Kabut belum sepenuhnya turun ketika rombongan tiba di mulut gua. Tanah becek bekas hujan semalam meninggalkan jejak ban truk yang baru, dalam dan tergesa, mengarah ke gudang penyimpanan sarang di tebing selatan. Wening turun dari mobil dengan map di tangan, dan hal pertama yang ia lihat adalah dua orang menaikkan karung ke bak terbuka, cepat-cepat, seolah pagi punya batas waktu yang hanya mereka tahu.
"Itu guano," kata Hendra pelan, berdiri di sampingnya. "Mereka mau memindahkan sebelum tim pusat datang mengambil sampel."
Parmin sudah keluar dari mobil, berdiri menghalangi jalan sempit menuju gudang, tangan terlipat, tak bergerak. Salah satu pekerja menoleh, ragu, lalu memanggil seseorang di dalam.
Haji Suparlan muncul dari balik pintu gudang, kemeja necis yang aneh dipakai di tempat berlumpur seperti itu, seolah pakaian itu sendiri adalah bagian dari argumen yang hendak ia sampaikan.
"Ini properti pribadi, Bu Dokter," katanya, suaranya tenang, dilatih bertahun-tahun untuk terdengar seperti orang yang tak pernah salah. "Sarang dan guano ini sudah dibayar, sudah jadi hak dagang. Tidak ada hukum yang melarang orang memindahkan barangnya sendiri."
"Ada," jawab Wening. "Surat penghentian sementara dari provinsi berlaku sejak kemarin sore. Gua ini, dan segala isinya yang berkaitan dengan penyelidikan wabah, tidak boleh dipindahkan sampai tim pusat selesai mengambil sampel."
"Surat dari orang-orang yang belum pernah menginjak gua ini." Suparlan melangkah mendekat. "Bertahun-tahun saya kasih makan dusun ini dari sarang burung dan kotoran kelelawar yang kalian bilang penyakit. Sekarang kalian mau tutup, saya harus apa? Suruh anak buah saya jadi pengemis?"
Dari balik punggungnya, beberapa lelaki mulai berkumpul—bukan hanya pekerja gua, tapi juga wajah-wajah yang Wening kenali dari pasar, dari warung, orang-orang yang selama ini menggantungkan sebagian rezeki pada jaringan dagang Suparlan. Jumlah mereka bertambah cepat, seolah dikumpulkan sejak subuh, menunggu aba-aba.
"Penyakit ini bukan karangan!" seru salah satu dari mereka, entah dibayar atau memang percaya. "Sudah berapa lama kami hidup dari gua ini, baru sekarang ada yang bilang berbahaya!"
Hendra maju setengah langkah, tapi Wening menahan lengannya. Ini bukan saat untuk berdebat dengan kerumunan yang sudah dipanaskan. Ia menoleh mencari satu wajah yang bisa mengubah arah pagi ini.
Mbah Karto berdiri agak jauh, bersandar pada tongkatnya, memperhatikan tanpa bicara sejak tadi. Ketika akhirnya ia melangkah maju, kerumunan itu diam sendiri—kebiasaan lama menghormati orang tua yang tak bisa dihapus semalam oleh siapa pun, termasuk Suparlan.
"Aku yang dulu bilang ini kutukan," kata Mbah Karto, suaranya serak tapi jelas terdengar sampai barisan belakang. "Aku yang salah. Bukan roh leluhur yang membunuh keponakanku, tapi kelelawar dan guano yang Suparlan suruh kalian angkut tanpa sarung tangan, tanpa masker, demi upah recehan sementara dia sendiri tak pernah turun ke lubang itu."
"Itu fitnah, Mbah—"
"Tanyakan pada Warsito," potong Mbah Karto, tak peduli disela. "Tanyakan berapa lama dia demam sebelum akhirnya diakui sembuh. Tanyakan pada keluarga yang kau suruh diam waktu anaknya mati di gua itu, Suparlan, karena kau takut izin usahamu dicabut."
Riuh kecil pecah di antara kerumunan. Seorang perempuan di barisan belakang—Wening mengenalinya sebagai istri salah satu pekerja yang dulu menolak bersaksi karena takut dipecat—maju perlahan, wajahnya tegang menahan sesuatu yang lama ditahan.
"Bapaknya anak saya juga sakit dari gua itu," katanya, suara bergetar. "Dikasih uang biar diam. Saya diam karena butuh uang itu. Tapi sekarang tetangga saya juga sakit. Sampai kapan saya harus diam demi Pak Suparlan?"
Suparlan mencoba tertawa, mencari-cari kata, tapi untuk pertama kali sejak Wening mengenalnya, kata-kata itu tak datang secepat biasanya. Ia menoleh ke arah truk, ke arah karung-karung guano yang belum selesai dinaikkan, seolah menghitung berapa banyak lagi yang bisa diselamatkan sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Dari kejauhan, dua mobil dengan pelat dinas provinsi memasuki jalan setapak, disusul kendaraan tim pusat yang datang untuk memverifikasi lapangan. Petugas berseragam turun bersama dr. Larasati, membawa alat pengambil sampel dan map berisi surat perintah resmi bertanda tangan gubernur.
"Pak Suparlan," kata salah satu petugas pusat, nadanya datar, prosedural, tanpa perlu mengangkat suara untuk terdengar berkuasa, "kami perlu inventarisasi seluruh hasil panen sejak tanggal wabah pertama tercatat. Kalau ada yang sudah dipindahkan, itu akan dianggap menghalangi penyelidikan negara."
Kata "negara" itu, sederhana namun berat, membuat sebagian kerumunan yang tadi berkumpul mulai mundur diam-diam, satu-dua orang melepaskan diri dari barisan depan, seolah baru sadar sedang berdiri di sisi yang salah dari sebuah garis yang sudah ditarik jauh di atas kepala Camat maupun Suparlan sendiri.
Suparlan masih berdiri di tempatnya, tapi bahunya sudah tak setegak semula. Ia menatap Wening seolah ingin menemukan celah terakhir untuk menawar, seperti yang selalu berhasil selama ini—dengan uang, dengan ancaman, dengan kesabaran menunggu tekanan reda. Tapi kali ini tak ada celah yang tersisa: peta di dinding Puskesmas, kesaksian yang dulu dibungkam, sampel dari sayap malam, dan sekarang warganya sendiri yang berbalik bicara.
"Kau tidak akan menang sendirian, Bu Dokter," katanya akhirnya, pelan, lebih seperti gumaman kepada dirinya sendiri daripada ancaman.
"Saya tidak sendirian," jawab Wening, menatap Hendra, Parmin, Mbah Karto, perempuan yang baru saja bicara, dan petugas pusat yang mulai membuka gulungan pita pembatas di mulut gua. "Itu yang membuat bedanya."
Truk yang tadi setengah terisi tak pernah selesai dimuati. Karung-karung guano diturunkan kembali satu demi satu di bawah pengawasan tim pusat, dicatat, difoto, dikunci dalam gudang yang kini disegel dengan kertas bertanda tangan resmi—bukan lagi milik siapa pun untuk dipindahkan diam-diam.