Chapter 17 :
Serpentine Monster (4)
******
KEPALA Dayang mulai membacakan bagian identitas yang paling rahasia:
“Ratusan naga itu lalu berkata serempak: 'Sujudlah, karena pemuda ini adalah keturunan agung dari leluhur kami. Ia adalah pewaris murni yang terlahir dalam rupa manusia untuk memandu dunia ini menuju kejayaannya.'”
“Detik itu juga, terbukalah rahasia paling purba yang pernah terkubur. Naga-naga itu mengungkapkan bahwa garis darah mereka bermula dari satu entitas tunggal: sang Siluman Naga. Makhluk agung itu melahirkan dua jenis keturunan: sebagian tetap berada dalam rupa naga yang perkasa… dan sebagian lagi terlahir sebagai manusia.”
“Di antara keduanya, mereka yang berwujud manusialah yang dianggap sebagai puncak kesempurnaan. Sebab mereka tidak hanya memiliki kekuatan destruktif seekor naga, tetapi juga dianugerahi emosi, akal, dan kebijaksanaan manusia yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut. Itulah alasan mengapa di hadapan Putra Mahkota, para naga tidak hanya melihat seorang penguasa, tetapi melihat kemuliaan yang jauh melampaui eksistensi mereka sendiri."
Semua orang di aula terdiam seribu bahasa. Mereka merinding mendengar cerita itu meskipun sebenarnya itu adalah cerita yang sudah tidak asing lagi. Sang kepala dayang membacakan legenda itu dengan sangat baik. Dia sangat menjiwai; intonasinya luar biasa.
“Sang penakluk naga, yang sebelumnya berdiri tegap dengan kesombongan yang melangit, kini jatuh terduduk. Senjatanya terlepas; harga dirinya runtuh saat melihat naga-naganya sendiri lebih memilih untuk bersujud kepada sang putra mahkota daripada menuruti perintahnya.”
“Dengan kepala yang tertunduk, sang pemuda pun mendekat. Suaranya pecah oleh penyesalan yang mendalam saat ia berkata: 'Hamba telah buta oleh kekuatan. Hamba memohon ampunan atas kelancangan hamba yang berani menantang puncak kesempurnaan. Sebagai penebusan dosa, hamba menawarkan hidup hamba, jiwa hamba, bahkan seluruh garis keturunan hamba setelah ini, untuk menjadi pelayan setia di bawah kaki Anda selamanya.'”
“Putra Mahkota tidak membalas dengan amarah. Ia justru melangkah maju dengan penuh wibawa, lalu menatap pria yang kini menyerahkan segalanya itu. Dengan suara yang tenang, ia pun memberikan titahnya: 'Bangunlah. Simpan semua penyesalanmu. Gunakanlah kekuatanmu—atau naga-naga yang sudah kau taklukkan itu—untuk berbuat baik di tanah ini. Aku akan memanggilmu saat Aku membutuhkanmu.'”
“Perjanjian itu pun terukir di udara. Pemuda itu bangkit, bukan lagi sebagai penakluk naga yang angkuh, melainkan sebagai bayang-bayang setia yang terikat kontrak abadi dengan Putra Mahkota. Sebuah janji yang terus mengalir dalam darah keturunannya hingga beribu-ribu tahun kemudian.”
Setelah legenda dibacakan, Kepala Dayang pun menggulung kembali naskah kuno itu dengan gerakan perlahan dan penuh hormat. Suasana aula masih diliputi keheningan yang magis.
“Baik. Saya sudah membacakan legenda Haewa,” ujar Kepala Dayang, suaranya memecah keheningan. “Sekarang, ambil kuas kalian. Tuliskan kembali intisari legenda yang baru saja saya bacakan. Tulis dengan presisi; jangan ada satu pun detail sejarah yang diubah atau dikurangi. Waktu kalian hanya sebentar. Mulai!”
Begitu aba-aba diberikan, suara gesekan kuas di atas perkamen kembali memenuhi aula, terdengar lebih terburu-buru dari sebelumnya.
Kikyo menarik napas pendek dan mulai menulis. Otaknya bekerja keras memutar kembali kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh sang kepala dayang. Gunung tinggi… Naga Merah… duel… naga-naga bersujud… Pikirannya mencoba fokus pada rentetan peristiwa sejarah itu, mengabaikan fakta bahwa tangannya mulai terasa kebas karena harus terus-menerus memegang kuas dengan sudut yang anggun.
Di sebelah kanannya, Ruya menulis dengan kecepatan yang luar biasa, punggungnya tegak sempurna dan senyum percaya diri tersungging di bibirnya. Gadis itu pasti sudah hafal mati legenda ini, bahkan sebelum Kepala Dayang membacakannya. Sementara itu, di sebelah kiri Kikyo, Seena tampak menggigit bibir bawahnya. Kuasnya gemetar hingga meneteskan sedikit tinta di pinggir perkamen.
Setelah beberapa saat yang terasa sangat menyiksa, Kepala Dayang akhirnya berseru, “Waktu habis. Letakkan kuas kalian!"
Semua peserta serempak meletakkan alat tulis mereka. Beberapa dayang junior dengan sigap berjalan ke sela-sela meja, mengumpulkan gulungan-gulungan perkamen yang baru saja ditulisi oleh para kandidat.
“Sekarang, mari masuk ke tahap terakhir dari tes literasi hari ini," umum Kepala Dayang seraya melangkah ke tengah-tengah aula. Tatapannya kembali menyapu lautan wajah tegang di sekelilingnya. Putri Jia yang duduk di depan sana tampak menopang dagu, memperhatikan prosesi itu dengan mata ungu lilac-nya yang berbinar penuh minat. Agaknya, sang putri benar-benar tertarik melihat bagian ini.
"Istana tidak hanya butuh dayang yang bisa menyalin kata-kata," lanjut Kepala Dayang. "Kami butuh dayang yang memiliki pemikiran dan kebijaksanaan. Aku akan menunjuk beberapa dari kalian secara acak. Sebutkan nama dan nomor peserta kalian terlebih dahulu, lalu sampaikan pendapat kalian mengenai esensi dan makna dari legenda tadi.”
Jantung Kikyo berdegup kencang. Aduh. Sesi tanya jawab acak. Ini selalu menjadi bagian yang paling merepotkan. Kikyo suka ceplas-ceplos, soalnya. Pikirannya suka melanglang buana.
Kepala Dayang menunjuk seorang gadis di barisan depan. “Peserta nomor 142. Silakan.”
Gadis itu berdiri dengan gugup. Ia memberi hormat sejenak sebelum bersuara, “Hamba Miya, peserta nomor 142. Menurut hamba, makna dari legenda tersebut adalah tentang kesetiaan absolut yang harus kita berikan kepada keturunan naga, yakni keluarga kerajaan. Kita tidak boleh sombong karena sehebat apa pun manusia, kita tetaplah pelayan di bawah keagungan raja.”
Kikyo memperhatikan semuanya dengan saksama. Sebenarnya, cerita itu sudah dianggap seperti mitos di masyarakat luas sekarang, tetapi di istana, keluarga kerajaan menganggapnya sebagai sejarah mutlak yang menjadi fondasi dari kekuasaan takhta Seiju. Kikyo tak tahu apakah keluarga kerajaan di Hanju dan Byeolju juga memperlakukan sejarah itu seperti Seiju.
Mendengar jawaban Miya, Kepala Dayang hanya mengangguk kecil tanpa ekspresi, lalu beralih menunjuk peserta lain. "Nomor 109. Giliran Anda."
Salah seorang peserta yang lain berdiri, melakukan gestur hormat yang sama. "Hamba Yura, peserta nomor 109. Pendapat hamba, legenda ini mengajarkan bahwa garis darah sang putra mahkota adalah hukum alam tertinggi yang tidak bisa dibantah. Kita harus mengabdi dengan segenap jiwa."
Pujian demi pujian dilontarkan untuk keluarga kerajaan dan sang putra mahkota di masa lalu. Sangat standar, sangat membosankan, dan sangat... aman. Putri Jia yang mendengarkan jawaban-jawaban itu mulai terlihat sedikit mengantuk; ia memainkan ujung rambut merah mudanya dengan jari.
Hingga akhirnya, mata sang kepala dayang tertuju pada barisan Kikyo.
"Peserta nomor 117. Silakan."
Seena dan Hari serempak menahan napas. Ruya melirik Kikyo dan mulai tersenyum miring, seakan-akan sudah siap melihat Kikyo mempermalukan dirinya sendiri.
Ha. Pasti jawabannya tidak masuk akal.
Kikyo berdiri perlahan. Kepalanya dipenuhi oleh analisis logika yang memberontak tiap kali ia mendengar legenda tersebut. Nyonya Yori pernah menghukumnya karena hal ini, tetapi entah mengapa, atmosfer ruangan ini—terutama dengan keberadaan Putri Jia yang sedari tadi tampak santai—membuat sifat asli Kikyo meronta-ronta.
Rasanya dia gatal sekali untuk mengonfirmasi sesuatu.
Ah, bodo amatlah! Kan disuruh berpendapat! Semua orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda, bukan?
Kikyo merunduk hormat, lalu berbicara, "Hamba Kikyo Hana, peserta nomor 117."
“Kalau boleh berpendapat...” Suara Kikyo terdengar jernih, sangat polos dan dipenuhi dengan rasa heran. “Hamba sejak tadi justru berpikir... bagaimana mungkin naga-naga itu bisa berbicara bahasa manusia?”
Seisi aula seketika hening.
Seena sampai menganga saking kagetnya. Hari memejamkan matanya kuat-kuat, seolah-olah pasrah menunggu petir menyambar teman barunya itu. Ruya menatap Kikyo dengan mata membulat, nyaris tak percaya ada orang sebodoh ini yang berani mempertanyakan logika sejarah sakral kerajaan.
Kikyo melanjutkan kalimatnya dengan wajah tanpa dosa, "Maksud hamba, kucing atau anjing yang hidup puluhan tahun dekat dengan manusia saja tidak bisa berbicara, padahal setiap hari mereka mendengar manusia mengoceh dari pagi sampai malam. Jadi, bagaimana makhluk raksasa sebesar naga bisa tiba-tiba punya pita suara untuk kosakata manusia yang begitu rumit?”
Semua dayang senior tampak menahan napas. Wajah mereka memucat. Sang kepala dayang bahkan sampai mematung. Rasanya bagai ada beban berton-ton yang jatuh dari langit dan menimpa kepalanya.
“Apa mungkin… penakluk naga itulah yang mengajari mereka berbicara?" Kikyo mengusap dagunya, terlihat benar-benar serius memikirkan teori itu. “Kalau hamba bisa bertemu dengan keturunan penakluk naga itu sekarang, hamba juga ingin berguru padanya. Bukan soal bagaimana cara menaklukkan naga, tetapi bagaimana caranya mengajari naga-naga itu berbicara bahasa manusia. Pria itu pasti memiliki kesabaran yang luar biasa.”
Aula itu benar-benar sunyi senyap bak kuburan. Mereka tak percaya ada calon dayang yang berani mempertanyakan keabsahan narasi legenda suci, bahkan membandingkan makhluk agung sekelas naga dengan kucing peliharaan. Legenda sekeren itu malah dipertanyakan logikanya. Cerita naga yang serius itu mendadak jadi terdengar kocak.
Kikyo masih berdiri tegak. Namun, perlahan-lahan… ia menyadari kalau ucapannya mungkin baru saja mengesahkan surat kematiannya sendiri!
Kikyo meneguk ludah. Wajahnya mulai pucat.
Mampuuuus! Aku memang ingin bertanya, tetapi mengapa jadi kebablasan begini?!
Siaaall!! Mati! Aku pasti dipenjara atau dibunuh setelah ini. Aku pasti takkan lulus!
Bodooooohh! Kalaupun tidak dibunuh di sini, Raja Zyran pasti akan membunuhku!!
Di tengah kesunyian yang tegang dan mencekam itu, tiba-tiba…
"Pffft... HAHAHAHAHAHAH!!!!!!"
Ada suara tawa yang meledak dengan sangat kencang dari arah depan aula. Tawa itu sama sekali tak terkendali. Seperti seseorang yang sudah menahan diri sejak beberapa saat yang lalu dan akhirnya menyerah sepenuhnya. Semua orang seketika menoleh ke arah yang sama, termasuk Kikyo.
Napas Kikyo tertahan. Matanya kontan melebar saat ia akhirnya melihat dengan jelas siapa sosok yang kini sedang tertawa seraya memegangi perutnya di depan sana. []