Chapter 14 :
Serpentine Monster (1)
******
SAAT Kikyo sampai di penginapan, hari sudah malam.
Penginapan Eudora memiliki tiga lantai dan Kikyo menyewa kamar di lantai dua. Bangunan penginapan itu terbuat dari kayu, tidak terlalu mewah, tetapi tidak juga berkualitas rendah. Tempatnya nyaman dan bersih. Bagian lobinya ditata dengan baik hingga terlihat elegan.
Begitu sampai di kamarnya, Kikyo menghidupkan lampu dan langsung disambut oleh kehangatan di kamar itu. Matanya langsung tertuju pada satu titik yang tampak begitu kontras dengan kehidupannya yang biasanya keras dan penuh keringat: sebuah ranjang kanopi yang berdiri megah di tengah ruangan.
Ranjang itu terlihat seperti singgasana bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari kepenatan dunia. Empat tiang kayu berwarna cokelat gelap yang dipoles halus menjulang tinggi, menyangga rangka atas yang dihiasi dengan tirai-tirai sutra berwarna putih gading. Tirai kanopi itu berbahan silky yang sangat lembut, jatuh menjuntai dengan anggun dari rangka atas. Mereka ditata dengan sangat apik; sebagian disampirkan dan diikat longgar pada tiang-tiang ranjang menggunakan tali tambang sutra kecil, sementara sisanya dibiarkan melambai tipis.
Tidak jauh dari ranjang, jendela besar yang menghadap ke arah kota Seiju tertutup oleh gorden yang tak kalah menawan. Gorden tersebut memiliki dua lapis kain; lapisan dalamnya adalah kain vitrase tipis yang sangat transparan, sementara lapisan luarnya adalah kain sutra berat yang warnanya senada dengan tirai ranjang. Ketika angin berembus sedikit dari celah jendela, gorden itu akan berayun pelan.
Bagi Kikyo yang biasanya tidur di atas alas sederhana, melihat kemewahan ranjang dengan tirai-tirai sutra yang jatuh itu membuatnya sempat mematung. Rasanya terlalu indah untuk diduduki oleh seorang pegulat dari Desa Hondae. Akan tetapi, ranjang itu seolah-olah terus memanggilnya, menawarkan kelembutan yang sangat ia butuhkan sebelum kembali berperang besok pagi.
Kikyo menghela napas. Dengan cepat, ia pun meletakkan barang-barangnya dan langsung pergi mandi.
Tidak hanya kamar mandi biasa, Penginapan Eudora juga menyediakan sebuah kolam mandi kecil yang terbuat dari batu. Jadi, jika kau membuka pintu menuju kamar mandi, kau akan mendapati ruangan yang cukup luas: di sebelah kanannya ada bilik (untuk mandi biasa atau buang air) dan di sebelah kirinya ada kolam air panas.
Kolam itu berbentuk bundar, cukup besar untuk empat orang dewasa duduk dengan nyaman di dalamnya, dengan dinding batu yang sudah dihaluskan hingga permukaannya terasa mulus. Di atas permukaan air yang tenang itu, mengambang kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda.
Kelopak-kelopak bunga itu seharusnya sudah ‘rusak’ karena semalam Kikyo juga berendam di sana. Namun, mungkin pelayan penginapan kembali meletakkannya saat membersihkan kamar Kikyo. Kelopak-kelopak itu mengambang dengan tenang di atas air, melepaskan aroma bunga yang samar ke udara.
Cahaya lentera di sudut ruangan berpendar dengan warna oranye keemasan yang hangat. Cahaya itu lembut, tidak menyilaukan. Ada bayangan-bayangan panjang yang terlihat di dinding kayu berwarna gelap di sekeliling kolam. Jendela ruangan itu tertutup, tetapi cahaya rembulan masih mampu masuk menembus gordennya. Uap tipis mengepul ke atas dari permukaan kolam, bergerak lambat seperti kabut di pagi hari.
Kikyo melangkah pelan menghampiri kolam itu. Ia memasukkan ujung jempol kakinya untuk merasakan suhu air kolam, lalu setelah yakin, ia pun masuk perlahan.
Ia duduk berselonjor di dalam kolam itu dan punggungnya bersandar pada dinding batu. Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam pekat sudah dilepas dari ikatannya; sebagian besar tenggelam di dalam air dan sebagian lagi menempel di punggung dan bahunya yang basah.
Ahh. Lega sekali.
Kikyo sangat lelah. Rasa lelahnya jauh lebih besar daripada ketika ia selesai bertanding gulat. Hal itu tidak mudah diakui, terutama bagi Kikyo yang tubuhnya kuat. Tes hari ini menguras sesuatu yang berbeda dari sekadar tenaga fisik. Ia harus berpikir. Harus mengontrol setiap gerakan tubuhnya. Harus memastikan bahwa setiap ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan apa yang sebenarnya ada di kepalanya. Itu lebih melelahkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Kikyo menghela napas panjang, lalu menengadah.
Tiba-tiba, kalimat Ren di pasar tadi kembali terngiang-ngiang di telinga Kikyo.
“Sama seperti namanya, raja yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api.”
Tadi sore, saat mendengar kata-kata itu dari mulut Ren, Kikyo mengerutkan dahinya keheranan. Namun, Ren hanya tersenyum miring, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berbeda.
Kikyo mengambil sebuah kelopak bunga, lalu mengangkat tangannya dari dalam air. Dia menatap kelopak bunga itu sebentar, lalu meletakkannya kembali.
Setahu Kikyo—setelah mempelajari banyak hal tentang Seiju—nama raja Seiju adalah Seiryuu. Nyonya Yori pernah bilang kalau dalam aksara kuno Seiju, kata ‘Ryu’ itu berarti naga. Sei sendiri artinya adalah biru.
Kata-kata Ren yang berupa “licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api” itu persis sekali dengan pengertian seekor naga. Relief di seluruh tembok, menara, benteng, serta gerbang istana Seiju juga bermotif naga.
Namun, apakah karakter sang raja juga seperti seekor naga?
Apa Raja Seiryuu punya hobi melilit orang seperti ular? Atau hobi marah-marah seperti seekor naga yang menyemburkan api? Atau bagaimana?
Ah, tak tahulah.
Mengapa Ren berbicara seperti itu tentang Raja? Dia seolah-olah sudah kenal dekat dengan sang raja. Seperti… sudah tahu banyak. Atau mungkin justru sebaliknya. Mungkin Ren hanya seorang pengembara yang suka politik dan mengomentari tokoh-tokoh penting.
Kikyo menghela napas untuk yang kedua kalinya. Gadis itu hanya memegang satu prinsip: ia tidak harus selalu melihat Raja untuk menyelesaikan misinya. Sesuai perintah dari Hanju, menjadi mata-mata bukan berarti ia harus berdiri tepat di samping takhta sang raja atau melayani keluarga inti yang mungkin intimidatif itu. Menyelinap ke kediaman keluarga yang bukan keluarga inti jauh lebih menguntungkan dan mudah. Lebih sedikit mata yang mengawasi, tetapi lebih banyak celah untuk mencuri dengar. Satu hal yang pasti, ia harus menghindari divisi binatu atau dapur belakang. Dia datang ke Seiju untuk mengumpulkan kepingan rahasia, bukan untuk menghabiskan seluruh sisa usianya dengan memeras pakaian.
"…Ya sudahlah. Tidak perlu berasumsi," ucap Kikyo pelan. Meski pelan, suaranya tetap bergema karena suasana di kolam itu sangat sepi.
Tak lama kemudian, Kikyo berdiri, mengambil handuk yang sudah disiapkan di samping kolam, lalu membungkus tubuhnya dengan handuk itu.
Kikyo berjalan keluar dari area kolam, lalu mulai berpakaian. Ia memakai piama berwarna putih pemberian Yexian, lalu pergi ke ranjang kanopi yang sejak tadi ia dambakan. Ia langsung berbaring dan menarik selimut hingga ke d**a.
Beberapa menit kemudian, di bawah cahaya lentera yang mulai meredup dengan sendirinya, Kikyo pun tertidur.
******
Keesokan harinya, Kikyo kembali datang ke salah satu aula di bagian barat istana, tempat kemarin dia mengikuti tes tata krama. Kemarin, sebelum pulang, Kepala Dayang bilang mereka akan kembali melaksanakan tes selanjutnya di sini.
Hari ini, mereka akan mengikuti tes literasi yang mencakup kosakata dan baca tulis bahasa Seiju. Mereka juga akan dites membaca buku klasik Seiju.
Begitu memasuki aula, di antara kerumunan manusia itu, Kikyo langsung melihat tiga sosok yang sudah ia kenal: Seena, Hari, dan Ruya. Mengapa Ruya masih saja berada di sekitar Seena dan Hari? Apa memang tidak ada peserta lain yang mau menerimanya selain mereka berdua?
Seena melambaikan tangannya dengan riang begitu melihat Kikyo. Gadis berambut pendek itu berdiri di antara Hari dan Ruya. Wajahnya terlihat segar meski ada lingkaran tipis di bawah matanya.
"Kikyo! Di siniii!" seru Seena. []