Hujan turun sejak subuh, membuat jalan setapak menuju rumah Mbah Karto berubah jadi lumpur licin yang menempel di roda sepeda motor. Wening turun di depan pekarangannya, memperhatikan bendera kuning yang tergantung miring di pucuk bambu — tanda ada orang meninggal — dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Mraggen, bendera itu tergantung di rumah dukun yang selama ini menyebut wabah sebagai kutukan leluhur.
Yuni sudah menunggu di teras, memegang payung yang tak lagi dipakainya. "Cucunya, Bu. Yang kerja ambil guano di gua," katanya pelan. "Baru kemarin sore."
Wening tidak langsung masuk. Ia berdiri sebentar di bawah atap seng yang bocor, membiarkan air menetes di pundaknya, mencoba menyusun kalimat yang tidak akan terdengar seperti petugas yang datang untuk mencatat nama baru di kertas kuesioner. Tapi begitu ia melangkah ke dalam, yang ia temui bukan orang yang perlu dihibur dengan kalimat hati-hati. Mbah Karto duduk di dipan bambu, tubuhnya lebih kecil dari yang Wening ingat, matanya merah tapi kering, seperti orang yang sudah kehabisan air mata sejak tengah malam.
"Duduk," katanya, tanpa basa-basi, tanpa mantra. "Aku sudah nunggu kamu dari tadi."
Wening duduk berhadapan dengannya, Hendra mengambil tempat di sudut dengan tas kuesioner yang untuk sekali ini tidak ia buka.
"Aku ndak mau nyalahin kamu," Mbah Karto memulai, suaranya serak. "Dulu aku bilang ini kutukan. Aku bilang sumur itu berkah, terus ada yang marah kalau disebut kotor. Sekarang cucuku mati, dan aku ndak bisa lagi bilang itu kiriman dari leluhur. Leluhur ndak makan orang sendiri."
Ia diam sejenak, jari-jarinya yang keriput meremas ujung sarung. Wening membiarkan jeda itu berjalan, tidak buru-buru mengeluarkan pulpen.
"Kamu tahu gua itu sudah tua," Mbah Karto melanjutkan. "Bapakku dulu juga masuk ke sana, ambil sarang buat dijual ke Tionghoa di kota. Tahun berapa itu — aku masih kecil, seingatku sebelum kemerdekaan diperingati sepuluh tahun. Ada empat orang mati, satu keluarga, semua abis dari gua. Orang bilang itu juga kutukan. Sekarang aku mikir ulang. Kutukan kok bisa milih-milih orang yang masuk gua."
Hendra menegakkan punggungnya. Wening merasakan sesuatu di dadanya mengeras — bukan kegembiraan, tapi kewaspadaan seorang yang tahu ia baru saja diberi data yang tak tercatat di mana pun.
"Ada catatannya, Mbah?" Wening bertanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Atau cerita yang masih diingat orang tua lain?"
"Catatan ndak ada. Yang ada cuma ingatan orang-orang tua, dan itu makin lama makin ilang," Mbah Karto menjawab. "Tapi aku inget karena bapakku sendiri kena. Demam tinggi, terus keluar darah dari gusi, terus ndak sampai seminggu. Persis kayak yang menimpa Bu Sari Darto. Persis kayak cucuku kemarin."
Wening menoleh ke Hendra, dan tanpa kata mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan. Ini bukan sekadar kesaksian orang berduka yang mencari alasan. Ini pola lama yang menegaskan pola baru — bukti bahwa gua itu bukan baru-baru ini saja menyimpan bahaya, melainkan sudah berkali-kali, terpisah puluhan tahun, dan setiap kali disembunyikan di balik cerita kutukan karena tak ada yang punya alat untuk melihatnya sebagai penyakit.
"Ada yang lain yang masih inget kejadian itu?" Hendra bertanya, akhirnya membuka tasnya, bukan untuk kuesioner standar, tapi untuk lembar kosong.
"Bu Ratmi, di ujung dusun. Umurnya sudah delapan puluh lebih, tapi ingatannya masih tajam. Dia adiknya salah satu yang mati waktu itu." Mbah Karto menatap Wening lurus-lurus, dan untuk pertama kalinya Wening melihat sesuatu yang berbeda di matanya — bukan lagi kecurigaan seorang yang merasa dunianya diserang orang luar, melainkan permintaan.
"Aku mau bantu," katanya. "Aku ndak ngerti ilmu kalian, angka-angka sama peta-peta itu. Tapi aku kenal semua orang di dusun ini. Aku tahu siapa yang nutupin sakitnya karena malu. Aku tahu siapa yang masih nganggep kamu musuh." Ia berhenti, menelan sesuatu yang terasa pahit. "Aku yang bikin mereka nganggep gitu. Sekarang aku yang bakal benerin."
Wening merasakan sesuatu yang hangat menjalar di balik tulang rusuknya, campuran antara lega dan berat, karena kepercayaan yang baru datang ini dibayar dengan nyawa seorang cucu yang tak akan pernah kembali. Ia tidak berkata "terima kasih" — kata itu terlalu ringan untuk menimbang apa yang baru saja terjadi.
"Peta yang kami buat," Wening berkata pelan, "ada tiga warna sekarang. Merah untuk legen, biru untuk air dan guano, kuning untuk pasar. Kalau cerita bapak Mbah benar, itu berarti garis biru itu sudah ada sejak lama, jauh sebelum kita datang."
"Bukan cuma benar," Mbah Karto menjawab, suaranya mengeras sedikit, seperti orang yang baru menemukan kembali harga dirinya. "Itu artinya gua itu memang sudah lama nunggu ada yang berani bilang yang sebenarnya. Bukan aku yang nemuin ini, tapi orang-orang tua sebelum aku sudah tahu, cuma ndak ada yang percaya mereka."
Di luar, hujan mulai mereda, meninggalkan bau tanah basah dan asap dupa yang masih menggantung tipis dari kamar dalam tempat jenazah cucunya disemayamkan semalam. Wening menatap Yuni yang berdiri di ambang pintu, mencatat semua yang baru saja didengarnya di buku kecil warisan Ningsih, dan ia sadar lingkaran yang selama ini menutup diri sedikit demi sedikit mulai terbuka — bukan karena paksaan kuesioner, bukan karena surat resmi Puskesmas, tetapi karena seorang tua yang kehilangan cucunya memilih menyerahkan ingatannya sebagai bukti, bukan lagi sebagai mantra.
"Aku akan antar kamu ke Bu Ratmi," kata Mbah Karto, berdiri perlahan, tulang-tulangnya berbunyi seperti kayu tua. "Tapi sebelum itu, aku mau kamu janji satu hal."
"Apa itu, Mbah?"
"Jangan bikin orang-orang di sini jadi kayak dituduh. Aku sudah bikin mereka takut sama kamu. Sekarang gantian aku yang bikin mereka percaya. Tapi itu cuma jalan kalau kalian datang buat nolong, bukan buat nyalahin."
Wening mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Mraggen, ia merasa peta yang selama ini ia gambar di dinding Puskesmas punya sekutu yang tidak ia duga — seorang yang dulu paling keras menyangkalnya, kini berjalan lebih dulu membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat oleh rasa takut dan cerita lama tentang kutukan yang, ternyata, hanya nama lain dari penyakit yang belum sempat dipahami.