Pagi itu Wening tidak membawa map kuesioner di tangan.
Ia menyimpannya di dasar tas kain, di bawah termos dan kotak sampel kosong, seolah kertas bergaris tabel itu bisa membuat orang menutup pintu hanya dengan terlihat. Yuni berjalan di sampingnya mengenakan rompi kader posyandu yang sudah pudar warnanya, sementara Hendra memilih jalan kaki menyusuri gang Ngepoh yang masih becek bekas hujan semalam, bukan menunggangi motor seperti biasa. Mereka bertiga sengaja datang tanpa map, tanpa seragam dinas yang kaku, tanpa nada tanya yang terdengar seperti interogasi.
Rumah pertama yang mereka tuju adalah rumah berdinding papan di ujung gang—rumah yang dulu, berminggu-minggu lalu, menolak mereka dengan pintu terkunci dan jawaban lewat celah jendela. Wening masih ingat rasa gagal waktu itu, dan bagaimana ia pulang membawa satu baris kosong di kuesionernya yang kemudian ia coret sendiri di papan Puskesmas: *tidak bersedia diwawancarai*.
Kali ini Yuni yang mengetuk, bukan Wening. "Bu Ratmi," panggilnya pelan, "kula Yuni, anake Bu Ningsih rumiyin. Nyuwun waktune sekedhap."
Pintu terbuka lebih cepat dari yang Wening duga. Seorang perempuan setengah baya berdiri di ambang, wajahnya lelah, matanya berpindah dari Yuni ke Wening lalu ke Hendra, mengukur.
"Sampeyan sing biyen teka bareng kertas-kertas, nggih?" katanya, setengah menuduh.
"Nggih, Bu," jawab Wening, dan ia sengaja tidak menyebut kuesioner, tidak menyebut data. "Kula njaluk ngapunten menawi rumiyin kesane kula meksa. Sakniki kula mboten mbeta punapa-punapa, kejawi pengin ngertos kabare Bu Ratmi lan brayat."
Hendra menerjemahkan sebagian, meski sebenarnya Wening sudah cukup paham bahasa itu setelah berbulan-bulan di Mraggen. Yang berubah bukan bahasanya, melainkan urutan kalimatnya: bertanya kabar dulu, baru—kalau pintu tetap terbuka—bertanya yang lain.
Bu Ratmi mempersilakan mereka duduk di dipan bambu, meski tangannya masih meremas ujung kain jarik. Yuni yang memulai obrolan tentang cucu Bu Ratmi yang dulu ditimbang di posyandu almarhum Ningsih, tentang berat badan yang naik-turun, tentang hal-hal kecil yang tak ada hubungannya dengan wabah. Baru setelah teh disodorkan, setelah tawa kecil pecah karena Yuni menirukan gaya Ningsih mencatat sambil menggerutu, Bu Ratmi menghela napas panjang.
"Bapake anak niki—," katanya, lalu berhenti.
Wening tidak mengejar kalimat itu. Ia menunggu, membiarkan jeda itu berdiri sendiri, seperti yang tak pernah ia biarkan dulu.
"Bapake anak niki nate lara, rong minggu kepungkur. Mriang, njur wetenge lara, njur getihen saking irunge. Kula mboten wanton matur, mergi kula wedi disalahke, dianggep sumber lelara." Bu Ratmi menunduk. "Kula mung ngobati piyambak nganggo jamu. Sakniki sampun mari, nanging kula tetep wedi."
Tak ada yang menaikkan suara di ruangan itu. Hendra menuliskan sesuatu di buku kecilnya—bukan formulir Puskesmas, hanya buku bergaris biasa, seperti buku catatan Ningsih dulu—sambil sesekali mengangguk, membiarkan Bu Ratmi bicara dengan iramanya sendiri.
"Bu Ratmi mboten badhe disalahke," kata Wening akhirnya. "Kula namung pengin ngertos, supados sanes tiyang malih ingkang nandhang kados niku tanpa dipun bantu."
Perempuan itu menatapnya lama, seakan mengukur apakah kalimat itu jujur atau sekadar teknik lain untuk mengorek keterangan. Lalu ia mengangguk, dan mulai bercerita lebih banyak: siapa yang datang menjenguk suaminya waktu sakit, dari dusun mana, kapan gejalanya mulai, kapan mereka masih menderes legen di kebun belakang sebelum akhirnya berhenti sendiri karena takut.
Ketika mereka keluar dari rumah itu, Wening merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya: bukan kelegaan karena data bertambah, melainkan rasa berat di dadanya, karena ia tahu betapa lama ketakutan itu disimpan sendirian.
Rumah kedua dan ketiga lebih mudah—kabar tentang kedatangan mereka sudah menyebar duluan, dibawa dari mulut ke mulut oleh Yuni dan, tanpa diduga, oleh Mbah Karto sendiri, yang kini mengatakan kepada siapa pun yang mau mendengar bahwa "wong Puskesmas iki ora arep nyalahke, arep nulungi." Seorang ibu muda dengan bayi di gendongan bercerita tentang neneknya yang demam lalu meninggal diam-diam, dikuburkan cepat karena keluarga takut jenazahnya "diambil buat diperiksa". Seorang lelaki tua mengaku dulu sengaja tidak melapor karena anaknya bekerja musiman di gua dan mereka butuh uang itu untuk makan.
Hendra mencatat semuanya dengan tenang, tapi Wening melihat rahangnya mengeras setiap kali mendengar cerita tentang demam yang disembunyikan—ia tahu bagian mana dari cerita-cerita itu yang mengingatkan Hendra pada rumahnya sendiri di Karangsari. Namun kali ini Hendra tidak memotong, tidak buru-buru menenangkan diri sendiri dengan angka. Ia membiarkan warga selesai bicara, baru kemudian menuliskan tanggal dan nama dengan tangan yang stabil.
Menjelang sore, ketika mereka duduk di teras balai dusun menghitung ulang catatan hari itu, jumlah nama baru yang masuk buku Hendra sudah lebih banyak daripada seluruh hasil kuesioner resmi dua minggu terakhir.
"Padahal pertanyaannya sama," kata Hendra, setengah tak percaya, menatap deretan nama itu.
"Bukan pertanyaannya yang beda," kata Wening pelan, memandangi gang-gang Ngepoh yang mulai temaram. "Yang beda, kita datang bukan buat mencari siapa yang salah."
Yuni menutup buku catatan dengan hati-hati, seperti menutup sesuatu yang berharga. "Simbah Ningsih biyen ya ngoten, Bu Wening. Mboten nate takon sinten sing salah. Namung takon, 'piye kabare'."
Wening tidak menjawab. Ia hanya menatap deretan rumah yang lampunya satu per satu menyala, memikirkan berapa pintu lagi yang mungkin, malam itu juga, akhirnya berani terbuka.