Chapter 15 :
Serpentine Monster (2)
******
KIKYO mendekati mereka bertiga. Ruya, yang berdiri paling ujung, hanya melirik sekilas ke arah Kikyo sebelum mengalihkan pandangannya ke depan. Tampak sinis seperti biasa.
"Selamat pagi!" sapa Kikyo kepada mereka semua.
"Pagiii!!" balas Seena dengan antusias. "Kau tidur nyenyak tidak semalam? Aku hampir tidak tidur. Aku belajar membaca buku klasik sampai tengah malam, tetapi kemudian aku malah mengantuk dan—"
"Aku juga," potong Hari pelan. Wajah gadis itu tampak sedikit lelah. "Aku takut salah hari ini. Ujian menulis, terutama."
Melihat kekhawatiran teman-temannya, Kikyo pun mencoba mencairkan suasana dengan gaya khasnya. Ia cengar-cengir seraya mengacungkan jempol. "Iya, aku juga takut. Kita lakukan saja semampunya, oke?"
“Hah? Semampunya?”
Seena, Hari, dan Kikyo langsung menatap Ruya secara bersamaan. Itu adalah suara Ruya. Nada bicara gadis itu sarkastis dan tajam, seperti ujung pisau yang baru saja diasah. Ruya menoleh perlahan, menatap mereka bertiga seolah-olah mereka adalah beban kerajaan.
“Kalau dari awal saja sudah berniat ‘semampunya’, seharusnya tidak perlu repot-repot datang ke sini,” komentar Ruya pedas. “Di sini, semua orang bekerja keras sampai melampaui batas mereka demi bisa lulus. Istana Seiju tidak butuh dayang yang hanya mengandalkan keberuntungan.”
Kikyo kontan mengernyitkan dahi. Suasana di antara mereka berempat mendadak sedikit kaku. Seena yang panik langsung menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, mencoba untuk menengahi. “Ah—haha… Umm—yang penting kita semua bisa berada di sini dan tidak terlambat! Hehe…”
Hari menghela napas, tahu benar kalau Seena hanya berusaha untuk mencairkan suasana, padahal ucapannya tidak nyambung sama sekali.
Yah, Kikyo sendiri tahu, sih, kalau kata ‘semampunya’ itu terdengar santai. Namun, sebenarnya… itu hanya untuk menenangkan Seena dan Hari. Aslinya, mereka semua berusaha, kok! Kikyo saja belajar berbulan-bulan, berusaha untuk cepat bisa dalam waktu singkat. Hari dan Seena juga belajar sampai susah tidur.
“Aku juga berusaha, kok,” jawab Kikyo. “Apakah maksudmu aku harus belajar sampai mati berdiri?”
Hari melebarkan mata mendengar jawaban Kikyo yang hari ini jauh lebih blak-blakan kepada Ruya. Kemarin, Kikyo mungkin masih menahan diri.
Seena jadi berkeringat dingin.
“T—Teman-teman, sudah, sudah,” ujar Seena gelisah. Dia menengahi Ruya dan Kikyo. “Um—aku juga salah, seharusnya aku tidak mengeluh meskipun aku ketakutan. Aku ketakutan karena dulunya aku hanya b***k dan—"
“Oh ya? Berusaha apa?” jawab Ruya pada Kikyo; dia mengacuhkan Seena sepenuhnya. Matanya menatap Kikyo dengan tajam. “Kau tidak terlihat berusaha. Kau seperti tak memiliki beban sedikit pun.”
Hah? Beban apa?
Beban berat seperti Pak Noboru yang Kikyo kalahkan di pertandingan gulat waktu itukah?! Beban macam apa lagi yang lebih berat dari itu?!
Seandainya Ruya tahu bahwa setiap langkah Kikyo di aula ini adalah taruhan nyawa antara dibunuh Seiju atau dipenggal rajanya sendiri, mungkin gadis sombong itu akan pingsan seketika.
Sayangnya, Kikyo tak bisa bilang begitu.
“Baguslah kalau aku terlihat tak memiliki beban,” jawab Kikyo dengan santai, tetapi tajam. “Daripada aku harus terlihat ketus terus sepertimu. Itu hanya akan menambah kerutan di wajahmu sebelum kau resmi jadi dayang.”
Ruya langsung memelototi Kikyo dengan wajah memerah karena marah. “KAU—”
“Selamat pagi, para peserta tes.” Suara lantang dari Kepala Dayang di depan aula seketika membungkam amarah Ruya yang baru saja akan meledak. Semua calon dayang yang ada di sana langsung menghadap ke depan dan membungkuk hormat.
“Selamat pagi, Kepala Dayang!” jawab mereka semua.
Kepala Dayang berdiri tegap di depan aula, kedua tangannya tertaut rapi di depan perut, memberikan kesan otoritas yang tidak bisa dibantah. Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada lagi bisik-bisik atau percikan amarah yang tersisa di antara para peserta, terutama Ruya yang kini hanya bisa menggigit bibir dalamnya dengan geram.
“Terima kasih karena sudah kembali hadir di sini. Hari ini, kita akan melaksanakan tes kedua, yakni tes literasi.” Suara Kepala Dayang bergema kuat di aula yang super besar dan tinggi. “Seorang dayang di Istana Seiju adalah perpanjangan tangan dan telinga dari keluarga kerajaan. Jika kalian tidak mampu membaca situasi, tidak mampu menulis pesan dengan presisi, atau gagal memahami sejarah agung tanah ini, maka kalian tidak lebih dari sekadar beban bagi istana.”
Kikyo baru sadar kalau di depan sana sudah ada banyak kursi dan meja yang disusun rapi. Mereka pasti akan dites di sana.
“Silakan duduk di kursi mana pun yang kalian inginkan,” ujar sang kepala dayang. “Kita akan memulai tes kosakata bahasa Seiju.”
Semua peserta pun langsung berjalan ke depan dan duduk di tempat yang mereka inginkan. Kikyo duduk di area tengah, di antara Ruya dan Seena. Hari duduk di depannya.
Aula yang tadinya bising oleh gesekan kain dan langkah kaki mendadak berubah menjadi sunyi yang menekan. Para dayang junior bergerak dengan gerakan yang sangat sinkron, membagikan lembaran kertas perkamen tebal dan satu set alat tulis di depan masing-masing peserta.
Kikyo menatap kuas bulu di hadapannya. Jari-jarinya yang kasar terasa begitu kaku saat harus memegang gagang kuas yang ramping dan ringan. Ia menarik napas dalam, mencoba mengingat instruksi Nyonya Yori tentang bagaimana menstabilkan pergelangan tangan agar goresan tinta tidak bergetar.
“Waktu dimulai. Silakan tuliskan tiga puluh kosakata dasar protokol istana dalam aksara Seiju kuno,” titah Kepala Dayang dari belakang mimbar.
Suara gesekan kuas di atas kertas mulai terdengar, menyerupai bunyi ulat sutra yang sedang mengunyah daun. Kikyo mulai menggoreskan tinta. Huruf Seiju bukanlah sekadar huruf; mereka adalah rangkaian simbol meliuk-liuk yang menyerupai naga, di mana satu titik yang salah bisa mengubah arti ‘setia’ menjadi ‘berkhianat’.
"Tulisanmu buruk," ucap seseorang di sampingnya dengan pelan, tetapi nadanya sarkastis.
Kikyo tidak menoleh; ia tahu kalau itu adalah Ruya. Ruya mencebikkan bibir, terus meluncurkan serangan mental untuknya.
"Kasar, kaku, dan tidak memiliki jiwa. Goresanmu terlihat seperti cakar ayam yang sedang sekarat. Kau benar-benar berpikir istana akan menerima dayang dengan tulisan seburuk itu?"
Kikyo mengabaikan ucapan Ruya meski rahangnya mengeras. s****n cewek ini. Awas kau, ya, nanti kuinjak sepatumu.
Kikyo terus menulis. Darah naga... takhta emas... kesetiaan abadi...
Beberapa huruf yang Kikyo tulis terlihat sedikit kaku jika dibandingkan dengan milik peserta lain yang mungkin sudah terbiasa sejak kecil, tetapi setidaknya miliknya masih bisa dibaca dengan jelas. Nyonya Yori sudah memastikan itu.
Kikyo melirik Seena yang duduk di sampingnya. Seena gemetar hebat; tangannya yang memegang kuas itu terlihat goyah. Kikyo ingin sekali memberikan semangat, tetapi gerakannya terbatas oleh aturan ujian yang sangat ketat.
Beberapa menit berlalu… hingga akhirnya tes kosakata itu selesai. Kini, mereka beralih ke tes baca-tulis kalimat kompleks.
“Caramu duduk juga salah,” cemooh Ruya saat Kikyo sedang menulis sebuah kalimat. Nadanya kini terdengar jauh lebih menyebalkan. “Punggungmu terlalu tegap seperti mau menantang berkelahi. Kau tidak terlihat seperti wanita terpelajar. Kau terlihat seperti kuli yang dipaksa memakai gaun. Sangat memalukan.”
Kikyo mengepalkan tangannya dengan kencang. Ia hampir mematahkan kuas yang sedang ia pegang. s**l, kalau tidak sedang berada dalam situasi seperti ini, mungkin ia sudah menarik mulut Ruya sejak tadi.
Raja Zyran memang tak mengancam untuk membunuhnya jika ia gagal. Ancaman pembunuhan itu berlaku apabila ia berkhianat. Namun, tetap saja, siapa yang berani gagal kalau disuruh sang raja?! Apalagi setelah semua bantuan yang diberikan oleh Tuan Jion dan Yexian.
Konsentrasi Kikyo hampir buyar, tetapi ia memaksa matanya untuk tetap tertuju pada kertas itu. Ia tidak boleh terpancing. []