Pohon aren itu masih berdiri di pematang, condong sedikit ke arah selokan, dengan bilah bambu penyadap yang sudah lapuk tergantung di batangnya seperti tulang yang dilupakan. Wening berdiri di bawahnya bersama Hendra dan Yuni, memandangi takik-takik lama di kulit pohon—bekas sadapan yang pernah dilakukan seseorang setiap malam, bertahun-tahun, sebelum berhenti begitu saja delapan bulan lalu.
"Ini pohon Kang Sentot," kata Yuni pelan, seolah menyebut nama itu masih butuh izin. "Dulu paling rajin. Legennya paling manis, kata Mak."
Rumah Kang Sentot ada di ujung dusun Ngepoh, agak terpencil, dikelilingi pekarangan yang mulai ditumbuhi alang-alang karena tak ada lagi yang merawatnya benar-benar. Delapan bulan lalu, saat Wening dan Hendra pertama mendatangi rumah itu—jauh sebelum peta di dinding Puskesmas punya bentuk, jauh sebelum kata "wabah" berani diucapkan keras-keras—istrinya menutup pintu dan berkata suaminya meninggal karena masuk angin biasa. Waktu itu Wening tak bisa memaksa. Ia hanya mencatat penolakan itu di kuesioner, lalu pulang dengan tangan kosong.
Sekarang pintu itu terbuka sendiri.
Bu Sentot duduk di amben, lebih kurus dari yang diingat Wening, dengan kain jarik yang sama compangnya, tapi matanya tidak lagi menghindar. Di sampingnya, Yuni menggenggam sebuah buku tulis bersampul cokelat yang sudah lecek di ujung-ujungnya—buku catatan Ningsih, yang selama ini disimpannya seperti pusaka.
"Ningsih pernah nulis soal Kang Sentot," kata Yuni, membuka halaman yang sudah ditandai dengan sobekan kertas kecil. "Tanggal segini. 'Sentot demam, ndak mau ke Puskesmas, katanya cuma capek deres.'"
Wening membaca tanggal itu dua kali, lalu membandingkannya dengan buku catatannya sendiri, dengan kurva epidemik yang sudah dibangunnya berminggu-minggu, dengan rentang masa inkubasi kasar yang pernah dihitungnya jauh di awal penyelidikan. Tanggal di buku Ningsih itu mendahului kasus Bu Sari Darto lebih dari tiga minggu. Mendahului Pak Kasdi. Mendahului semua nama yang selama ini berdiri sebagai jangkar di papan Puskesmas Mraggen.
"Bu," kata Wening, suaranya dijaga selembut mungkin, "saya tidak ke sini untuk mencari siapa yang salah. Saya cuma perlu tahu urutannya. Kapan persisnya Bapak mulai sakit."
Bu Sentot menatap Hendra dulu, seperti mencari izin dari orang yang wajahnya lebih ia kenal, baru kemudian menatap Wening.
"Habis Suro," katanya akhirnya, pelan. "Dia deres tiap malam, masuk hutan dekat gua. Katanya pot-potnya suka didatangi codot, tapi ya dibiarin, wong dari dulu juga gitu. Terus dia demam. Panas tinggi, muntah, matanya kuning. Saya kira thipus. Saya obatin sendiri, takut kalau dibawa ke Puskesmas malah dibilang aneh-aneh, malah nggak ada yang mau beli legen kami lagi."
Hendra menulis cepat, tapi Wening melihat tangannya sedikit gemetar di ujung pena—bukan karena data, tapi karena mendengar alasan yang begitu ia kenal: takut dihakimi, takut kehilangan penghidupan, takut jadi yang pertama disalahkan. Alasan yang sama yang membuat keluarga adiknya sendiri di Karangsari nyaris terlambat bicara.
"Berapa lama sebelum dia—" Wening tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Sepuluh hari," jawab Bu Sentot. "Sepuluh hari dari demam ke... ke habis. Saya kubur diam-diam, ndak bilang siapa-siapa penyakitnya apa. Saya takut, Bu Dokter. Saya kira kalau saya diam, ya sudah selesai. Saya nggak tahu itu bakal nular ke yang lain."
Ruangan itu diam sebentar. Di luar, angin menggoyang daun-daun aren dengan suara kering yang panjang.
Wening membuka buku catatannya sendiri, mencocokkan tanggal kematian Kang Sentot dengan tanggal Bu Sari Darto mulai jatuh sakit—selisihnya nyaris pas dengan masa inkubasi yang pernah ia hitung saat kurva epidemik masih terus menanjak. Ia mencocokkan lagi dengan laporan Parmin soal pot legen yang dibiarkan terbuka semalaman, dengan pemandangan yang mereka saksikan sendiri di pos deres—kelelawar hinggap di bibir pot, meninggalkan yang tak kasat mata di legen yang manis itu. Dan di ujung rantai lain, gua tempat Kang Sentot biasa lewat menuju pohonnya, tempat koloni kelelawar bersarang, tempat guano turun ke tanah setiap musim hujan.
Semua jalur yang selama ini berdiri sendiri-sendiri di papan—merah untuk legen, biru untuk air-guano, kuning untuk pasar—tiba-tiba bertaut di satu titik. Bukan tiga sumber terpisah. Satu sumber, tiga jalan keluar.
"Bu," kata Wening, menutup bukunya perlahan, "Bapak bukan yang bikin ini semua terjadi. Dia yang pertama kena, bukan yang pertama salah. Ada bedanya, dan saya mau itu jelas—buat Ibu, buat siapa pun yang nanya nanti."
Bu Sentot menangis tanpa suara, dan Yuni bergeser mendekat, menggenggam tangannya seperti dulu Ningsih pasti pernah menggenggam tangan-tangan lain di dusun itu.
Dalam perjalanan pulang, di jok depan mobil Parmin, Hendra menatap lurus ke jalan tanah yang berdebu.
"Delapan bulan kita kejar ini," katanya. "Ternyata titik nolnya cuma satu pohon."
"Satu pohon, satu gua, satu malam yang dianggap biasa saja," jawab Wening, memandang keluar jendela ke arah bukit tempat mulut gua tersembunyi di balik pepohonan. "Sekarang kita tahu dari mana perginya. Tinggal kita pastikan tak ada lagi yang berangkat dari sana."
Ia membuka peta lipat di pangkuannya, mencari ruang kosong di sudut kiri atas—ruang yang selama ini sengaja ia sisakan tanpa tahu untuk apa—dan menuliskan satu tanggal, satu nama, dengan tangan yang akhirnya berhenti ragu.