Chapter 9 :
Beauty of the Moon (3)
******
SAAT makan malam, seperti biasa Kikyo makan bersama keluarga Tuan Jion. Kikyo dan Yexian baru saja selesai mandi (ada baiknya kalau bagian mandi bersama itu dilewatkan saja sebab kalau orang lain tahu apa yang mereka lakukan di kolam, niscaya mereka akan melarang Yexian untuk mandi bersama Kikyo lagi) ketika para pelayan memberitahu mereka bahwa Tuan dan Nyonya Jion sudah menunggu di meja makan.
Kikyo dan Yexian langsung berganti pakaian dan buru-buru pergi ke ruang makan. Rambut mereka ujung-ujungnya hanya digerai, padahal biasanya Yexian akan tampil cantik karena ada banyak pelayan yang dipekerjakan khusus untuknya.
Saat sedang minum, Kikyo hampir tersedak karena tiba-tiba saja Tuan Jion berkata, “Apa yang kalian lakukan di kolam itu? Rambut kalian bahkan masih basah.”
Kikyo kontan melebarkan mata, lalu menatap Tuan Jion dengan ekspresi panik. “Ti—tidak ada, Tuan. Kami hanya man—”
“Kami sedang mandi, Ayah,” potong Yexian seraya tersenyum manis. “Ayah sudah mengganggu waktu mandi kami, omong-omong.”
Entah mengapa, senyuman Yexian itu terasa mengerikan. Kalau dilihat dengan mata, senyuman itu begitu manis! Namun, mengapa terasa mengerikan?! Seolah-olah ada aura hitam yang keluar dari tubuhnya.
Yexian ini…cantik-cantik ternyata s***s juga. Pelayan-pelayan yang ada di belakang mereka tiba-tiba bergidik.
Well, mereka tadi memang sedang mandi, sih, kalau kegiatan Yexian yang mau mengukur p******a Kikyo itu dikecualikan—
Ekhem.
Tuan Jion sempat mengernyitkan dahinya; dia agak tersentak, tubuhnya sedikit menegak tatkala mendengar dan melihat ekspresi Yexian. Namun, reaksinya itu malah membuat Nyonya Jion tertawa.
Meski hampir berkeringat dingin karena tingkah laku anaknya sendiri, Tuan Jion pun akhirnya menghela napas. “Ya sudah, maaf kalau mengganggu.”
“Uh-hmm!” seru Yexian dengan riang, dia masih tersenyum s***s.
Akhirnya, mereka semua pun mulai makan. Tidak ada suara apa pun yang terdengar, kecuali sedikit dentingan sendok.
Beberapa menit kemudian, Tuan Jion mulai mengajak Kikyo berbicara, “Oh, ya, Kikyo. Bagaimana dengan kelas-kelasmu?”
Kikyo langsung menatap pria berambut mustard itu dengan mata yang agak melebar. “O—Oh, ya. Baik-baik saja, Tuan Jion. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya.”
Tuan Jion pun tersenyum, lalu mengangguk. “Baguslah kalau begitu. Nyonya Yori juga berkata bahwa kau sudah mengalami banyak perkembangan.”
Tentu saja, Nyonya Yori akan melaporkan segalanya kepada Tuan Jion.
Kikyo sedikit menunduk hormat, lalu berkata, “Aku bersyukur, Tuan.”
“Semangat, ya, Kikyo,” ujar Nyonya Jion. Wanita itu tersenyum lembut kepada Kikyo. “Pelajaran untuk menjadi wanita yang ‘pantas’ memang sangat sulit dan menyebalkan, tetapi itu semua akan bermanfaat untukmu.”
Kikyo tersenyum, lalu mengangguk. “Baik, Nyonya.”
Tuan Jion lanjut makan sebentar, lalu menelannya dan berkata, “Kau telah mendapat tugas penting dari negara. Jika kau berkhianat, ancamannya adalah kehilangan nyawa. Namun, jika kau menjalankan tugas itu dengan baik, Kerajaan Hanju pasti akan selalu melindungimu. Kau akan menjadi sebuah eksistensi penting yang harus kami lindungi. Hiduplah dengan baik, jalanilah tugasmu dengan benar, dan kau akan baik-baik saja.”
Kikyo mengangguk. Dia mendengarkan seluruh nasihat dari Tuan Jion itu dengan saksama.
“Bagaimana denganmu, Yexian?” Nyonya Jion mulai bertanya pada Yexian, membuat Yexian lantas menoleh kepadanya. “Ibu lihat, kau lengket sekali dengan Kikyo. Apakah kau akan baik-baik saja jika Kikyo pergi nanti?”
Tuan Jion langsung menoleh kepada istrinya dan memberikan tatapan seperti, ‘Waduh, mengapa kau tanyakan?’, tetapi Nyonya Jion hanya mengangguk padanya seolah-olah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yexian pun menunduk. Dalam beberapa detik lamanya, Yexian hanya diam. Tatapan matanya mulai sendu.
Namun, akhirnya ia mulai berbicara.
“Bohong jika aku bilang bahwa aku baik-baik saja,” jawab Yexian. Gadis itu menghela napas, lalu mulai menatap ibunya kembali. “Akan tetapi, aku telah belajar banyak hal dari Kikyo. Aku akan menguatkan diriku dan menjalani hidupku dengan baik supaya kami bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat. Mulai sekarang, aku ingin sering-sering pergi ke luar dan bergaul dengan gadis-gadis seusiaku. Aku ingin mengubah diriku dan keluar dari zona nyamanku. Maafkan aku, ya, Ayah dan Ibu, karena terus-menerus membuat kalian khawatir.”
Yexian tersenyum. Dia sudah terlihat…yakin. Meskipun merasa sedih, dia telah menerima kenyataan bahwa Kikyo akan pergi dari rumahnya.
Akhirnya, Tuan dan Nyonya Jion tersenyum lega.
“Tidak, Yexian. Untuk apa kau meminta maaf? Ayah tidak pernah marah padamu. Lakukanlah apa pun yang ingin kau lakukan, Nak. Selagi itu bukan hal yang buruk, Ayah akan selalu mendukungmu. Kalau kau ingin tetap di rumah pun, Ayah akan menyediakan apa pun yang kau butuhkan.”
Yexian langsung menatap Ayahnya dengan mata yang menyipit. “Termasuk Kikyo?”
Kontan saja Tuan Jion mematung. Matanya membeliak.
Waduh. Itu agak…
Suara tawa Nyonya Jion mulai terdengar. Kikyo—yang tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kelakuan Yexian—ujung-ujungnya hanya tertawa kikuk. Sementara itu, Tuan Jion mulai mengelus dadanya. Dia mesti banyak-banyak bersabar dalam menghadapi Yexian, terutama setelah gadis itu mengalami transformasi yang besar seperti ini.
******
39 HARI KEMUDIAN
Pagi itu, matahari bersinar begitu cerah. Dua buah kereta kuda sudah bertengger di depan rumah Tuan Jion, telah berbaris dan siap untuk dinaiki. Ada beberapa penjaga yang berdiri di dekat kereta kuda itu; para kusir juga telah duduk di bagian depan kereta. Mereka semua sudah siap untuk berangkat ke Seiju hari ini, mengantarkan Kikyo ke sana untuk mengikuti tes menjadi dayang istana.
Tuan dan Nyonya Jion, Yexian, serta Kikyo kini sudah berdiri di depan pagar rumah Keluarga Jion. Beberapa pelayan terlihat hilir mudik membawakan barang-barang Kikyo dan meletakkannya di dalam kereta kuda. Ada juga beberapa barang pemberian Keluarga Jion (terutama Yexian) yang diletakkan di dalam kereta kuda.
Sambil menunggu para pelayan menyelesaikan tugas mereka, Tuan Jion pun mulai berbicara.
“Akhirnya, hari ini tiba juga, ya.”
Kikyo lantas menatap Tuan Jion, lalu menunduk hormat. “Iya, Tuan. Terima kasih banyak atas bantuan Anda selama ini.”
Tuan Jion mengangguk. “Angkat kepalamu. Tidak apa-apa.”
Kikyo pun menurutinya. Gadis itu tersenyum.
“Aku membawakanmu banyak makanan. Perjalanan ke Seiju akan memakan waktu sehari penuh, jadi kau butuh makan. Para penjaga dan kusir juga sudah membawa makanan mereka masing-masing. Hati-hati, ya, Kikyo,” ujar Nyonya Jion, lalu wanita paruh baya itu tersenyum.
Kini, Kikyo gantian menunduk hormat pada Nyonya Jion. “Terima kasih banyak, Nyonya. Saya benar-benar bersyukur atas—woahh!”
Tiba-tiba saja, Yexian langsung menghambur memeluk Kikyo, membuat Kikyo nyaris jatuh ke tanah. Kikyo cepat-cepat menegakkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Yexian dengan benar agar mereka berdua tidak oleng dan jatuh.
“Ye—Yexian?!!” teriak Kikyo. Gadis itu kaget bukan main; matanya melebar.
Namun, rasa kaget itu kontan menghilang. Soalnya, tiba-tiba saja…
…ia mendengar Yexian menangis.
Kelopak mata Kikyo perlahan-lahan turun. Tatapan matanya mulai terlihat sendu.
“Kikyo…” panggil Yexian di sela tangisnya. “Nanti…kita harus sering berkirim-kiriman surat, ya…”
Kikyo pun tersenyum lembut. Gadis itu mulai mengusap kepala Yexian…dan mengangguk. “Hmm. Pasti. Terima kasih atas segalanya, ya, Yexian. Semoga kau sehat selalu.”
Tangisan Yexian semakin kencang. Air matanya mulai membasahi baju Kikyo. “Iya, Kikyo… Semoga kau juga sehat selalu. Aku akan sangat merindukanmu. Kita harus bertemu lagi, ya.”
“Siap, Nona!” Kikyo menjawab Yexian dengan mantap, bak pengawal terlatih. Dia lantas mengangguk yakin. “Kita pasti akan bertemu lagi.”
Yexian mulai melepaskan pelukan itu, tetapi kedua tangannya kini memegang lengan Kikyo. Dia lantas menatap Kikyo dengan ekspresi serius. “Janji?”
“Janji!” jawab Kikyo sambil memberi hormat kepada Yexian. Kikyo melakukan itu seraya tersenyum.
Akhirnya, Yexian pun mengembuskan napas lega. Gadis cantik itu tersenyum, lalu kembali memeluk Kikyo.
“Aku membelikan banyak pakaian dan perhiasan untukmu. Nanti dipakai, ya,” perintah Yexian.
Mata Kikyo melebar. “Lho, ada perhiasan juga, ya? Bukankah kau bilang—”
“Ssstt.” Yexian melepaskan pelukannya, lalu menutup mulut Kikyo dengan jari telunjuknya. “Terima saja. Itu akan terlihat cocok untukmu.”
Akhirnya, Kikyo pun menghela napas. Dia tersenyum lembut pada Yexian…seraya menatap Yexian dengan penuh kasih sayang. Yexian adalah teman perempuan pertamanya.
“Baiklah. Aku pergi dulu, ya, Yexian.”
Meskipun matanya berkaca-kaca, meskipun ada sebuah gemuruh di dadanya yang mendorongnya untuk menangis, meskipun untuk bernapas rasanya berat sekali, Yexian pun akhirnya…mengangguk. Gadis itu tersenyum; dia memberikan senyuman perpisahan kepada Kikyo. Perpisahan yang ia harap hanya berlangsung sebentar saja.
“Hm. Hati-hati, ya, Kikyo. Semoga apa pun yang kau kerjakan di Seiju akan memperoleh keberhasilan. Aku akan selalu mendoakanmu. Aku menyayangimu.”
Kini, Kikyolah yang langsung memeluk Yexian. Tak ia sangka, dirinya yang selama ini berjiwa seperti laki-laki, justru hampir menangis tatkala mendengarkan kata-kata Yexian. Matanya berkaca-kaca. Mereka pun berpelukan dengan erat.
Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, Kikyo pun akhirnya naik ke kereta kuda yang telah menunggunya. Semuanya sudah siap; mereka tinggal berangkat.
Saat kereta kuda itu mulai berjalan, Yexian sempat meneriakkan, ‘Jangan lupa kirim surat, ya!’ kepada Kikyo. Kikyo pun mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Keluarga Jion.
Tatkala kereta kuda itu sudah benar-benar jauh dari rumah Tuan Jion, barulah Kikyo mengalihkan pandangannya dan menghadap ke depan.
Dia bersandar di kursinya dan menghela napas panjang. Dia memejamkan matanya sejenak.
Ketika matanya terbuka kembali, tatapannya mendadak berubah. Dia sudah terlihat siap. Penuh tekad. Penuh keberanian.
Baiklah.
Misi dimulai. []