Chapter 11 :
Kingdom of Seiju (2)
******
KIKYO kembali menatap ke depan. Ke seluruh perempuan yang ada di lapangan itu. Mereka semua tampak excited meskipun tahu bahwa sebagian besar dari mereka akan gagal. Namun, sebenarnya…Kikyo bisa mengerti mengapa mereka semua rela mengambil risiko untuk mengikuti tes ini.
Menjadi dayang di istana raksasa seperti ini? Tentu merupakan sebuah kehormatan besar! Mereka akan dibayar oleh negara; bayaran mereka berasal dari anggaran untuk bangsawan yang mereka layani.
Agaknya, tes belum dimulai. Kikyo menebak kalau mungkin akan ada pidato atau sesuatu terlebih dahulu sebelum tes dimulai. Mereka harus diberikan instruksi terlebih dahulu, bukan?
Kikyo menarik dan mengeluarkan napasnya perlahan lewat mulut. Tangannya terkepal.
Baik. Gerbang sudah ditutup.
Kau tidak bisa kembali lagi, Kikyo. Memanjat pun percuma; temboknya tinggi sekali. Bagian atas tembok itu lancip dan dipenuhi dengan bendera Seiju. Penjaganya pun bersiaga. Kau bisa mati sebelum bisa melompat ke luar.
Pura-pura mati pun percuma. Kau tidak bisa menahan napas lebih dari semenit.
Ah, terserahlah!! Agaknya, mau maju atau mundur, semuanya akan menghadapkan Kikyo pada situasi yang mengerikan. Namun, kalau mundur, ancamannya jauh lebih banyak, jadi dia memilih untuk maju saja.
Oke. Saatnya menerima nasibmu, Kikyo. Besok-besok, rajin-rajinlah berdoa. Jangan gulat terus. Hidupmu jadi gila begini gara-gara kau jarang berdoa.
Tatkala sudah menatap ke depan dengan yakin, Kikyo pun mengangguk seraya berkata dalam hati, ‘Baiklah. Maju. Aku belum mau mati hari ini. Kata anak-anak di depan penginapan tadi, ada pangsit enak yang dijual di Pasar Cheondo. Aku harus beli pangsit itu nanti sore.’
Kikyo pun memulai rencana pertamanya. Dia harus mendapat relasi. Dia harus berbaur dengan calon dayang lain agar bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik sekaligus tahu lebih banyak tentang Seiju. Kalau tidak mencari kelompok atau teman, takutnya Kikyo akan ngang-ngong saja. Manusia di sini banyak sekali dann semuanya memakai baju merah. Balairung ini jadi terlihat seperti lapangan bunga bakung laba-laba merah yang superluas.
Kikyo mulai mendekati perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya. Ada tiga orang perempuan di depan sana, yang jaraknya paling dekat dengannya. Dia harus mendekati dan menyapa ketiga gadis itu.
Ini saatnya mempraktekkan bahasa Seiju yang sudah dia pelajari selama dua bulan belakangan.
Begitu sampai di dekat ketiga gadis itu, Kikyo pun mulai membuka suara.
“Halo. Boleh aku berbaris di dekat kalian?”
Ketiga gadis itu pun menoleh. Ada yang rambutnya pendek dan berponi. Ada yang rambutnya sebahu dan memakai bando kuning. Dua gadis ini rambutnya berwarna coklat gelap, sementara gadis yang satu lagi, rambutnya panjang dan berwarna krem.
“Oh, haloo!!” sapa gadis yang berambut pendek. Dia langsung meraih tangan Kikyo dan mengajak Kikyo untuk bersalaman. Senyumnya sehangat mentari. “Boleh, boleh!! Namaku Seena!”
Mata Kikyo melebar. Dia agak kaget. Sikap Seena ini…mengingatkannya pada Yexian.
Kikyo lantas mengangguk dan tertawa kikuk. “Ah—haha… Terima kasih. Salam kenal, Seena. Namaku Kikyo.”
Begitu jabatan tangan itu terlepas, Kikyo langsung menyalami dua gadis lain.
“Namaku Hari,” ujar gadis yang berambut sebahu begitu Kikyo bersalaman dengannya. Dia tersenyum manis. “Salam kenal, Kikyo.”
Kikyo tersenyum. “Salam kenal, Hari.”
Begitu Kikyo menganjurkan tangannya ke depan gadis yang satu lagi—yang berambut panjang—Kikyo agak heran. Ada jeda sejenak.
Tangan Kikyo tidak dijabat.
Kikyo memiringkan kepalanya ke sisi, lalu mulai menatap wajah gadis itu.
Ekspresi wajah gadis itu tampak agak sinis. Dia memperhatikan Kikyo dari atas ke bawah. Dari tatapan matanya, jelas sekali kalau dia sedang merendahkan Kikyo.
‘Astaga. Salah sasaran, nih. Kayaknya, yang ini agak sombong,’ pikir Kikyo. ‘Cantik-cantik kok sombong.’
Gadis itu…agaknya merasa bahwa dia lebih ‘tinggi’ daripada yang lain. Kalau memang merasa begitu, seharusnya dia berdiri sendiri saja. Tidak usah bergabung dengan Seena dan Hari.
‘Dia bergabung karena tak mau dianggap kesepian, mungkin,’ pikir Kikyo seenak jidatnya. Dia jadi kesal.
Tanpa membalas jabatan tangan Kikyo, dengan nada yang terdengar enggan, gadis itu pun berbicara.
“Ruya,” katanya.
Karena sudah dijawab, Kikyo pun menarik tangannya kembali dan tertawa canggung. “Ah—haha… Baiklah, Ruya. Salam kenal. Aku Kikyo.”
Ruya hanya menyilangkan tangannya di depan d**a dan membuang muka.
Waduh. Baru saja datang ke sini, Kikyo sudah membuat seseorang…tak suka padanya. Kikyo salah apa coba? Perasaan, sejak tadi dia hanya memperhatikan betapa megahnya Istana Seiju (dan memikirkan beberapa peluang untuk kabur, tetapi tidak bisa).
“Kikyo berasal dari daerah mana?” tanya Seena dengan ramah. Ia tersenyum manis, matanya setengah tertutup seolah-olah ikut tersenyum.
Kikyo menggaruk tengkuknya dan ikut tersenyum, tetapi masih terlihat canggung. “Umm…aku dari Desa Saika.” (Oke, ini bohong maksimal. Penginapannyalah yang ada di Desa Saika).
Tak mungkin juga dia memberitahu Seena kalau dia berasal dari Hanju, ‘kan? Dia ke sini untuk jadi mata-mata, bukan jadi mayat.
“Ohh!!” Seena terlihat bersemangat. “Kakekku tinggal di Desa Saika! Wah, kita bisa sering-sering bertemu, nih! Semoga kita bisa berteman baik, ya, Kikyo!”
“Hm!” Kikyo mengangguk senang, padahal tadi jantungnya sempat hampir berhenti berdegup saat mendengar kalau kakeknya Seena tinggal di Desa Saika. “Ayo berteman baik, ya!”
Ya sudahlah. Untuk masalah nanti, ya nanti saja dihadapinya. Yang penting, sekarang dia berbaur dahulu.
“Apakah kau mengikuti tes ini atas kemauanmu sendiri? Atau…kemauan orangtuamu?” tanya Hari dengan ramah.
Kikyo lagi-lagi menggaruk tengkuknya. “Ah… Orangtuaku sudah meninggal. Aku pergi ke sini atas kemauanku sendiri.”
“Oh, begitu!” kata Seena. “Aku juga begitu! Menjadi dayang kerajaan akan sangat menaikkan derajat keluargaku. Aku ingin dapat banyak teman sesama dayang juga di sini!”
Wah, Seena sangatlah…polos.
“Pfft, kau ini,” ujar Hari, membuat Seena tertawa riang.
Hari menatap Kikyo, lalu berkata, “Kalau aku, aku datang ke sini karena disuruh oleh Ayah dan Ibuku. Aku tak mau menjadi dayang, tetapi karena bayarannya sangat tinggi…kupikir tak ada salahnya aku mencoba.”
Kikyo tertawa geli. “Ya ampun. Ada-ada saja.”
Kikyo bilang begitu, padahal dia juga datang ke sini karena disuruh orang lain. Penyebab Kikyo datang ke sini pun ada hubungannya dengan uang.
“Sebentar lagi, sepertinya tesnya akan dimulai!” ujar Seena. “Katanya, mulainya jam sebelas, ‘kan?”
“Iya.” Hari mengangguk. “Seharusnya…sebentar lagi seseorang akan datang ke depan sana. Ke tangga menuju balairung itu.”
“Kok kau tahu?” tanya Seena seraya memiringkan kepalanya. Matanya membulat polos.
Hari mengedikkan bahu. “Aku bertanya pada gadis-gadis muda di desaku yang sudah pernah ikut tes tahun-tahun lalu.”
“Woah!!” Mata Seena berbinar-binar. “Itu luar biasa!!”
“Hmm,” deham Hari. “tetapi mereka gagal.”
“Ya jelas saja gagal,” potong Ruya tiba-tiba. “Kalau tidak gagal, apa yang mereka lakukan di desa itu? Mereka pasti masih tinggal di istana kalau berhasil menjadi dayang.”
“Kan bisa saja mereka berhenti atau pensiun!” protes Seena.
Ruya memutar bola matanya. “Kau ini bodoh atau apa? Dayang akan terus melayani sampai mereka meninggal dunia, diusir, atau kehilangan posisi mereka saat pergantian raja atau dinasti. Masa jabatan mereka bergantung pada masa hidup mereka atau kekuasaan raja yang mereka layani.”
“Oooooh…” Seena mengangguk dengan polosnya. “Begitu, ya…”
Ruya hanya memutar bola matanya lagi. Bodoh sekali, pikirnya.
Sementara itu, Kikyo cuma bisa tertawa canggung dan mengusap-usap punggung Seena. Dia berharap Seena tidak marah pada Ruya, padahal saat itu, Seena terlalu fokus pada pengetahuan yang baru saja dia dapat untuk bisa memproses ejekan Ruya.
Lagi-lagi, Kikyo heran mengapa Seena dan Hari menerima keberadaan Ruya di sini. Energi Ruya jauh berbeda dengan mereka. Gaya Ruya terlihat jauh lebih berkelas dan elegan, tetapi…mukanya masam. Tatapannya sinis.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang besar dari depan sana.
“Selamat pagi, semuanya. Selamat datang untuk para calon dayang yang akan mengikuti tes pada hari ini.” []