Apa sih yang kalian bisikin?” Jeff, make-up artist kemayu kesayangan mereka, ikut menyela. Ia menatap curiga, lalu melempar senyum nakal.
Roseta hanya menggeleng, sementara Carol pura-pura menutup mulut, menahan tawa.
Tiba-tiba, Laura bangkit. Kursinya berderit, mengundang tatapan mereka. “Oh guys, maaf… sepertinya aku harus pergi sekarang.”
Mereka bertiga sontak melongo.
“Acara baru saja dimulai, Laura. Mau ke mana?” tanya Carol, bingung.
Di panggung, MC baru saja membuka acara. Suara musik lembut menyatu dengan gemerincing gelas anggur. Tapi Laura tampak berbeda—gelisah, tangannya meremas clutch hitam seolah menyembunyikan sesuatu.
“Aku… ada urusan mendadak. Aku kembali lagi nanti.”
Mata Roseta menangkap lirikan cepat Laura ke arah pintu keluar. Ada keresahan yang tak sempat ia sembunyikan.
Belum sempat mereka bertanya lebih lanjut, Laura sudah melangkah cepat, gaunnya berkibar, menghilang di balik pintu kaca.
Menyisakan Roseta, Carol, dan Jeff saling pandang, dihantui rasa penasaran.
“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Roseta, sedikit khawatir.
Carol mengangkat bahu. “Tapi wajahnya terlihat biasa saja.”
“Aaa, aku bahkan sempat lihat ada kilas senyum di bibirnya,” Jeff menambahkan dengan mata genit.
“Buang pikiranmu, Jeff!” sembur Carol sambil menepuk lengannya.
Acara terus berlangsung. Lampu sorot menari di langit-langit, suara pembawa acara mengisi ruangan, membacakan nominasi demi nominasi dari kertas panduan. Hingga akhirnya, menit ke tiga puluh, kategori paling bergengsi diumumkan—Perempuan Paling Berpengaruh.
Suasana menegang. Tangan-tangan terlipat, tatapan penuh harap.
“Roseta Belingham.”
Nama itu disebut. Riuh tepuk tangan meledak. Roseta berdiri, membungkuk dengan elegan, lalu melangkah naik ke panggung.
Dari atas sana, ia melihat lautan wajah-wajah yang tersenyum padanya, gaun-gaun mewah berkilauan, kilau perhiasan yang memantulkan cahaya lampu gantung. Semua tampak sempurna.
Matanya berkaca-kaca. Ia segera berdehem, berusaha menahan emosi.
“Selamat malam,” suaranya bergetar halus. “Penghargaan ini bukan hanya milik saya, tapi milik semua perempuan yang berani bermimpi, yang tidak pernah menyerah meski dunia berkata tidak. Saya… terhormat bisa berdiri di sini. Terima kasih untuk dukungan kalian, dan untuk cinta yang selalu membuat saya kuat.”
Sorak dan tepuk tangan kembali menggema. Semua mata bangga padanya. Namun, di balik cahaya itu, Roseta hanya merasakan kehampaan.
Oh, andai Logan ada di sini… ia akan melihat betapa mengagumkannya aku malam ini.
Suara MC kembali menggema: “Sungguh luar biasa, Roseta Belingham. Satu sosok yang layak menjadi kebanggaan.”
Roseta hanya tersenyum tipis. Ini bukan kali pertama Logan tak hadir di momen penting. Bisik-bisik kerap terdengar, tapi selalu terbantahkan oleh foto-foto kemesraan mereka yang diabadikan paparazi.
“Oh, sayang, aku bangga padamu.” Jeff memeluknya hangat saat ia kembali ke meja.
Roseta tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Haru mendalam itu bercampur dengan kecewa yang tak tertahankan.
Ketika sesi dansa dimulai, Roseta tetap duduk di mejanya. Ia beberapa kali mencoba menelpon Logan, namun hanya mendapat nada tunggu.
Apa dia keluar? Atau tidur?
Hatinya berdesir gelisah. Musik waltz mengalun, pasangan-pasangan menari indah di tengah ballroom, tapi bagi Roseta, semuanya terasa melambat.
“Sial… perasaanku tidak nyaman.”
Ia menyambar clutch mungilnya, lalu bangkit. Gaun merahnya menyapu lantai ketika ia melangkah cepat ke luar ruangan. Carol dan Jeff tak menyadari kepergiannya, sibuk larut dalam tarian bersama yang lain.
Sekali lagi, ia mencoba menelpon Logan. Kali ini, panggilannya terangkat.
“Ouh… pelan sedikit, Sayang.”
Roseta terhenti. Matanya membulat. Itu jelas suara wanita.
Ia menatap layar ponselnya—tak salah nomor.
“Berbaliklah. Kulakukan dari belakang.”
Suara itu… desahan itu… menusuk d**a Roseta bagai belati. Tangannya gemetar, jantungnya berdegup kencang.
Ia langsung memutus sambungan, lalu mempercepat langkah. Sesak napasnya bersaing dengan suara mesin mobil yang melaju membelah gemerlap kota.
“b******k… apa yang kau lakukan, Logan?!”
Mobilnya berhenti di depan hotel. Roseta membanting pintu, berlari masuk. Sepatu haknya beradu keras dengan lantai marmer lorong yang sepi.
Tangannya gemetar ketika hendak menggenggam gagang pintu kamar.
"Percepat lagi!"
Suara itu menggema di ruangan. Tubuh tak berkain, bergerak naik turun seirama dengan perintah tuan yang berbaring di bawahnya.
Waktu terasa berhenti. Tangan itu menarik pintu kembali, tubuh Roseta merosot jatuh ke lantai.