Kamar itu dulunya gudang arsip. Wening menyuruh Parmin memindahkan dua lemari kaleng ke koridor, menggelar tikar dan kasur tipis, lalu menutup pintu dari dalam. Ia sudah demam sejak kemarin—panas yang datang seperti air pasang, surut sebentar lalu naik lagi lebih tinggi. Sekarang, di pagi ketiga, ia berbaring memandang langit-langit yang berjelaga, menghitung sendiri denyut nadinya di pergelangan tangan seperti menghitung tetesan infus yang tak ada.
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia sendiri yang menulis protokolnya di papan Puskesmas: siapa pun yang demam tanpa sebab jelas, isolasi diri, catat suhu tiap empat jam, jangan sentuh orang lain sebelum sampel bicara. Maka ia melakukannya pada dirinya sendiri, dan menemukan bahwa protokol yang di atas kertas terasa bersih itu, di dalam tubuh, adalah kesepian yang pekat.
Telepon genggamnya menjadi satu-satunya jendela. Ia menaruhnya di dekat bantal, layarnya menyala tiap beberapa menit. Peta di dinding Puskesmas kini hidup di kepalanya saja; ia meminta Yuni memotretnya tiap sore dan mengirimkan gambarnya, lalu Wening memperbesar tiap titik dengan jari yang gemetar demam, mencari klaster baru yang mungkin tumbuh selagi ia terbaring.
"Mbak, titik di Ngepoh nambah dua," suara Yuni pecah-pecah di seberang. "Yang satu tetangga Warsito. Yang satu lagi… penderes, Mbak. Deket pos deres."
Wening memejamkan mata. Penderes lagi. Rantai legen itu belum putus. "Kuesionernya jalan?"
"Jalan. Tapi yang tetangga Warsito nggak mau buka pintu."
"Jangan dipaksa." Suaranya sendiri terdengar asing, parau. "Titip pesan sama Mbah Karto. Kalau Mbah Karto yang datang, pintunya kadang kebuka."
Ia menutup telepon dan berbaring lagi, dadanya naik-turun berat. Dari balik pintu ia mendengar Puskesmas tetap bekerja: langkah Hendra yang cepat, suara Bagas memanggil perawat, gerobak sampel yang diseret Parmin ke ruang pendingin. Roda itu berputar tanpa dirinya di tengahnya. Ada yang melegakan dan ada yang perih dari kenyataan itu.
Sorenya Bagas mengetuk, tak masuk, hanya bicara dari luar daun pintu.
"Suhu berapa?"
"Tiga puluh sembilan koma dua."
"Batuk? Sesak? Ada bintik merah?"
"Tidak. Cuma panas dan ngilu semua."
Hening sebentar. "Wening, aku sudah minta darahmu dikirim bareng batch pagi. Larasati yang pegang. Sabar."
"Aku tahu prosedurnya, Bagas." Ia mencoba tertawa, tapi yang keluar batuk kering. "Aku yang bikin prosedurnya."
"Justru itu," kata Bagas pelan. "Orang yang bikin prosedur paling susah dijadikan pasien."
Malam datang panjang. Demam membuat pikirannya melantur ke tempat-tempat yang tak ia duga. Ia teringat keluarga di Bab-bab awal yang menolak membuka pintu—yang ia catat dengan jengkel di kuesioner sebagai 'data hilang', 'tidak kooperatif'. Sekarang, terbaring dengan tubuh sendiri jadi tanda tanya, ia mengerti sesuatu yang tak pernah masuk ke papan mana pun: bahwa menjadi orang yang mungkin membawa penyakit itu memalukan. Bahwa tubuh yang sakit ingin bersembunyi, bukan karena bodoh, tapi karena takut menjadi titik merah yang ditunjuk seluruh kampung. Ia menulis nama-nama orang di peta seperti menulis koordinat. Ia tak pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi salah satu titik itu.
Ia meraih telepon dan mengetik pesan untuk dr. Larasati, jarinya lambat. Sudah sampai? Balasannya datang tengah malam: Baru masuk mesin. Tidur, Wening. Kamu bukan tim malam ini, kamu subjek. Perbedaan itu membuatnya terjaga.
Menjelang subuh panasnya memuncak. Ia menggigil di bawah selimut sambil menatap layar peta yang ia potret—garis-garis merah legen, biru air-guano, kuning pasar—dan untuk pertama kalinya peta itu tampak bukan seperti hasil kerja, melainkan seperti daftar orang yang menderita seperti dirinya sekarang. Ia menangis, sedikit, dan malu pada dirinya sendiri karena menangis, lalu berhenti malu.
Pagi hari telepon berdering. Larasati.
"Wening. Dengar baik-baik." Suara virolog itu tenang, dan ketenangan itu sendiri sudah jadi jawaban. "Darahmu negatif untuk virusnya. Bersih. Aku ulang panelnya dua kali."
Wening menahan napas. "Lalu ini apa?"
"Kemungkinan besar tifoid, atau infeksi biasa. Kamu kelelahan, kurang tidur, minum air sembarangan di lapangan berminggu-minggu. Tubuhmu cuma menagih utang." Ada jeda. "Kamu bukan kasus berikutnya, Wening."
Ia menutup telepon dan berbaring diam sangat lama. Ada lega yang membuat tulangnya seperti mencair. Tapi ada juga sesuatu yang lain, yang tak mau pergi bersama kabar baik itu—bayangan orang-orang yang, ketika darahnya diperiksa, tidak mendapat kalimat kamu bersih. Yang menerima kalimat sebaliknya, sendirian, di kamar seperti ini, dari telepon seperti ini. Ia sudah menghitung mereka sebagai angka pada kurva. Sekarang ia tahu bentuk kamarnya, langit-langit berjelaganya, kesepiannya.
Siangnya ia membuka pintu untuk pertama kalinya. Hendra berdiri di koridor, wajahnya lelah, di tangannya papan tulis kecil dengan peta yang diperbarui.
"Katanya Mbak nggak apa-apa," kata Hendra, ragu antara lega dan tak percaya.
"Nggak apa-apa." Wening masih pucat, masih lemah, tapi ia berdiri. "Bukan virusnya."
Hendra mengangguk, dan matanya berkaca sesaat sebelum ia menutupinya dengan berdehem. Wening tahu ia sedang memikirkan adiknya di Karangsari. Ia tidak berkata apa-apa; ia hanya menepuk lengan Hendra, sesuatu yang beberapa minggu lalu takkan terpikir olehnya—sentuhan, bukan data.
Ia berjalan pelan ke ruang peta, satu tangan menempel dinding. Titik-titik itu masih di sana, merah dan biru dan kuning, dan Pekan Raya masih menghitung mundur di ufuk. Konflik belum selesai; gua masih terbuka, Broto masih menekan, laporan masih harus diperjuangkan. Tapi Wening memandang peta itu dengan mata yang berbeda dari mata yang meninggalkannya tiga hari lalu.
"Yuni," panggilnya. Kader muda itu menoleh. "Besok, kalau ada keluarga yang nggak mau buka pintu—jangan tulis 'menolak' di kuesioner. Tulis 'takut'. Beda penanganannya."
Yuni mengerutkan kening, tak sepenuhnya paham, lalu mencatat. Wening menatap papan itu lagi. Peta yang benar, ia mulai mengerti, tidak dibangun dari orang yang dipaksa jujur. Ia dibangun dari orang yang tidak lagi takut untuk jujur. Dan untuk itu, seseorang harus lebih dulu mengerti rasa takutnya—dari dalam, bukan dari seberang papan tulis.
Ia mengambil spidol, dan tangannya sudah tak gemetar.