PERTEMUAN DIBAWAH CAHAYA BULAN
Pangeran Kael menatap wanita di hadapannya dengan penuh kewaspadaan.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya tegas, tetap menggenggam erat pedangnya.
Wanita itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Lyra, melangkah mendekat dengan tenang. Cahaya bulan yang menembus celah pepohonan menerangi wajahnya yang cantik namun penuh rahasia.
“Aku bukan musuhmu, Pangeran Kael,” katanya dengan suara lembut. “Aku tahu siapa dirimu dan apa yang telah terjadi di Zephyria.”
Kael mempersempit matanya. “Bagaimana kau tahu?”
Lyra tersenyum kecil. “Hutan ini penuh dengan bisikan. Aku mendengar segalanya.”
Kael tidak percaya begitu saja. “Dan mengapa kau ingin membantuku?”
“Aku punya alasan sendiri,” jawab Lyra singkat. “Tapi jika kau ingin bertahan hidup, kau harus ikut denganku.”
Kael ragu. Namun, dalam kondisinya sekarang, tanpa tempat berlindung dan tanpa sekutu, menolak bantuan bukanlah pilihan yang bijak.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi jika kau mencoba mengkhianatiku, aku tidak akan segan-segan menghunus pedang ini ke lehermu.”
Lyra tertawa pelan. “Kita lihat saja nanti.”
RAHASIA HUTANG LARANGAN
Lyra membawa Kael lebih dalam ke dalam hutan. Pepohonan semakin rapat, udara terasa lebih dingin.
“Hati-hati,” kata Lyra, “hutan ini bukan tempat biasa. Ada alasan kenapa orang-orang menyebutnya Hutan Larangan.”
Kael menoleh padanya. “Apa yang ada di sini?”
“Makhluk-makhluk yang tak bisa kau bayangkan,” jawab Lyra samar.
Mereka berjalan cukup lama hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang tersembunyi di balik rerimbunan pohon. Di sana, berdiri sebuah pondok kecil yang tampak tua namun kokoh.
“Ini tempatku,” kata Lyra sambil membuka pintu.
Kael masuk dengan waspada. Di dalam, ruangan itu dipenuhi berbagai ramuan, gulungan kertas, dan benda-benda aneh yang tidak dikenalnya.
“Kau seorang penyihir?” tanyanya.
Lyra tersenyum. “Beberapa orang menyebutku demikian. Tapi aku lebih suka disebut pelindung hutan.”
Kael mengamati sekeliling. Ia tidak pernah terlalu percaya pada sihir, tapi melihat bagaimana Lyra tampak begitu tenang di tengah hutan penuh bahaya ini, ia mulai meragukan keyakinannya sendiri.
“Lalu, apa rencanamu?” tanya Kael.
Lyra menatapnya serius. “Jenderal Draven tidak akan berhenti sampai dia memastikan kau mati. Kau harus menjadi lebih kuat jika ingin merebut kembali takhtamu.”
Kael mengepalkan tangannya. “Aku bersumpah akan membalaskan dendam ayahku.”
“Kalau begitu,” kata Lyra, “latihanmu dimulai sekarang.”
LATIHAN YANG TIDAK BIASA
Kael mengira latihan yang dimaksud adalah latihan pedang biasa. Namun, ia segera menyadari bahwa Lyra memiliki metode yang jauh berbeda.
“Letakkan pedangmu,” perintah Lyra.
Kael mengernyit. “Kenapa?”
“Kekuatan sejati tidak hanya berasal dari pedang,” jawab Lyra. “Kau harus belajar mengendalikan dirimu sendiri sebelum bisa mengendalikan takdirmu.”
Kael, meski ragu, mengikuti perintahnya.
Lyra lalu menuntunnya ke tengah hutan dan menyuruhnya duduk bersila.
“Dengarkan suara hutan,” katanya.
Kael mencoba, tapi yang ia dengar hanyalah suara angin dan dedaunan.
“Aku tidak mengerti,” katanya.
Lyra tersenyum. “Kau akan mengerti nanti. Tapi untuk sekarang, kita mulai dari dasar.”
BAYANGAN DARI MASA LALU
Latihan Kael berlangsung selama beberapa hari. Lyra mengajarkannya cara merasakan kehadiran makhluk lain tanpa harus melihat, bagaimana memahami ritme alam, dan bagaimana tetap tenang dalam situasi apa pun.
Suatu malam, saat ia berlatih sendirian, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat menutup matanya dan fokus, ia tiba-tiba melihat bayangan seorang pria.
“Ayah?” Kael terkejut.
Sosok itu berdiri di kejauhan, menatapnya dengan tatapan lembut namun penuh kesedihan.
“Kael,” suara itu bergema. “Jangan biarkan amarah menguasaimu.”
Kael terperanjat dan terjatuh ke tanah. Saat ia membuka matanya, sosok itu telah menghilang.
Lyra, yang melihatnya, bertanya, “Apa yang kau lihat?”
Kael menatapnya, napasnya memburu. “Aku… melihat ayahku.”
Lyra menatapnya tajam. “Itu bukan sekadar visi. Itu adalah peringatan.”
Kael mengepalkan tangannya. Ia tahu, perjalanannya baru saja dimulai.