Chapter 16 :
Serpentine Monster (3)
******
SETELAH tes menulis, mereka pun dites membaca. Tes itu berlangsung selama dua jam… hingga akhirnya mereka sampai di tes terakhir, yakni tes membaca buku klasik. Berbeda dengan tulisan Seiju biasa, buku klasik biasanya lebih sulit dibaca. Sesi tes ini juga akan mencakup penulisan dan pemahaman buku klasik.
Saat para dayang mengumpulkan lembaran-lembaran tes sebelumnya, Kepala Dayang pun kembali berdiri di depan.
“Terima kasih karena sudah mengikuti tes sebelumnya dengan baik. Sekarang, mari kita mulai tes terakhir untuk hari ini, yakni tes membaca, menulis, dan pemahaman buku klasik Seiju.”
Semua peserta langsung mendengarkan ucapan sang Kepala Dayang dengan saksama.
“Pertama, kami akan membacakan sebuah naskah klasik. Tugas kalian adalah menuliskan kembali apa yang kalian dengar dan memberikan pendapat kalian mengenai esensi dari teks tersebut. Nanti, kalian juga akan dites membaca salah satu buku klasik."
Kikyo meneguk ludah. Tangannya mulai berkeringat. Di sampingnya, Seena tampak pucat, seolah-olah baru saja melihat hantu.
Kepala Dayang kemudian membuka sebuah gulungan tua yang tampak sangat sakral. Ia baru saja mau membaca, tetapi tiba-tiba…
…pintu ganda raksasa di belakang sana mulai terbuka.
Suara terbukanya pintu itu terdengar kencang, membuat semua orang spontan menoleh ke belakang.
Setelah itu, terdengarlah sebuah pemberitahuan lantang.
“Putri Jia telah hadir!”
Diiringi oleh barisan dayang senior, sesosok perempuan muda mulai melangkah masuk.
Semua orang di aula langsung menahan napas. Banyak peserta yang melebarkan mata dan menutup mulut mereka karena kagum sekaligus tak menyangka.
Kikyo mengedipkan matanya berkali-kali. Dia seperti terpaku di tempat.
Rambut merah muda.
Pakaiannya dominan berwarna cerah.
Diiringi dayang-dayang.
Putri Jia…
Ya, Kikyo ingat! Nyonya Yori pernah memberitahunya soal ini. Rambut merah muda. Indah. Satu-satunya di Seiju, Hanju, dan Byeolju.
Wah. Inilah sosok Putri Jia.
Adik kandung dari Raja Seiryuu.
Hal yang membuat Kikyo mulai melebarkan mata adalah sikap Putri Jia yang ternyata benar-benar di luar ekspektasinya. Ia kira anggota keluarga kerajaan Seiju akan terlihat mengintimidasi. Namun, sang putri sama sekali tidak terlihat kaku atau menakutkan. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat indah, perpaduan warna putih bersih di bagian dalam dan balutan warna merah muda yang lembut di bagian luar. Di bagian dadanya terdapat ornamen logam keemasan serta mutiara-mutiara cantik berukuran besar. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung perak bermotif bunga yang mungil dan anggun.
Rambut Putri Jia panjang menjuntai dengan warna merah muda yang sangat indah. Rambut itu ditata dengan jepitan bunga-bunga mekar yang juga berwarna merah muda di kedua sisi kepalanya, lengkap dengan ornamen gantung berumbai putih yang bergemerincing pelan setiap kali ia melangkah.
Alih-alih masuk dengan wajah dingin yang menuntut orang untuk bersujud ketakutan, Putri Jia justru menyapu lautan peserta ujian dengan senyum manis dan ekspresi yang ceria. Semua orang langsung menundukkan kepala. Sepasang mata sang putri yang besar dan berwarna ungu lilac itu memancarkan binar kelembutan sekaligus spontanitas yang terasa begitu hidup. Ia melangkah dengan santai menuju ke kursi kehormatan di depan sana—di sebelah kursi Kepala Dayang—sambil memancarkan energi ceria yang kontras dengan suasana tes saat ini.
Kepala Dayang sebenarnya tidak heran, sih, soalnya Putri Jia memang sering iseng melihat tes para calon dayang. Dari tahun ke tahun, Putri Jia sering secara acak masuk ke aula-aula tertentu dan di sesi-sesi tertentu. Kadang dia masuk saat tes tata krama, kadang dia masuk saat tes menyulam, dan sebagainya. Dia hanya mau menonton… dan kalau menemukan seseorang yang menarik, biasanya dia akan merekrut orang itu. Namun, beberapa tahun belakangan, sang Putri belum tertarik kepada siapa pun.
Ruya lantas tersenyum lebar. Gadis itu merapikan rambut dan pakaiannya, lalu duduk seelegan mungkin. Semangatnya langsung berkobar saat melihat Putri Jia mengunjungi aula mereka. Semoga saja Putri Jia tertarik padanya!
Setelah suasana kembali tenang, Kepala Dayang pun mulai berbicara.
"Apa yang akan kalian dengar setelah ini adalah catatan yang usianya jauh lebih tua dari Kerajaan Seiju sendiri. Ini adalah legenda yang menjadi fondasi dari seluruh sistem kepercayaan dan kekuasaan di tanah Haewa. Dengarkan baik-baik,” ujar Kepala Dayang. Suaranya besar dan mendominasi. "karena sejarah ini adalah dasar dari keberadaan kita."
Beliau pun mulai membacakan legenda itu secara utuh, sesuai dengan naskah asli yang menjadi fondasi kedaulatan Seiju.
“Di masa purba, saat Haewa masih merupakan satu wilayah super besar yang diberkati kemakmuran tanpa batas, hiduplah garis keturunan penakluk naga. Keluarga ini dianugerahi kekuatan mutlak untuk menundukkan para naga dan mengikat kesetiaan mereka. Namun, seiring bergulirnya waktu, garis keturunan itu menyusut hingga hanya menyisakan seorang pemuda bungsu. Dengan keluarganya yang telah lama tiada, ia menjadi pewaris tunggal dari kekuatan luar biasa tersebut, memikul takdir yang berat agar darah para penakluk tidak lenyap dari muka bumi.”
Kepala Dayang menarik napas panjang. Suaranya mampu menghipnotis setiap pendengarnya.
"Suatu hari, pemuda penakluk naga itu pergi ke sebuah gunung tinggi yang dihuni oleh naga terkuat, yakni Naga Merah. Ia pun mengajak naga tersebut untuk berduel. Pertarungan yang terjadi sangatlah brutal; ia terluka parah, tetapi karena tak ingin menyerah, ia pun berhasil menaklukkan naga itu. Tawanya menggelegar—seakan-akan mampu menggores langit—tatkala ia sadar bahwa Naga Merah yang legendaris itu telah ia kalahkan.”
“Naga Merah pun tunduk padanya. Hal itu membuat sang pemuda resmi menjadi penakluk naga terkuat yang pernah ada. Sayangnya, kekuatan besar itu justru melahirkan kesombongan yang merusak jiwanya. Ia jadi bersikap seenaknya. Ia menggunakan koleksi naga yang ia miliki untuk menghancurkan desa-desa serta siapa pun yang berani menentang keinginannya."
Kikyo mendengarkan legenda itu dengan saksama. Ia sudah tahu legenda ini dari sesi-sesi belajarnya, tetapi hingga kini… ia masih punya pertanyaan mengenai legenda itu. Sebulan yang lalu, Nyonya Yori menghukumnya selama satu jam—ia disuruh berjalan elegan dengan buku di atas kepala—karena menanyakan pertanyaan itu.
Sang kepala dayang pun melanjutkan, "Suatu hari, saat sang pemuda tengah menghancurkan sebuah desa, masyarakat di desa itu mulai memperingatinya. Mereka berkata, ‘Kalau kau terus-menerus bertindak semaumu, Raja atau Putra Mahkota akan datang mengadilimu!’”
“Dengan sombong, sang pemuda menjawab bahwa ia tak takut pada siapa pun, termasuk pada Putra Mahkota yang seumuran dengannya. Akhirnya, berita ini pun sampai ke istana. Sang pemuda lantas dipanggil untuk menghadap Putra Mahkota. Ia datang dengan angkuh dan penuh percaya diri. Senyumnya melebar, tak sabar ingin menantang Putra Mahkota berduel. Dia akan mengeluarkan naga-naga terkuat miliknya untuk menunjukkan dominasinya."
Suara Kepala Dayang kini merendah, memberikan penekanan pada bagian yang paling sakral.
"Namun, tepat saat duel dimulai, sebuah keajaiban besar terjadi. Naga-naga milik pemuda itu tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka tidak lagi menyerang; sebaliknya, mereka mulai berbicara dengan suara yang menggetarkan bumi. Di hadapan Putra Mahkota, naga-naga perkasa itu bersujud. Menundukkan kepala mereka hingga menyentuh tanah." []