Pintu rumah Bu Painah pernah tertutup rapat dua bulan lalu. Waktu itu Wening masih membawa map kuesioner dengan cara berdiri yang menurutnya sopan, tapi oleh orang di baliknya didengar sebagai todongan. Pagi ini pintu itu terbuka sebelum ketukan kedua, dan Yuni-lah yang mengetuknya, bukan Wening.
"Bu Painah, ini Yuni. Ibu ingat saya kan, dulu suka bantu Bu Ningsih nimbang bayi."
Nama Ningsih bekerja seperti kunci. Bu Painah menatap Yuni lama, lalu ke arah Wening dan Hendra yang berdiri agak di belakang, memberi jarak yang mereka pelajari perlahan-lahan harus diberi. Perempuan itu akhirnya mundur satu langkah, membuka pintu lebih lebar, dan berkata pelan, hampir seperti mengaku dosa, "Mbak, masuk dulu. Ada yang belum saya ceritakan waktu itu."
Di dalam, di balik tirai kain yang menyekat ruang tengah dari kamar, terbaring seorang laki-laki tua yang ternyata adalah bapak Bu Painah, seorang bekas penderes yang sudah dua minggu tidak bisa bangun sendiri. Dua bulan lalu, saat Wening pertama datang, keluarga ini bilang tidak ada yang sakit. Kini Bu Painah duduk di tepi dipan, menggenggam ujung selendangnya, dan bercerita bagaimana mereka takut bapaknya akan dijemput dan dikucilkan seperti yang mereka dengar terjadi pada keluarga lain, takut nama mereka disebut-sebut di kelurahan sebagai sumber wabah.
"Kami kira kalau ndak dilaporkan, ya sudah, selesai sendiri," katanya. "Ternyata malah tambah lama tambah parah."
Wening menuliskan tanggal mulai demam, riwayat menderes, arah pohon aren yang biasa didatangi bapak Bu Painah setiap menjelang subuh, dan nama-nama tetangga yang pernah singgah menengok. Hendra menerjemahkan sebagian istilah yang diucapkan Bu Painah dalam basa krama alus yang canggung, tapi kali ini tak ada jeda kikuk di antara mereka seperti dulu. Ada semacam kelegaan yang menular dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, seolah kejujuran, begitu mulai mengalir, tak tahu cara berhenti.
Rumah Bu Painah baru permulaan. Sepanjang hari itu, dan hari-hari sesudahnya, pintu-pintu lain yang dulu tertutup mulai terbuka satu demi satu, seperti bendungan kecil yang jebol karena satu titik lemah, lalu menyeret titik-titik lain. Keluarga yang dulu bilang "cuma masuk angin biasa" kini mengaku ada yang sempat demam tinggi lalu membaik sendiri tanpa dibawa ke Puskesmas. Keluarga yang dulu menutup jendela rapat-rapat setiap kali petugas lewat, kini menunggu di teras dengan air putih dan kursi plastik disiapkan.
Di Karangsari, seorang perempuan bernama Bu Suminah menunggu sampai Yuni pulang lebih dulu sebelum akhirnya memanggil balik dari halaman belakang. Ia bercerita, dengan suara ditahan serendah mungkin, bahwa mertuanya sebenarnya meninggal tiga minggu sebelumnya, bukan karena "sakit tua" seperti yang mereka umumkan waktu itu ke tetangga, melainkan setelah tiga hari demam tinggi dan mimisan yang tak berhenti. Mereka menguburkannya cepat-cepat, tanpa lapor ke Puskesmas, karena takut rumah mereka ditandai dan anak-anak mereka dijauhi di sekolah. Wening menuliskan tanggal kematian itu di kuesioner dengan tangan yang sengaja ia perlambat, supaya Bu Suminah tidak merasa sedang diburu-buru untuk mengaku. Satu nama itu saja, ketika nanti disandingkan dengan catatan lain, akan menggeser garis awal kurva mereka mundur beberapa hari lagi—dan menghubungkan dua dusun yang selama ini mereka kira berdiri sendiri-sendiri.
"Bukan karena kita lebih pintar bertanya," kata Wening pada Hendra, malam itu, saat mereka menyalin catatan baru ke lembar rekapitulasi. "Mereka percaya sekarang. Itu bedanya."
Hendra tidak langsung menjawab. Ia masih menuliskan satu nama dengan tangan yang agak lambat—nama seorang anak muda di Karangsari yang, kalau dihitung dari tanggal demamnya, jatuh sakit hanya berselang beberapa hari dari adiknya sendiri. Ia berhenti sebentar, pena terangkat di udara, sebelum melanjutkan menulis. Wening membiarkan jeda itu berlalu tanpa menegur, karena ia tahu sebagian dari pekerjaan ini adalah membiarkan orang menanggung dukanya sambil tetap bekerja, bukan menyuruhnya berhenti merasa apa pun.
Ketika seluruh data baru dipindahkan ke dinding Puskesmas Mraggen, peta yang selama ini mereka anggap sudah cukup lengkap berubah wajah. Titik-titik baru bermunculan di sela-sela titik lama, sebagian berdiri sendiri, tapi lebih banyak yang justru mengisi ruang kosong yang selama ini mereka kira jarak aman—dan ternyata cuma jarak kesunyian, tempat orang memilih diam. Sebuah klaster kecil yang tak pernah tercatat muncul di ujung dusun Ngepoh, tepat di sepanjang jalur yang biasa dilalui para penderes menuju pohon-pohon aren, persis seperti yang mereka duga tentang kasus indeks yang mereka temukan sebelumnya. Bukan menyangkal, klaster baru ini justru mengunci dugaan itu makin kukuh: rantai itu memang menjalar dari sana, hanya selama ini sebagian besar matanya sengaja disembunyikan oleh mereka yang lebih takut pada tetangga daripada pada penyakit.
Dokter Bagas berdiri agak lama di depan dinding itu, tangan di saku jas, menghitung dalam hati. "Kalau ini semua ada dari awal," katanya akhirnya, "kurva kita seharusnya sudah menanjak lebih curam berminggu-minggu lalu."
"Berarti kita terlambat menyadari, bukan terlambat mencari," jawab Wening. Ia menempelkan pin merah terakhir untuk hari itu, tepat di titik rumah Bu Painah, lalu mundur selangkah untuk melihat keseluruhan gambar. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Mraggen, peta di depannya terasa jujur seutuhnya, bukan sekadar rapi.
Yuni berdiri di sampingnya, memegang buku catatan lusuh milik Ningsih yang sudut-sudutnya sudah melunak karena terlalu sering dibuka. "Bu Ningsih dulu bilang," katanya pelan, "kalau mau tahu isi rumah orang, jangan tanya, tapi temani dulu."
Wening menoleh. Kalimat itu terdengar sederhana, nyaris seperti nasihat dapur, tapi ia tahu persis berapa banyak yang selama ini terkubur di balik pintu-pintu yang menolak dibuka, dan berapa banyak yang akhirnya kembali karena ditemani, bukan diinterogasi. Ia menyalin kalimat itu di sudut catatannya sendiri, di bawah kolom terakhir yang belum lama ini masih kosong, lalu kembali menghadap dinding penuh titik yang kini, untuk sesaat, terasa lebih seperti janji daripada sekadar peta.