Kael berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap ke luar dengan waspada. Jalanan kota masih ramai meskipun malam mulai merayap. Cahaya lentera berkelap-kelip di sepanjang jalan berbatu, sementara suara musik dan tawa dari kedai minuman masih terdengar samar.
Ia membuka jubahnya, memperlihatkan pakaian sederhana yang sengaja ia kenakan agar tak mencolok. Namun, di balik kesederhanaannya, ada tanda kebangsawanan yang sulit disembunyikan—cara berdirinya, gerakan tangannya, bahkan tatapan matanya.
Pikirannya melayang ke tanah airnya, Kerajaan Zephyria. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ia tidak perlu berada di sini. Tapi pengkhianatan di istana telah memaksanya pergi. Kael mengepalkan tangan. Ia harus menemukan kebenaran dan kembali untuk merebut haknya.
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Kael memutuskan untuk turun ke kedai yang berada di lantai bawah penginapan. Ia membutuhkan informasi, dan tempat seperti ini biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang berbicara terlalu banyak setelah meneguk beberapa gelas minuman.
Saat ia menuruni tangga, suasana kedai semakin jelas—aroma bir, suara dentingan gelas, dan tawa keras para pelanggan. Namun, satu suara menarik perhatiannya.
"… mereka bilang seseorang dari negeri asing tiba hari ini. Sepertinya bukan pedagang biasa."
Kael berhenti sejenak di tangga, lalu perlahan berjalan ke arah meja sudut, di mana beberapa pria berkumpul. Seorang gadis dengan rambut panjang kecokelatan melayani mereka dengan cekatan. Matanya berkilat-kilat penuh kecerdikan, seolah ia lebih dari sekadar pelayan kedai biasa.
Kael memperhatikan dengan saksama, lalu duduk di meja kosong tak jauh dari sana. Ia memesan minuman, meski tak berniat meminumnya. Ia hanya butuh mendengar lebih banyak.
Namun, sebelum ia sempat menangkap pembicaraan lebih lanjut, seorang pria tinggi dengan luka di wajahnya tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Hei, kau orang asing, bukan?" suara pria itu kasar, penuh kecurigaan.
Kael mengangkat alisnya, tapi tetap tenang. "Aku hanya seorang pengembara."
Pria itu menyipitkan mata. "Banyak pengembara datang ke kota ini, tapi tidak banyak yang berjalan dengan kepala setegak itu. Kau bukan orang biasa, kan?"
Kael tersenyum tipis. "Apakah aku terlihat seperti bangsawan?"
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu tertawa keras. "Mungkin tidak! Tapi tetap saja, hati-hati. Kota ini tidak ramah pada orang yang tidak tahu tempatnya."
Setelah berkata begitu, pria itu kembali ke mejanya. Namun, Kael tahu, ia kini menjadi sorotan.
Sementara itu, gadis pelayan tadi meliriknya sekilas sebelum kembali bekerja. Kael merasakan sesuatu yang aneh—seolah gadis itu tahu lebih banyak dari yang terlihat.
SERANGAN DI MALAM HARI
Malam semakin larut ketika Kael kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu, namun tetap waspada. Pengalaman bertahun-tahun sebagai putra mahkota mengajarkan bahwa bahaya bisa datang kapan saja.
Dan ia benar.
Tak lama setelah ia berbaring, suara langkah kaki terdengar di lorong. Perlahan, gagang pintunya bergetar.
Kael langsung bangkit, menarik belati dari dalam pakaiannya. Ia bergerak ke samping pintu, menunggu.
Klek.
Kunci pintunya dipaksa terbuka. Seorang pria bertopeng menyelinap masuk, namun sebelum ia bisa bereaksi, Kael sudah bergerak cepat. Ia menangkap lengan pria itu dan menekannya ke dinding.
"Siapa yang mengirimmu?" suara Kael dingin dan tajam.
Pria itu berusaha melawan, tetapi Kael lebih cepat. Dengan satu gerakan, ia melumpuhkan pria itu dan menodongkan belatinya ke lehernya.
"Satu pertanyaan terakhir," katanya pelan, "jika kau menjawab, aku akan membiarkanmu pergi."
Pria itu terengah-engah, lalu tertawa kecil. "Kau pikir hanya aku yang datang?"
Kael langsung menyadari bahaya yang lebih besar. Ia menghantam kepala pria itu hingga pingsan, lalu mengunci kamar itu dari luar sebelum melesat pergi.
Ia harus keluar dari penginapan ini sebelum lebih banyak musuh datang.
Di lorong, suara langkah kaki lain terdengar. Kael bersiap, tapi sebelum ia bisa bertindak, sebuah tangan menariknya ke sebuah ruangan.
Ia hampir menyerang, tetapi terkejut saat melihat siapa yang menariknya.
Gadis pelayan dari kedai.
Ia menutup pintu dan menatap Kael dengan tajam. "Jika kau ingin tetap hidup, ikut aku sekarang."
Kael menatapnya curiga. "Siapa kau?"
Gadis itu tidak menjawab, hanya menarik tudungnya, memperlihatkan wajahnya dengan lebih jelas.
Kael terkejut. Ia mengenali wajah itu—wajah yang pernah ia lihat di salah satu gulungan laporan intelijen di istana Zephyria.
Nama gadis itu adalah Lyra. Dan ia bukan sekadar pelayan kedai biasa.
(Bersambung ke Bab 2...)