Chapter 13 :
Kingdom of Seiju (4)
******
KIKYO pun berlari kecil melewati kerumunan. Matanya berkilat seperti anak kecil yang baru dilepas di toko mainan.
“Pangsit…pangsit…” bisiknya, matanya berkelana mencari stand pangsit. Suara-suara penjual bersahutan di sebelah kiri dan kanannya.
“Buah segar dari utara!”
“Kain sutra! Diskon sampai matahari tenggelam!”
“Roti madu hangat!!”
“Aksesoris wanita! Biasa dipakai wanita bangsawan!”
“Daging bebek panggang!”
“Sayuran murah!!”
Oh. Banyak sekali hal yang dijual di sana. Namun, Kikyo tak begitu fokus mendengarkan semua itu. Satu-satunya hal yang menarik perhatian Kikyo adalah bau pangsit rebus yang tiba-tiba tercium dari salah satu sudut pasar.
Mata Kikyo langsung membulat.
‘ITU DIA!’ teriak Kikyo dalam hati.
Tanpa pikir panjang, Kikyo langsung berlari kecil ke sumber aroma itu. Dia hampir menabrak ibu-ibu yang sedang membawa keranjang.
“Maaf, Bu! Maaf!” ucapnya. Ibu itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya, dia berhenti di depan sebuah gerobak sederhana dengan papan kayu bertuliskan ‘Pangsit Nenek Ping — Hangat dan Kenyal.’
Di balik gerobak itu, berdirilah seorang nenek yang ekspresi wajahnya sangat ramah. Nenek itu menatap Kikyo yang sedang tersenyum semringah.
“Mau beli pangsit, Nak?” tanya nenek itu dengan lembut.
Kikyo mengangguk cepat. Dia gembira sekali. “Uh-hm!! Saya mau beli, Bu.”
Nenek itu langsung membuka panci besar berisi pangsit yang masih beruap. Aromanya membuat Kikyo nyaris mengeluarkan air liur. Matanya seperti berbintang-bintang saat melihat pangsit itu. Ini adalah pangsit yang anak-anak itu beli tadi pagi! Pas sekali.
Nenek itu tersenyum pada Kikyo. “Seporsi isinya enam. Mau beli berapa porsi, Nak?”
Kikyo menjawab tanpa menatap sang nenek karena dia sibuk menatap pangsit-pangsit itu. “Mau dua porsi, Bu.”
“Yang rebus atau goreng?”
Kikyo tepekur. Oh, s**l. Ini adalah pilihan yang berat.
“…satu porsi yang rebus, satu porsi yang goreng,” jawab Kikyo pada akhirnya. Dia mau mencoba semuanya; dia tak mau memilih salah satunya.
Nenek Ping tertawa kecil. “Baiklah. Tunggu sebentar, ya.”
Kikyo mengangguk cepat. Ekspresinya riang sekali. “Okeee, Bu!”
Sang nenek mulai menyiapkan pesanan Kikyo. Kikyo menatap pangsit-pangsit yang baru diangkat dari panci itu; mereka mengeluarkan uap dengan aroma daging yang menggoda. Sang nenek menyiapkan seporsi yang rebus, lalu menggoreng satu porsi lagi.
“Ini,” ujar sang nenek begitu pesanan Kikyo selesai. Kikyo pun menerima pangsit-pangsit itu, lalu menanyakan harganya kepada sang nenek. Setelah membayar, Kikyo pun berpamitan.
Kikyo berjalan di kerumunan pasar itu sambil menggigit pangsit rebusnya. Dia menari kecil saat mengunyah pangsit itu; dia terlihat bahagia karena sedang makan enak.
“Hmmm!!” dehamnya saat menelan suapan pertama. Dia memegang pipinya sendiri, memejamkan matanya, dan wajahnya berbinar-binar. Dia menjinjing bungkusan pangsit itu dengan riang.
Setelah membeli pangsit, Kikyo mampir ke beberapa stand. Dia membeli buah-buahan, roti, satai daging, dan berbagai makanan lainnya. Dia diberi banyak uang dari Hanju, setidaknya dia mau sedikit menikmati uang itu untuk bersenang-senang di pasar hari ini.
Dia stres sekali, soalnya.
Saat langit mulai agak gelap, ada sebuah barang di stand sebelah kanan yang menarik perhatiannya. Kikyo agak tersadar dari euforianya barusan (karena menyerbu makanan) dan matanya sedikit melebar. Dia pun mendekati stand itu dan berdiri tepat di depan barang yang dimaksud.
Itu adalah sebuah jam kecil.
Bukan, bukan jam tangan. Itu adalah jenis jam yang digenggam seperti kompas. Jam itu berwarna cokelat. Minimalis dan elegan. Ada sebuah kain satin merah bermotif angsa yang melekat di jam itu, seperti kain yang berfungsi untuk gantungannya.
Sang penjual masih sibuk melayani pembeli yang lain sehingga belum berbicara pada Kikyo. Akan tetapi, ketika Kikyo masih memandang dan memegang jam itu di telapak tangannya, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara dari sebelah kiri.
“Oh, yang itu terlihat bagus.”
Kikyo spontan menoleh ke asal suara. Di sana, di sebelahnya, ia melihat seorang pria. Pria itu memakai kimono berwarna hijau tua—hijaunya sangat gelap—dan sebuah topi caping yang terbuat dari jerami. Di pinggang kanan pria itu tergantung sebuah pedang. Pria itu terlihat seperti berusia tiga puluhan, tetapi…
…wajahnya tampan.
Rambutnya berwarna putih. Ada beberapa tindik di telinganya. Dia menggenggam sebuah tongkat kayu kecil berwarna hitam yang Kikyo tidak yakin itu adalah kayu biasa atau sebuah kipas lipat. Ada sebuah kawat yang melingkar di bagian atas tongkat itu. Seolah-olah tongkat itu pernah hampir patah dan direkatkan kembali dengan kawat.
Mata pemuda itu berwarna abu-abu. Namun, sebelah matanya hampir tertutup karena poninya yang cukup panjang. Dia tidak gondrong, tetapi poninya cukup panjang hingga menutupi dahi.
Mata Kikyo melebar. Dia sempat diam karena terdistraksi dengan rupa pria itu, tetapi tiga detik kemudian, dia berusaha untuk menyadarkan dirinya kembali.
“A—Ah, iya,” jawab Kikyo dengan gagap.
Pria itu sedikit memajukan tubuhnya ke arah Kikyo untuk melihat jam itu lebih jelas. Dia pun mengangguk. “Hm. Ini terlihat bagus untuk dibawa ke mana-mana.”
Kikyo melihat jam itu kembali, lalu mengangguk. “Benar.”
“Kau mau membelinya, Nona?” tanya pria itu seraya menatap Kikyo.
Kikyo menoleh kepada pria itu, merasa agak kaget. “E—Eh? Anda mau membelinya juga, Tuan?”
Pria itu tertawa kecil. “Kaulah yang memegang jam itu lebih dahulu. Lagi pula, itu terlihat cocok untukmu.”
Kikyo tertawa, tetapi masih canggung. Akhirnya, dia pun mengangguk. “Baiklah.”
Setelah membeli jam kecil itu, Kikyo pun berpamitan pada sang pria. Namun, pria itu menggeleng. “Kau mau pergi ke arah mana, Nona?”
“Oh, um…” Mata Kikyo melebar. Kikyo lalu menunjuk ke sebelah kanan, tempat di mana Kikyo masuk sebelumnya. “Aku mau pergi ke arah sana, Tuan.”
Jika Kikyo masuk dari sana, Kikyo pun akan keluar dari sana. Dia berencana untuk pulang setelah ini karena hari sudah mulai gelap. Dia harus kembali ke penginapan.
“Oke. Aku juga mau pergi ke arah sana,” ujar pria itu seraya tersenyum. “Ayo jalan bersama saja.”
Tanpa curiga sedikit pun—meski canggungnya setengah mati—Kikyo pelan-pelan mengangguk. “Baiklah.”
Akhirnya, mereka mulai berjalan bersama. Langkah mereka santai; mereka berjalan lurus melewati kerumunan tanpa ada kendala yang berarti.
Karena Kikyo pada dasarnya bukan orang yang tahan dengan kecanggungan atau ‘diam-diaman’, dia pun mencoba untuk memulai pembicaraan.
“Anda berasal dari daerah sini, Tuan?” tanya Kikyo.
Pria itu tersenyum. “Tidak usah panggil aku Tuan. Aku Ren. Panggil aku Ren saja.”
“…Ren?” tanya Kikyo. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya.
“Hm.” Ren mengangguk. “Ren saja. Siapa namamu?”
“Namaku Kikyo,” jawab Kikyo. “Apakah tidak apa-apa memanggil Anda dengan ‘Ren’ saja?”
Yah, siapa tahu, kan, pria itu merupakan bangsawan atau sesuatu.
“Tidak apa-apa,” jawab Ren. “Aku bukan orang penting.”
Mulut Kikyo membentuk ‘o’, lalu gadis itu mengangguk-angguk. “Baiklah.”
“Aku tidak tinggal di daerah sini. Aku hanya mampir sebentar ke pasar ini mumpung melewatinya,” jawab Ren kemudian. “Bagaimana denganmu?”
“O—Oh…” Kikyo menatap Ren dengan mata yang masih melebar. Tak ia sangka bahwa ia akan mendapat seorang kenalan laki-laki secepat ini. “Aku dari tempat lain juga. Aku menginap di Desa Saika untuk mengikuti tes menjadi dayang di Istana Seiju.”
Jangan tanyakan mengapa. Kikyo juga tak tahu mengapa dia memberitahu soal ‘ia berasal dari tempat lain dan menginap di Desa Saika’ pada Ren.
Ada sesuatu di sosok Ren yang membuat Kikyo berpikir kalau…Ren itu aman.
Ren seperti…seseorang yang entah berasal dari mana…yang tidak peduli dengan drama kerajaan. Insting Kikyo mengatakan demikian. Kikyo memang tidak memberitahu Ren secara detail, tetapi dia merasa cukup ‘aman’ untuk bilang bahwa dia bukan penduduk Desa Saika.
“Oh, begitu, ya…” Ren tersenyum seraya mengangguk. “Jadi, kau menyewa kamar untuk tempat tinggalmu selama periode tes berlangsung?”
“Iya,” jawab Kikyo. Dia tersenyum pada Ren.
“Tes menjadi dayang, ya…” ujar Ren. Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu kembali tersenyum. “Mereka terus-menerus berkembang, ya. Sampai-sampai mengadakan tes setiap tahun.”
Ah. Jadi, Ren cukup tahu soal itu.
Kikyo hanya tertawa canggung. “Haha… Ya…begitulah. Ini kali pertamaku mengikuti tesnya.”
“Mengapa kau ingin menjadi dayang?” tanya Ren. Pria itu menatap Kikyo seraya memiringkan kepalanya.
Waduh. Pertanyaan ini bagaikan tes kebohongan. Kikyo harus berakting dengan baik.
“Aku butuh penghasilan yang agak banyak, haha…” Kikyo menggaruk tengkuknya; dia hampir berkeringat dingin.
Ren tersenyum. “Begitu, ya.”
Tak lama kemudian, mereka berdua pun sampai di depan pasar. Di sana, banyak sekali kereta kuda yang sedang menunggu penumpang.
Langit sudah berwarna keunguan, hampir gelap. Bulan sabit sudah mulai terlihat di atas sana. Di sini, Kikyo pun berdiri berhadapan dengan Ren yang wajahnya tak terlihat begitu jelas lagi akibat suasana yang mulai gelap. Lampu-lampu di pasar itu belum dihidupkan.
Kikyo pun mulai berpamitan kepada Ren.
“Aku pulang dulu, ya,” ujarnya.
Ren mengangguk. Pria itu tersenyum simpul, lalu berkata, “Hm. Hati-hati, ya. Hari sudah gelap.”
Kikyo memiringkan kepalanya. “Apakah kau juga mau pulang?”
“Hm.” Ren mengangguk lagi. “Aku juga harus pulang setelah ini.”
“Baiklah,” ujar Kikyo. Gadis itu tersenyum, lalu mulai memanggil seorang kusir kereta kuda. Dia mau memesan kereta kuda itu untuk pulang ke penginapannya.
Saat kereta kuda itu telah sampai di depannya, ia pun mulai berjalan mendekati kereta kuda itu. Namun, sebelum menaiki tangga kecil di dekat pintu kereta, tiba-tiba ia berbalik.
Ia ingin memberikan salam kepada Ren. Kata ‘sampai jumpa’ atau sebuah pamit yang sopan sebelum ia benar-benar naik kereta.
Akan tetapi, begitu ia berbalik untuk melihat Ren…
…ada embusan angin dari sebelah barat yang menerbangkan helaian rambutnya. Menggerakkan gaun yang ia pakai…serta kimono hijau tua Ren. Akan tetapi, anehnya…topi caping Ren tetap berada di tempatnya. Hanya rambut Renlah yang terembus angin…hingga angin itu berhasil menyingkap kedua bola mata abu-abu milik Ren.
Di bawah langit yang hampir gelap itu, bola mata Ren tampak berkilat. Cahaya bulan sabit—yang sebenarnya belum terang itu—seolah-olah memantul di kedua matanya.
Pelan-pelan, Ren pun tersenyum simpul. Mata pria itu menatap Kikyo dengan lekat meskipun ekspresinya terlihat santai.
“Kau sedang mengikuti tes untuk menjadi dayang, ‘kan? Semoga beruntung, ya,” ujar Ren. Suaranya terdengar dengan sangat jelas di telinga Kikyo. Berat, dewasa, dan begitu rileks. “Sama seperti namanya, raja yang akan kalian layani itu terlihat licin seperti ular, tetapi mampu menyemburkan api.” []