Telepon berdering pukul dua dini hari, dan suara Hendra di ujung sana sudah cukup untuk membuat Wening bangun dari posisi setengah tidur di kursi mess Puskesmas.
"Bu Wening, ke ruang arsip. Sekarang."
Ia tidak bertanya lagi. Sandalnya bahkan belum terpasang benar ketika ia menyeberangi halaman Puskesmas Mraggen yang gelap, hanya diterangi satu lampu neon di teras yang berkedip-kedip seperti kehabisan napas. Pintu ruang arsip—yang biasanya dikunci ganda sejak minggu lalu, sejak Wening sendiri yang memasang gembok tambahan—sudah menganga. Engselnya patah, kayu di sekitar kunci terkelupas seperti bekas dicungkil paksa.
Di dalam, Parmin berdiri memegang senter, menyorot lantai yang berserakan kertas. Kabinet map pasien terguling. Beberapa lembar kuesioner robek, sebagian lagi basah—seperti disiram sesuatu, entah air entah bensin yang untung tak sempat dinyalakan. Dan di sudut ruangan, kotak pendingin tempat mereka menyimpan sampel cadangan—yang belum sempat dikirim ke provinsi—tergeletak miring, tutupnya terbuka, es batu yang mencair menggenang di lantai bersama serpihan tabung yang pecah.
"Kulkas rantai dinginnya juga," kata Hendra, suaranya datar karena menahan sesuatu yang lebih besar dari marah. "Kabelnya dicabut. Sudah berapa jam, aku nggak tahu."
Wening berjongkok di samping kotak pendingin, mengangkat satu tabung yang masih utuh, memeriksa labelnya di bawah cahaya senter Parmin. Tulisan tangannya sendiri, buram karena lembap. Ia menghitung dalam hati—empat, lima, enam yang pecah. Sampel dari pekerja gua. Sampel dari Karangsari. Yang paling baru, yang paling penting, karena itu yang menghubungkan guano dengan darah manusia.
"Peta." Ia berdiri terlalu cepat hingga kepalanya berkunang. "Peta di ruang depan."
Ketiganya berlari melewati koridor. Peta tiga warna yang belum sempat rampung sepenuhnya—yang baru separuh jadi, merah untuk legen, biru untuk air-guano, kuning yang baru mulai ditandai untuk pasar—masih menempel di dinding, tapi robek di sudut kanan bawah, seolah seseorang menariknya buru-buru lalu diganggu sebelum sempat mencabutnya utuh. Benang merah yang menghubungkan titik-titik kasus putus di beberapa tempat, tergantung longgar seperti urat yang koyak.
"Mereka nggak sempat ambil semuanya," kata Parmin pelan. "Ada yang mengganggu mereka."
"Atau ada yang datang," sahut Hendra, menoleh ke arah pintu depan yang juga terpaksa dibuka.
Wening tidak menjawab. Ia menatap peta yang robek itu dan merasakan sesuatu yang lebih dingin dari takut—rasa telanjang. Berbulan-bulan kerja, ratusan rumah yang didatangi, ratusan kuesioner yang diperas dari mulut warga yang enggan bicara, semua itu bisa lenyap dalam satu malam kalau seseorang cukup nekat.
Dokter Bagas muncul dari arah mess, jaketnya masih dipakai asal-asalan di atas piyama. Ia melihat sekeliling, rahangnya mengeras. "Rekam medis pasien?"
"Belum kucek," kata Wening, dan mereka bertiga menuju rak arsip di sudut lain ruangan—yang menyimpan salinan rekam medis pasien yang dirawat, catatan gejala harian, hasil pemeriksaan Bagas sendiri. Rak itu juga terguling. Beberapa map hilang sama sekali. Yang tersisa berserakan, halamannya lepas dari jepitan, tercampur aduk hingga tak jelas lagi milik siapa.
"Kalau ini yang hilang," kata Bagas, suaranya nyaris berbisik, "kita nggak bisa buktikan urutan siapa sakit duluan. Nggak ada kasus indeks. Nggak ada apa-apa."
Wening menutup mata sebentar. Ia membayangkan laporan yang harus ditulis ulang dari ingatan, dari kepingan yang tersisa—dan ingatan bukan bukti. Ingatan bisa dibantah. Kertas yang hilang berarti kebenaran yang hilang, dan itulah yang justru diincar siapa pun yang datang malam ini.
Suara motor berhenti di halaman. Yuni turun tergesa, rambutnya masih diikat asal, mengenakan jaket yang dipakai terbalik. Ia pasti berlari dari rumahnya begitu Hendra menelepon.
"Bu Wening—" Ia berhenti sejenak melihat ruangan yang berantakan, lalu matanya berpindah cepat ke rak yang kosong. Bukan panik. Justru semacam kelegaan aneh yang membuat Wening bingung sesaat.
"Saya bawa," kata Yuni, membuka tas kain yang disandangnya sejak turun dari motor. Di dalamnya, dibungkus plastik rapi, ada map-map fotokopi—salinan kuesioner, salinan catatan Ningsih, salinan peta yang sudah difoto satu per satu dengan kamera ponselnya sejak bulan lalu. "Waktu itu, ibu bilang simpan cadangan di tempat lain. Saya taruh di rumah, di bawah tempat tidur Mbah saya. Nggak pernah saya kasih tahu siapa-siapa selain sampeyan berdua."
Wening menerima bungkusan itu dengan tangan yang sedikit gemetar, membuka lipatan plastiknya di bawah cahaya senter Parmin. Semua ada—tulisan tangannya sendiri, cap tanggal, nomor rumah tangga yang mereka datangi satu demi satu. Bukan asli, tapi cukup untuk merekonstruksi semuanya kalau yang asli benar-benar musnah.
"Sampelnya?" tanya Bagas.
"Sampel nggak bisa difoto, Dok," jawab Yuni, dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar. "Itu saya nggak bisa jaga."
Wening berdiri di tengah reruntuhan kecil itu—kertas basah, kabinet terguling, peta yang koyak—dan menyadari betapa tipisnya jarak antara kehilangan segalanya dan masih memiliki cukup untuk melanjutkan. Seseorang tahu persis apa yang harus dihancurkan agar mereka lumpuh. Seseorang tahu di mana arsip disimpan, kapan Puskesmas paling sepi, bagaimana caranya membuat semua ini terlihat seperti kemalangan biasa alih-alih serangan.
"Kita foto semua ini sekarang," katanya akhirnya, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan. "Kondisi ruangan, kerusakan, semuanya—sebelum orang lain sempat membersihkan atau membantah kejadian ini pernah terjadi. Hendra, telepon Kapolsek. Parmin, catat jam berapa kau terakhir lihat ruangan ini masih utuh."
Ia menatap peta yang robek sekali lagi, benang merah yang putus di beberapa titik, dan untuk sesaat merasa bahwa yang mereka lawan bukan lagi sekadar penyangkalan atau tekanan pejabat, melainkan sesuatu yang sudah berani mengangkat tangan langsung ke bukti-bukti yang selama ini mereka kira aman di dalam empat dinding Puskesmas.
Di luar, langit masih gelap, dan tak seorang pun di ruangan itu berkata siapa yang mereka curigai—karena semua orang, tanpa perlu diucapkan, sudah punya nama yang sama di kepala masing-masing.