Pukul tujuh pagi, pasar hewan Mraggen sudah penuh sebelum matahari sempat naik sepenggalah. Truk-truk ternak berjejer, suara kambing dan ayam bersahutan dengan tawar-menawar, dan bau kandang bercampur asap bakaran jagung dari lapak-lapak kecil di tepi jalan masuk. Wening berdiri di ambang gerbang pasar, mengapit map berisi surat keputusan yang baru semalam ditandatangani, tintanya masih terasa segar di ujung jarinya sendiri seolah ia bisa merasakan bobot setiap huruf yang tertulis di sana.
Hendra di sampingnya memegang pengeras suara kecil, tangannya sedikit gemetar bukan karena dingin. Parmin memarkir mobil dinas melintang di jalan masuk, menutup separuh akses, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya tanpa diminta dua kali.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu," suara Hendra pecah di corong, memantul ke atap-atap seng, "mulai hari ini pasar hewan untuk sementara ditutup atas perintah gugus tugas provinsi—"
Kalimatnya belum selesai ketika seorang pedagang unggas melempar keranjang bambu kosong ke tanah, debu mengepul di sela kakinya. "Sementara itu berapa lama? Sebulan? Setahun? Siapa yang bayar utang pakan saya?"
Suara lain menyusul, lalu lainnya lagi, seperti api yang menjalar dari satu sumbu ke sumbu berikutnya. Seorang perempuan setengah baya menggendong ayam dalam karung menudingkan jarinya ke arah Wening. "Kalian datang dari kota, kerja sebentar, terus pergi. Kami yang tinggal di sini, yang cari makan di sini!"
Wening tidak menjawab dulu. Ia berjalan dua langkah maju, melewati Hendra, berdiri di titik paling depan di mana siapa pun yang ingin melempar sesuatu akan mengenainya lebih dulu. Ia sudah menghitung risiko itu semalam, di kamar kosnya, sambil menatap peta tiga warna yang sudah berpindah dari dinding Puskesmas ke dalam laporan resmi. Ada harga untuk keputusan yang benar, dan ia memilih menjadi orang yang membayarnya di depan, bukan orang yang bersembunyi di baliknya.
"Saya paham ini merugikan," katanya, suaranya diusahakan tetap datar meski jantungnya berdebar keras. "Tapi pasar ini titik pertemuan hewan dari beberapa dusun sekaligus. Selama jalur ini terbuka, rantai penularan tidak bisa diputus. Ini bukan hukuman untuk Bapak-bapak. Ini supaya tidak ada lagi rumah yang kehilangan orang seperti keluarga Pak Kasdi, seperti Ningsih."
Nama-nama itu membuat sebagian orang terdiam sejenak, tapi kemarahan sudah punya nyawanya sendiri. Seseorang di belakang kerumunan berteriak bahwa pemerintah cuma cari alasan menutup usaha rakyat kecil sementara gua tetap dibiarkan berjalan diam-diam, entah dari mana kabar itu datang, mungkin titipan orang Haji Suparlan, mungkin ketakutan murni. Batu kerikil melayang, mengenai bahu Parmin yang refleks maju melindungi Wening, dan untuk sesaat suasana nyaris pecah jadi dorong-mendorong.
"Mundur," Wening berkata pelan ke Parmin, "biar aku yang di depan."
"Bu Wening—"
"Kalau aku mundur sekarang, mereka akan pikir kita takut sama omongan sendiri."
Petugas keamanan yang dikirim dari kecamatan berdiri kaku, tak yakin harus membentak siapa. Di kejauhan, di lapangan tempat panggung Pekan Raya berdiri setengah jadi, terdengar suara gergaji mesin dan tiang besi yang dijatuhkan, berdentang keras seperti lonceng yang salah nada. Beberapa pekerja bangunan menghentikan pekerjaan mereka, menatap arahan mandor yang tampak enggan, karena mereka pun sudah dibayar uang muka dan sekarang harus membongkar apa yang baru saja mereka dirikan.
Yuni muncul dari sela kerumunan membawa map berisi salinan data yang selama ini disimpannya diam-diam, wajahnya pucat tapi matanya tegas seperti pernah ia lihat pada Ningsih dulu, sebelum perempuan itu tiada. "Saya kader posyandu," katanya, cukup lantang agar terdengar, "saya yang catat siapa yang sakit, siapa yang meninggal. Bukan orang kota yang mengarang-ngarang. Kalau Ibu-ibu mau lihat catatannya, saya bawa."
Tak semua orang berhenti marah, tapi sebagian menurunkan suara, seolah kehadiran Yuni—salah satu dari mereka sendiri—mengubah sedikit arah angin. Seorang bapak tua yang selama ini diam di ujung barisan, dengan caping menutupi separuh wajahnya, melangkah maju dan berkata bahwa cucunya yang bekerja di gua sudah dua minggu demam tak sembuh-sembuh. Ia tidak tahu itu harus jadi bagian dari data siapa pun, ia hanya ingin cucunya sembuh.
Wening menatapnya lama, lalu mengangguk. "Bawa dia ke Puskesmas hari ini. Kami tunggu."
Di ujung lapangan, panggung terus dibongkar papan demi papan, kain spanduk bertuliskan PEKAN RAYA & SEDEKAH BUMI MRAGGEN digulung kasar oleh dua pekerja yang bekerja tanpa bicara, seperti menguburkan sesuatu yang belum sempat lahir. Seorang pedagang jajanan yang sudah menyewa lapak sejak sebulan lalu duduk di tanah, menangis tanpa suara, uang sewanya sudah dibayar penuh dan tak akan kembali.
Wening ingin berkata sesuatu untuk meredakan itu, tapi tak ada kalimat yang cukup adil untuk seorang perempuan yang kehilangan modal karena keputusan yang diambil demi orang-orang yang bahkan tak ia kenal namanya. Ia hanya berjongkok sebentar di sampingnya, menyodorkan map berisi nomor kontak posko bantuan darurat yang buru-buru dibuat semalam, sesuatu yang jelas tak sebanding.
Menjelang siang, kerumunan di gerbang pasar mulai surut, bukan karena reda amarahnya, melainkan karena lelah, dan karena tak ada lagi yang bisa dilempar selain kata-kata. Wening berdiri di sana sampai truk terakhir pedagang meninggalkan pelataran, debu mengendap di sepatunya, tangannya masih memegang map yang sama sejak pagi, kini agak lecek di sudutnya.
Hendra mendekat, menyerahkan botol air. "Bu Wening baik-baik saja?"
"Baik," jawabnya, meski suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia menatap ke arah lapangan, ke rangka panggung yang kini rebah setengah, ke barisan pedagang yang berjalan pulang membawa keranjang kosong. Peta di dinding Puskesmas mungkin sudah menunjukkan jalan yang benar, tapi tak ada satu pun garis di kertas itu yang bisa menghitung berapa banyak yang harus direlakan agar garis-garis lain berhenti bertambah.