Chapter 10 :
Kingdom of Seiju (1)
******
SATU hari telah berlalu sejak Kikyo sampai di daerah Seiju. Kemarin, begitu hampir sampai di pusat kota Seiju—tepatnya di sebuah jalan yang agak sepi—Kikyo diturunkan dari kereta kuda Keluarga Jion. Di sana, sebuah kereta kuda yang merupakan angkutan umum sudah menunggu Kikyo. Kereta kuda Tuan Jion tak bisa mengantar Kikyo sampai ke pusat kota karena di permukaan luar kereta itu ada lambang bangsawan Kerajaan Hanju. Kikyo pergi ke sana untuk ‘memata-matai Raja Seiju’, jadi akan gawat apabila ada yang melihatnya turun dari kereta bangsawan Hanju.
‘Angkutan umum’ itu sudah diatur oleh Tuan Jion untuk Kikyo. Kereta itulah yang akan membawa Kikyo ke pusat kota Seiju dan mengantarkan Kikyo hingga ke sebuah penginapan.
Kikyo tentu dibekali uang dari Kerajaan Hanju sebelum ia berangkat. Tuan Jion juga memberikannya banyak uang untuk pegangan. Uang itulah yang nantinya akan Kikyo gunakan untuk makan, minum, berbelanja kebutuhannya, serta membayar penginapan selama menjalani masa tes untuk menjadi dayang di Kerajaan Seiju. Sebenarnya, jumlah uang itu lebih dari cukup; kalau mengingat berapa jumlah pengeluaran Kikyo per bulannya selama ini, uang itu cukup untuk menghidupi Kikyo selama setahun!
Kerajaan Hanju berjanji untuk membiayai Kikyo selama Kikyo masih menjadi mata-mata di Seiju. Jadi, jika uang Kikyo habis, Kikyo tinggal melapor saja.
Begitu sampai di penginapan, Kikyo langsung memesan kamar dan beristirahat. Perjalanan dari Hanju ke Seiju (yang memakan waktu sehari penuh itu) sangatlah melelahkan, terutama jika mengingat betapa berguncangnya kereta kuda yang Kikyo naiki saat melewati jalanan yang tidak rata. Tubuh Kikyo rasanya sudah hampir hancur; pinggangnya sakit luar biasa. Dia tak sanggup melakukan apa pun lagi. Rohnya seakan-akan sudah keluar separuh dan melayang-layang di atas kepalanya.
Kikyo langsung tepar saat melihat kasur. Dia tertidur—bahkan tak lagi bangun untuk makan—sampai subuh tiba. Dia baru mencari makan ke luar saat sudah jam tujuh pagi.
Setelah selesai sarapan, dia latihan tata krama dan bahasa Seiju sebentar di dalam kamarnya. Dia membaca buku-buku yang ia bawa, menghafal apa yang perlu dia hafal, dan mempraktekkan kembali semua yang sudah ia pelajari saat tinggal di rumah Yexian. Dia tak boleh gagal. Kepalanya bisa-bisa dipenggal.
Oke, itu belum tentu terjadi, tetapi siapa yang bisa menjamin keselamatannya kalau ia gagal?
Tak terasa, dua jam pun telah berlalu. Jam sepuluh nanti, dia harus sudah berangkat dari penginapan itu untuk pergi ke Kerajaan Seiju. Ke Istana Seiju.
Jadi, di sinilah Kikyo. Sampai di Istana Seiju tepat jam setengah sebelas pagi.
Gerbang supertinggi dan supermegah yang terbuat dari batu itu pun tertutup di belakang tubuh Kikyo. Suara tertutupnya gerbang raksasa itu berhasil membuat jantung Kikyo nyaris berhenti berdegup. Napasnya tertahan.
Banyak orang yang terdiam saat mendengar suara tertutupnya gerbang itu.
Suara itu bagaikan pertanda bahwa, “Tes telah resmi dimulai. Tidak ada jalan kembali.”
…dan Kikyo terdiam. Gadis itu spontan meneguk ludahnya. Dia baru saja masuk dan suara itu sudah sukses membuatnya mempertanyakan seluruh keputusan yang ia buat hingga hari ini.
Namun, Kikyo mencoba untuk tenang. Ia menghela napasnya perlahan. Ia pun mencengkeram tali tas selempangnya yang berwarna cokelat, lalu menatap ke seluruh area halaman istana. Jangkauan matanya meluas. Menyebar. Ia menyisir seluruh area halaman itu dari kanan…ke kiri.
Apa yang ia saksikan di sana sukses membuat mulutnya menganga. Matanya melebar sempurna.
Itu adalah lautan manusia.
Kikyo mematung di sana, wajahnya hampir memucat. Dia sampai lupa bernapas.
Sejak masuk ke halaman istana (lebih cocok disebut lapangan, sebenarnya), beberapa detik sebelum gerbang ditutup, ia tahu betapa gaduhnya situasi di sana. Namun, baru sekaranglah ia benar-benar melihat sekelilingnya. Melihat apa yang ada di halaman kolosal itu.
Gila.
Kikyo menggeleng tak percaya. Mulutnya masih menganga.
Ada banyak sekali manusia di sana. Halaman itu bagai seratus kali lipat lebih luas daripada halaman rumah Tuan Jion, padahal halaman rumah Tuan Jion sudah benar-benar luas.
Semua manusia yang berkumpul bak semut itu adalah perempuan. Perempuan-perempuan yang saling bercengkerama.
Ini… Manusia sebanyak ini…
Apakah mereka semua merupakan peserta tes untuk menjadi dayang di Istana Seiju?
Buset!! Serius, nih?!! Banyak sekali, astaga!! Mampuslah Kikyo!
Saking banyaknya, mereka seperti mau melakukan demonstrasi atau sesuatu. Namun, bedanya, semua pedemonya cantik-cantik. Rapi. Berpakaian merah, seperti Kikyo. Kikyo diberitahu oleh Tuan Jion bahwa dia harus memakai gaun berwarna merah saat tes nanti. Gaun merah itu sebenarnya dibelikan oleh Tuan Jion.
Kikyo mulai sedikit mendongak, melihat ke arah Istana Seiju yang jelas-jelas sudah ada di hadapannya saat ini. Di depan sana.
Begitu matanya memandang istana itu, ada angin kencang yang berembus dari segala arah. Angin tersebut membuat semua bendera Seiju yang tertancap di tembok terluar istana, rambut hitam milik Kikyo, serta gaun merah yang Kikyo kenakan, terembus dengan cukup kencang. Dalam riuhnya embusan angin tersebut, Kikyo melihat segalanya.
Istana itu sangat megah. Jauh lebih megah daripada Istana Hanju yang waktu itu Kikyo kunjungi.
Berbeda dengan Istana Hanju yang dominan berwarna biru muda, Istana Seiju dominan berwarna emas dan merah. Bangunannya sangat tinggi…dan besar. Sama seperti Hanju, Istana Seiju juga terdiri dari banyak sekali susunan bangunan. Ada bangunan yang tersambung dan ada juga bangunan yang terpisah. Seluruh bangunan itu ada di dalam satu lingkup daerah yang sangat luas. Namun, Kikyo yakin, di dalam sana…daerahnya berkali-kali lipat lebih luas daripada Hanju.
Ada berapa ribu manusia yang tinggal di istana ini?
Jika Istana Hanju mungkin bisa menampung tujuh ribu manusia, Istana Seiju mungkin bisa menampung hingga dua belas ribu manusia (kalau semua ruangannya terisi. Soalnya, sebagian ruangan di istana itu tidak dihuni secara rutin, contohnya aula, gudang, dan lain-lain).
Luas dan tinggi istana itu hampir tidak masuk akal, setidaknya di otak Kikyo yang terbiasa melihat rumah-rumah rakyat desa. Memang, ada rumor bahwa saat ini, Istana Seiju memiliki setidaknya 1000 bangunan dan lebih dari 8600 ruangan (Kikyo tahu ini dari Nyonya Yori), tetapi tak Kikyo sangka kalau melihat istananya secara langsung akan membuatnya tercengang sampai tak bisa bergerak.
Melihat istana itu yang dominan berwarna emas dan merah, Kikyo jadi paham mengapa mereka harus memakai gaun berwarna merah untuk tes hari ini. Sesuai dengan apa yang Kikyo pelajari bersama Nyonya Yori tentang Kerajaan Seiju, tempat Kikyo berdiri saat ini adalah lapangan di depan Balairung Kejayaan Agung. Balai itu menjulang sekitar 30 meter di atas permukaan alun-alun di sekitarnya dan menjadi pusat seremonial kegiatan kerajaan. Raja (atau anggota kerajaan) menggunakan tempat itu untuk membahas urusan negara, bertemu dengan rakyat, mengadakan pemilihan dayang, penjaga, atau pasukan kerajaan, serta acara-acara besar seperti penobatan dan pernikahan kerajaan.
Daripada istana kerajaan, ini lebih cocok disebut sebagai istana kekaisaran…
Seiju ternyata memang sangat kuat. Sangat kaya. Masyhur.
Pantas saja Raja Zyran penasaran. Pantas saja orang-orang dibuat heran sekaligus ingin tahu apa sebabnya. Apa rahasianya.
Kikyo mulai memperhatikan tembok yang ada di sekeliling istana. Istana ini agaknya membentuk persegi panjang. Tembok itu sangat tinggi dan Kikyo ingat kalau bagian luar tembok itu dikelilingi oleh parit dengan sumber air buatan.
Tembok itu agaknya tebal sekali, tetapi meruncing di bagian atas. Kikyo tahu kalau tembok itu berfungsi sebagai pertahanan istana; di setiap sudut tembok itu terdapat menara pengawas. Kikyo menoleh ke belakang sejenak dan menemukan dua benteng yang sangat tinggi di sebelah kanan dan kiri gerbang masuk istana.
Seluruh tembok, menara, benteng, serta gerbang istana itu diberi warna merah keemasan dengan motif naga. Lukisan itu menunjukkan beberapa ekor naga yang terbang di langit, melewati pegunungan dengan pohon-pohon yang tinggi.
Kikyo lagi-lagi meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa kering. Kemegahan istana itu sangatlah menakutkan.
Kikyo tahu bahwa tugasnya tidak mudah, tetapi saat melihat realita yang terpampang di depan wajahnya saat ini, lagi-lagi ia terbangun. Sadar seratus persen bahwa dia sedang dihadapkan dengan situasi hidup dan mati.
Dia bagai dilemparkan ke samudra yang penuh dengan ikan raksasa. []