Chapter 12 :
Kingdom of Seiju (3)
******
MEREKA berempat spontan menoleh ke asal suara. Di depan sana, di tangga superbesar yang mengarah ke balairung, berdirilah beberapa orang wanita. Dari pakaian mereka yang dominan berwarna hijau, Kikyo tahu bahwa mereka semua adalah kepala dayang. Nyonya Yori telah memberitahunya soal ini.
Tak butuh waktu lama…sampai akhirnya semua orang mulai merunduk hormat. Kikyo, yang melihat semua orang tiba-tiba merunduk, spontan ikut-ikutan merunduk. Oke, Kikyo tahu bahwa dia harus merunduk hormat pada Kepala Dayang, tetapi…sekarang pun harus merunduk, ya?!
Seluruh gadis yang ada di lapangan itu mulai berbicara serentak.
“Selamat pagi, Kepala Dayang.”
Kikyo mengikuti sapaan itu, tetapi suaranya tidak keras karena takut salah. Kalau ia salah bicara atau telat bicara dengan suara yang keras, bisa-bisa semua orang akan menatap ke arahnya. Dia tak mau jadi pusat perhatian; dia harus menyatu dengan dayang lain, bukan menjadi satu spesies yang paling unik.
Astaga. Nyonya Yori mengajarkannya segala tentang tes, tetapi tidak dengan apa yang akan terjadi di balairung. Mungkin, mereka semua berekspektasi bahwa Kikyo bisa mengatasi hal kecil seperti ini.
Semoga saja tidak ada yang curiga dengan kebingungan Kikyo barusan.
Semua calon dayang pun berdiri tegap kembali. Beberapa detik kemudian, salah satu kepala dayang yang ada di depan sana mulai berbicara.
“Kami berterima kasih untuk antusias dari para peserta yang datang tahun ini. Karena jumlah peserta tes yang sangat banyak, maka para peserta akan dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap kelompok akan pergi ke salah satu aula istana dan diarahkan oleh satu kepala dayang. Masing-masing kelompok akan mengikuti tes di aula yang berbeda. Tes yang akan dilaksanakan hari ini adalah tes tata krama. Tes ini akan dibagi menjadi beberapa sesi hingga selesai.”
Kikyo melebarkan mata.
Baiklah. Ini baru hari pertama dan Kikyo sudah dihadapkan dengan tes tata krama. Oh, tentu saja! Tentu saja, ujian pertama adalah pelajaran yang paling sulit baginya. Ini seperti Tuhan melihat misi mata-matanya dan berkata, “Mari kita buat dia menderita sedikit.”
Tuhan, ini sudah bukan sedikit lagi! Kikyo bisa melihat dua penjaga gerbang surga di kepalanya, menyambutnya karena dia gagal tes!
Oke, dia belum mati, tetapi jujur saja jiwanya sudah antre di meja pendaftaran alam baka.
Tata krama adalah pelajaran tersulit yang Kikyo hadapi saat belajar dengan Nyonya Yori, jadi tak heran kalau Kikyo langsung meneguk ludahnya begitu mendengar subjek tes hari ini.
Baiklah, Kikyo. Terima saja. Apa boleh buat.
Hadapi atau mati.
Kikyo melihat kalau di depan sana mulai muncul banyak sekali kepala dayang. Para kepala dayang itu hampir memenuhi tangga menuju ke balairung.
Para calon dayang—gadis-gadis dengan gaun merah—pun menyahut serentak.
“Dimengerti, Kepala Dayang!”
Kikyo celingak-celinguk saat mendengar orang-orang di sekelilingnya menjawab itu. Dia pura-pura membuka mulutnya saja supaya tidak dicurigai.
Setelah itu, mereka pun mulai dibariskan dengan rapi. Para kepala dayang mulai membagi kelompok per tiga barisan. Ada kelompok yang dibawa ke aula-aula istana bagian barat dan ada juga yang dibawa ke aula-aula bagian timur. Kikyo dapat satu kelompok dengan Seena, Hari, dan Ruya.
Kepala dayang di kelompok mereka mengarahkan mereka semua ke salah satu aula yang ada di bagian barat istana. Kikyo mengikuti seluruh instruksi dari kepala dayang itu bersama teman-temannya…hingga akhirnya mereka di tes satu per satu.
Tes cara berbicara yang sopan. Cara duduk. Cara berjalan yang elegan. Cara makan. Cara memasuki ruangan keluarga kerajaan. Cara memberi hormat. Cara melayani anggota kerajaan.
…dan lain sebagainya.
Meski orang yang ujian di aula itu banyak, Kikyo tahu bahwa suatu saat…gilirannya akan sampai.
Dia akan memulai perangnya.
******
Setelah berbagai kesulitan yang Kikyo hadapi, ternyata Kikyo berhasil mengikuti tes tata krama dengan baik.
Dia tadi hampir gagal dalam beberapa bagian tes. Contohnya, saat tes makan dengan elegan. Dia sudah belajar etika makan dari Nyonya Yori, tetapi saat makan gelembung ikan rebus, dia hampir saja muntah. Oh, dia benci gelembung ikan walaupun itu adalah makanan bangsawan. Untung saja, dia sudah terlatih memalsukan ekspresinya—karena terbiasa pura-pura baik-baik saja di depan Nyonya Yori—jadi dia masih bisa mengatasi itu walaupun sumpitnya hampir jatuh.
Saat tes cara memasuki ruangan anggota kerajaan, dia juga hampir gagal. Nyonya Yori mengajarkannya untuk mengetuk, menunggu, membungkuk, lalu melangkah masuk dengan kaki kiri dan tetap menundukkan kepala saat sudah dipersilakan masuk. Namun, dia hampir saja masuk dengan kaki yang salah. Untung saja, sebelum itu terjadi, dia tiba-tiba ingat suara mengerikan Nyonya Yori di belakang kepalanya yang selalu menyuruhnya untuk ‘ulang’ kalau dia salah kaki.
Saat dites memegang cangkir teh dengan benar pun, dia hampir saja mengeluarkan suara “Ow!” karena ternyata sangat cangkir itu sangat panas. Seharusnya cangkir tidak akan menyalurkan panas hingga ke pegangannya, bukan? Kok cangkir yang tadi itu agak aneh, sih? Apa para panitia tes sengaja mau membuat mereka gagal?!
Huh. Entahlah.
Saat tes berjalan dengan elegan pun, dia hampir saja tersandung gaunnya sendiri. s**l.
Namun, setelah semua kekacauan itu, untung saja dia…
…berhasil.
Dia lolos.
Dia terpilih untuk mengikuti tes selanjutnya esok hari.
Ternyata, didikan Nyonya Yori berhasil meskipun muridnya adalah jelmaan gorila tukang gulat seperti Kikyo. Tak heran Nyonya Yori dinobatkan menjadi pendidik bangsawan terbaik.
Kikyo bersyukur. Ternyata, nyawanya masih aman. Dia masih bisa membeli pangsit sore ini.
Dia selesai tes dan keluar dari gerbang istana sekitar jam lima sore.
Namun, sebelum pulang ke penginapan, dia langsung memenuhi hasratnya sejak tadi, yaitu membeli pangsit. Desa Saika ada di bagian timur Istana Seiju dan tidak jauh dari desa itu, ada sebuah pasar. Pasar itu bernama Pasar Cheondo. Sama seperti Desa Saika, Pasar Cheondo juga bersebelahan dengan Hutan Cheongdae.
Sebenarnya, tadi pagi, saat Kikyo mencari sarapan di depan penginapan…dia bertemu dengan gerombolan anak-anak. Mereka semua tengah memegang sebungkus pangsit di tangan mereka dan karena pangsit itu terlihat enak, Kikyo pun bertanya di mana mereka membelinya. Apakah itu dijual atau semacamnya.
“Iya, Kak, kami beli di Pasar Cheondo,” jawab salah satu dari anak-anak itu tadi pagi.
Maka dari itu, tujuan Kikyo sore ini tak lain dan tak bukan adalah: Pasar Cheondo. Titik.
Kikyo naik kereta kuda (angkutan umum) dari Istana Seiju ke pasar itu. Saat sampai di pasar itu, Kikyo tercengang. Dia kaget. Dikiranya pasar itu adalah pasar biasa. Namun, ternyata…ia salah besar!
Pasar itu ternyata sangat luas. Skala besar dan ramainya…sama seperti Pusat Perniagaan Hyugana di Hanju!!!
Gila. Ini benar-benar gila. Sore-sore begini pun…pasar ini sangat padat. Suara dari para penjual yang bersahut-sahutan, para pembeli yang berjalan ke sana kemari—ada yang menawar dan ada yang membeli—serta suara anak-anak yang tertawa riang sambil berlarian.
Ini seperti…bazar yang diadakan setahun sekali di pusat kota. Seperti ada festival atau sesuatu!
Jantung Kikyo jadi berdebar-debar begitu melihat pasar itu secara langsung. Hatinya langsung gembira. Senyumnya langsung merekah. Matanya langsung berbinar-binar.
Oke. Waktunya bersenang-senaaaaang!!!
Ini sempurna. Setelah pusing karena tes, akhirnya dia diberi hadiah berupa berbelanja di pasar yang terlihat seronok ini!!
Kikyo bisa melihat buah-buahan segar, kue-kue enak, dan daging-daging yang menggiurkan di depan sana. Dia juga bisa mencium aroma manis roti dan kopi dari sini.
Sial, perut Kikyo jadi lapar. Agaknya, dia tidak cuma akan membeli pangsit saja, nih. Haha.
Dalam hitungan ketiga, Kikyo langsung berjalan cepat memasuki area pasar itu.
Serbuuuu!!!! []