MALAM YANG BERUBAH MENJADI MIMPI BURUK
Pangeran Kael menatap istana yang kini terbakar hebat. Asap hitam membubung ke langit malam, menutupi bintang-bintang yang biasanya bersinar terang di atas kerajaan Zephyria. Jeritan rakyatnya menggema di udara, bercampur dengan suara pedang beradu dan teriakan perang.
"Yang Mulia, kita harus pergi sekarang!" suara Sir Alden, panglima kerajaan yang masih setia, terdengar mendesak.
Kael menoleh, wajahnya dipenuhi amarah dan kepedihan. Ia ingin bertarung, ingin membalaskan dendam ayahnya yang baru saja dibunuh oleh Jenderal Draven. Namun, Alden memegang pundaknya dengan kuat.
"Jika Anda mati di sini, maka kerajaan ini benar-benar tidak akan memiliki harapan," kata Alden dengan tegas.
Kael mengepalkan tangan, menahan rasa sakit dan kemarahan. Ia menatap sekali lagi ke istana yang kini hancur sebelum berbalik dan mulai berlari bersama Alden menuju pintu rahasia di bagian barat istana.
Namun, mereka tidak bisa pergi dengan mudah.
PERTARUNGAN DI LORONG RAHASIA
Ketika mereka mencapai lorong bawah tanah yang menuju hutan, beberapa prajurit pengkhianat muncul menghadang. Mata mereka dipenuhi kebencian, pedang mereka terangkat tinggi.
"Akhir perjalananmu, Pangeran Kael!" salah satu prajurit itu berteriak.
Alden segera maju, mengayunkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa. "Lindungi diri Anda, Yang Mulia!"
Kael, meskipun hatinya masih dipenuhi duka, tak punya pilihan selain bertarung. Ia mencabut pedangnya dan menerjang lawan pertama. Ayunan pedangnya begitu cepat, menebas lawannya dalam satu serangan.
Pertarungan berlangsung sengit. Alden berusaha membuka jalan bagi Kael untuk melarikan diri. Namun, lebih banyak prajurit musuh berdatangan.
"Kita tidak bisa bertahan lama di sini," kata Alden, menghalau serangan lawan dengan perisainya.
Kael mengangguk dan mencari celah untuk keluar. Saat melihat kesempatan, ia berlari secepat mungkin menuju pintu keluar lorong. Alden tetap bertarung, memberikan waktu bagi Kael untuk kabur.
Namun, saat Kael menoleh ke belakang, ia melihat Alden dikelilingi oleh prajurit musuh.
"Alden!" Kael berteriak.
"Pangeran! Pergilah! Hiduplah untuk membalaskan dendam kerajaan kita!" teriak Alden sebelum salah satu prajurit menebaskan pedang ke dadanya.
Kael hanya bisa menggertakkan gigi sebelum melanjutkan pelariannya, menahan kesedihan yang semakin mendalam.
KABUR KE HUTANG LARANGAN
Kael berlari tanpa henti, jubahnya berkibar di belakangnya. Hutan Larangan terbentang luas di hadapannya, tempat yang konon dihuni oleh makhluk-makhluk mengerikan.
Namun, lebih baik menghadapi monster daripada kembali ke tangan musuh.
Ia memasuki hutan dengan hati-hati. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menciptakan bayangan gelap di sepanjang jalur yang ia lalui. Suara burung hantu dan hewan malam terdengar, menambah suasana menegangkan.
Kael terus berjalan hingga menemukan sebuah sungai kecil. Ia berlutut dan mencuci wajahnya, berusaha menenangkan diri.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" bisiknya.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Kael segera mencabut pedangnya dan bersiap bertarung.
Dari balik pepohonan, seorang perempuan muncul. Rambut hitamnya tergerai, matanya penuh perhitungan.
Kael menatapnya dengan curiga. "Siapa kau?"
Perempuan itu tersenyum samar. "Aku Lyra. Dan aku mungkin satu-satunya yang bisa membantumu selamat."