Demam itu datang seperti kebanyakan gejala yang selama ini ia tanyakan pada orang lain: pelan-pelan, lalu sekaligus. Wening baru sadar tubuhnya menggigil ketika pena di tangannya berhenti di tengah kalimat, dan ia mendapati dirinya menatap kertas kuesioner tanpa membaca satu kata pun.
Ia meletakkan pena, menyentuh keningnya sendiri dengan punggung tangan — gerakan yang sudah ia lakukan entah berapa kali pada Bu Sari Darto, pada Mbak Surti, pada adik Hendra di Karangsari, tanpa pernah membayangkan tangan itu akan berbalik ke arahnya sendiri.
Panas. Bukan panas biasa bekas kelelahan atau terik siang di dusun.
Ia bangkit dari kursi lipat di sudut ruang Puskesmas yang sudah jadi markasnya selama berminggu-minggu, berjalan ke rak obat, mengambil termometer digital yang biasa ia selipkan ke kotak alat lapangan. Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol. Ia menunggu bunyi bip dengan cara yang aneh — separuh dirinya berharap angka itu normal, separuh dirinya, dokter yang sudah terlatih membaca data tanpa berbohong pada diri sendiri, tahu bahwa harapan bukan metode.
38,9.
Ia menatap angka itu lama, seolah kalau ditatap cukup lama angka itu akan berubah sendiri.
Di kepalanya, tanpa diminta, daftar kriteria kasus yang ia susun sendiri di papan tulis mulai berbaris: demam mendadak di atas 38, nyeri sendi, kadang mual, kadang bintik merah yang muncul belakangan. Ia menekan definisi itu ke dadanya sendiri seperti menempelkan cap. Demam mendadak — ya. Nyeri sendi? Ia menggerakkan pergelangan tangan, memutar bahu. Ada, sedikit, atau mungkin itu cuma pegal karena tiga hari terakhir ia menunduk di atas kuesioner dan peta.
Ia duduk kembali, tapi kali ini tidak menulis. Ia menghitung hari.
Sembilan hari yang lalu ia turun ke gua bersama Hendra dan Parmin. Sembilan hari — dan masa inkubasi yang mereka perkirakan dari kurva kasus, dari wawancara demi wawancara, berkisar antara lima sampai empat belas hari. Sembilan hari ada tepat di tengah rentang itu, di titik paling wajar untuk sebuah penularan menunjukkan diri.
Ia ingat APD yang mereka pakai malam itu seadanya — masker yang menempel tak rapat di pipinya, sarung tangan karet yang robek kecil di ujung jari telunjuk saat ia menahan diri pada batu licin. Ia ingat bau guano yang menusuk, kepakan sayap yang menyapu wajahnya dalam gelap, dan satu momen — hanya satu, tapi cukup untuk mengganggunya sekarang — ketika sesuatu yang tajam menggores punggung tangannya di dekat mulut lorong. Waktu itu ia pikir itu batu. Ia bahkan tidak berhenti untuk memeriksa, terlalu sibuk menstabilkan lampu senter dan mengarahkan Parmin ke celah berikutnya.
Sekarang goresan itu kembali ke ingatannya dengan berat yang berbeda.
Pintu terbuka. Hendra masuk membawa map berisi hasil pelacakan kontak kenduri, wajahnya masih menyala oleh semangat kerja yang belum lama ini tumbuh di dirinya. Ia baru mau bicara ketika matanya berhenti di wajah Wening.
"Mbak Wening kenapa? Pucat."
"Cuma kurang tidur," kata Wening, dan ia mendengar sendiri betapa buruk bunyinya — jawaban yang persis sama dengan yang selalu ia dengar dari warga yang menyembunyikan anggota keluarga yang sakit. Ia hampir tertawa getir mendengar dirinya sendiri mengucapkan alasan yang selama ini ia coba bongkar dari orang lain.
Hendra tidak langsung percaya. Ia meletakkan map di meja, lalu berjalan mendekat, mengulurkan tangan ke kening Wening sebelum sempat ditolak.
"Panas ini," katanya, suaranya berubah. "Sudah berapa lama?"
"Baru saja aku sadar." Wening menahan diri agar tidak terdengar seperti sedang menenangkan orang lain, karena itu justru yang biasa ia lakukan pada keluarga pasien — memberi jarak aman antara fakta dan ketakutan. Tapi kali ini fakta dan ketakutan ada di tubuhnya sendiri, dan tidak ada jarak.
"Aku panggil Dokter Bagas."
"Belum," Wening menahan lengan Hendra sebelum ia berbalik. "Belum perlu ramai-ramai. Biar aku catat dulu gejalanya sendiri, seperti yang kita lakukan ke semua orang." Ia mendengar dirinya berusaha menahan kepanikan dengan cara satu-satunya yang ia percaya — metode. Kuesioner. Data. Seolah kalau ia bisa memasukkan dirinya ke dalam kolom yang sama seperti Bu Sari Darto dan Pak Kasdi, ia bisa tetap jadi pengamat, bukan korban.
Tapi tangannya gemetar saat mencoba menulis nama sendiri di kertas kosong.
Ia berhenti di kolom "riwayat paparan," pena melayang di atas kertas. Gua. Sembilan hari lalu. Goresan di punggung tangan.
Ia menoleh ke jendela. Di luar, sore mulai turun di atas Mraggen, dan suara motor Parmin yang baru datang terdengar berhenti di halaman Puskesmas. Semuanya tampak sama seperti kemarin — kecuali bahwa untuk pertama kalinya sejak ia datang ke kecamatan ini, Wening merasa peta yang selama ini ia buat di dinding, dengan titik-titik merah dan biru yang mewakili orang lain, tiba-tiba punya satu titik lagi yang belum ia berani gambar.
Titik itu adalah dirinya sendiri.
Ia menutup map kuesioner pelan-pelan, seperti menutup sesuatu yang bisa pecah. Di luar, langkah Hendra menuju ruang Dokter Bagas terdengar tergesa, mengabaikan permintaannya untuk menunggu. Wening tidak menahannya kali ini. Ia hanya duduk diam, merasakan detak jantungnya sendiri lebih keras dari biasa, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Mraggen, ia tidak tahu apakah yang ia takutkan adalah penyakit itu sendiri, atau kenyataan bahwa selama ini ia selalu berdiri di sisi yang mengukur, bukan sisi yang diukur.