Jam dinding Puskesmas Mraggen menunjuk pukul dua dini hari ketika keputusan itu akhirnya jatuh, dan Wening Pradipta menyadari tangannya gemetar bukan karena kurang tidur. Di depannya, peta tiga warna itu tergantung — merah untuk jalur legen, biru untuk air dan guano, kuning untuk pasar dan kontak manusia — dan di bawah cahaya lampu neon yang berdengung, garis-garis itu tampak seperti pembuluh darah sebuah tubuh yang sedang sekarat.
Ketua tim pusat, seorang lelaki berkacamata bernama dr. Antara, meletakkan salinan laporan gubernur di meja. "Perintah sudah turun," katanya. "Tapi perintah di atas kertas tidak membubarkan panggung yang sudah berdiri. Yang saya butuhkan sekarang bukan lagi bukti. Saya butuh urutan tindakan. Apa dulu, siapa mengerjakan, berapa jam."
Wening berdiri. Ia sudah membayangkan momen ini berminggu-minggu, tapi kini kerongkongannya kering. "Empat hal," katanya, dan suaranya lebih mantap dari yang ia duga. "Dan keempatnya harus jalan malam ini juga. Pekan Raya dibuka lusa pagi. Kalau kita menunggu subuh untuk rapat lagi, pedagang luar kota sudah masuk, peziarah sudah datang."
Ia mengangkat satu jari. "Satu: Pekan Raya ditunda. Bukan diperkecil, bukan dijaga ketat — ditunda. Sedekah Bumi boleh jalan tanpa kerumunan, di masjid dan mushola, per dusun. Ribuan orang dalam satu lapangan selama tiga hari adalah mesin penular yang tidak bisa kita rem sambil berjalan."
Camat Sudrajat, yang duduk di sudut dengan wajah kelabu sejak perintah gubernur dibacakan, membuka mulut. "Panggung utama biayanya—"
"Pak Camat," potong dr. Antara, tenang tapi dingin, "biaya panggung ada di laporan kerugian. Biaya nyawa tidak ada di laporan mana pun. Silakan lanjut, dr. Wening."
Wening menelan ludah. Ia tidak menikmati melihat Sudrajat menciut; ia hanya tahu tembok itu akhirnya retak. "Dua: gua ditutup malam ini. Bukan dibongkar, bukan dibakar. Ditutup untuk panen. Pekerja ditarik, mulut gua dipasangi garis dan penjagaan. Guano yang sudah teronggok di hulu ditutup terpal supaya hujan tidak membawanya lagi ke mata air. Kelelawarnya kita biarkan. Yang kita putus paparannya, bukan koloninya." Ia menoleh ke dr. Larasati, yang mengangguk pelan — pembelaan yang sudah mereka ulang sejak Bab-bab awal keraguan.
Hendra, berdiri di dekat pintu dengan mata merah oleh berhari-hari begadang dan duka yang belum kering, mencatat di buku kecilnya. "Pekerja gua akan menolak. Mereka digaji harian. Suparlan pasti sudah membisiki mereka."
"Aku tahu," kata Wening. "Karena itu Parmin dan kau yang turun, bukan orang pusat. Warga percaya wajah yang mereka kenal. Bawa Yuni. Bawa surat dari gubernur, tapi bicaralah dengan bahasa orang di sini."
Parmin, yang sepanjang rapat berdiri diam menyandar tembok — sopir yang berbulan-bulan lalu hanya mengantar dan menunggu di mobil — mengangguk sekali, mantap. "Jalan ke gua licin habis hujan, Bu. Saya bawa yang tembus lumpur. Kita berangkat sebelum orang bangun."
Tiga jari terangkat. "Tiga: pasar hewan. Bukan ditutup selamanya — dikendalikan. Hentikan dulu perdagangan hewan hidup lintas-kecamatan, pisahkan lapak, cuci kandang. Pedagang yang sudah terjadwal datang lusa harus dihubungi malam ini juga sebelum mereka berangkat." Ia menoleh ke Bagas. "Dokter, itu butuh daftar kontak pedagang yang cuma ada di kepala Pak Lurah pasar. Aku butuh Puskesmas jadi pusat panggilan sampai pagi."
Bagas — yang berbulan-bulan bersikeras bahwa tempatnya di samping ranjang pasien, bukan di depan peta — menutup map di pangkuannya dan berdiri. "Ruang tunggu kukosongkan. Dua perawat pegang telepon. Aku sendiri yang telepon Lurah pasar; dia berutang budi padaku." Tidak ada lagi nada menantang dalam suaranya. Hanya seorang dokter yang akhirnya melihat bahwa menyelamatkan satu orang dan menyelamatkan seribu orang adalah pekerjaan yang sama, dilakukan dari dua ujung.
Wening merasakan sesuatu mengendur di dadanya. "Empat: legen dan air. Ini yang paling sunyi tapi paling penting. Pot-pot deres yang dibiarkan terbuka semalaman harus ditutup malam ini. Setiap penderes didatangi, diberi penutup, dijelaskan kenapa. Mata air yang tercemar guano ditandai, dan warga diberi air bersih sementara. Kalau kita hanya menutup gua tapi legen terus mengalir dengan racunnya, kurva tidak akan turun."
Ruangan hening. Di luar, jangkrik dan gerimis tipis. Dr. Antara memandangi peta itu lama, lalu mengangguk. "Kita eksekusi paralel. Empat tim, empat penanggung jawab, lapor tiap dua jam ke sini." Ia menoleh ke Wening. "Peta ini yang memerintah malam ini, Dokter. Bukan Camat, bukan Broto, bukan saya. Anda yakin dengan tiap garis?"
Pertanyaan itu menohok. Wening ingat papan yang pernah ia hapus dengan tangan sendiri di depan tim, hipotesis air yang runtuh lalu bangkit lagi dengan mekanisme. Ia ingat pintu-pintu yang dulu tertutup, keluarga yang menyembunyikan yang sakit, dan bagaimana kepercayaan — bukan paksaan — akhirnya membuat data mengalir jujur. Ia tahu tidak ada peta yang sempurna. Tapi ia tahu peta ini dibangun di atas hal yang benar.
"Tidak ada garis yang saya karang," katanya. "Tiap titik ada namanya, tiap nama ada rumahnya. Kalau saya salah, saya salah di depan bukti yang bisa Anda periksa sekarang juga."
Dr. Antara tersenyum tipis — senyum orang yang sudah cukup lama di lapangan untuk tahu bahwa kejujuran seperti itu langka. "Kalau begitu kita bergerak." Ia menepuk meja pelan, seperti mengetuk palu. "Tunda Pekan Raya. Tutup gua. Kendalikan pasar. Amankan legen. Malam ini."
Kursi-kursi berderit. Hendra sudah menyambar jaket, Parmin memutar kunci mobil di jarinya, Yuni menggulung salinan peta ke dalam tabung, Bagas menuju telepon. Wening berdiri sesaat lagi di depan dinding, memandangi ribuan jam kerjanya yang kini berhenti menjadi gambar dan mulai menjadi tindakan.
Di luar jendela, langit Mraggen masih gelap. Tapi untuk pertama kalinya sejak nama-nama itu ditulis di papan, kegelapan itu terasa seperti sesuatu yang bisa dilewati — asal mereka berangkat sebelum fajar.