Wening menghabiskan tiga malam untuk sampai pada tiga warna itu.
Bukan karena warnanya sulit dicari—Hendra tinggal membeli spidol di toko alat tulis dekat pasar, tiga batang, merah biru kuning, receh harganya. Yang sulit adalah memutuskan garis mana yang berhak disebut merah, yang mana biru, dan yang mana kuning, tanpa mengkhianati data yang sudah mereka kumpulkan susah payah sejak Bab pertama kuesioner disebar dari rumah ke rumah.
Papan itu sudah penuh sesak. Foto udara dusun Ngepoh dan Karangsari, ditempel jadi satu dengan lakban cokelat yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya, dipenuhi titik-titik kecil dari spidol lama—hitam untuk kasus, sudah lebih dari delapan puluh titik sekarang, menyebar dari empat nama pertama yang dulu ia tulis sendirian: Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih. Di sekeliling titik-titik hitam itu, bekas coretan yang dihapus dan ditulis ulang membekas seperti jaringan parut. Wening tahu setiap bekas itu punya nama: hipotesis air yang runtuh sebagian, hipotesis pasar yang setengah benar, garis waktu yang tak pernah benar-benar cocok sampai mereka membongkarnya ulang.
"Yang merah dulu," katanya pagi itu, berdiri di depan papan dengan spidol di tangan sementara Hendra memegang daftar nama di map plastik dan Parmin duduk di kursi paling belakang, ikut menyimak meski tugasnya cuma menyetir.
Merah untuk legen. Ia mulai dari titik-titik yang sudah mereka lacak sejak menemukan pot-pot deres di bawah pohon aren, sejak malam mengintai di pos deres bersama Parmin dan melihat sendiri kelelawar hinggap di mulut pot yang dibiarkan terbuka semalaman. Satu per satu ia tarik garis merah menghubungkan rumah-rumah penderes dan keluarga yang rutin minum legen pagi hari—delapan belas titik, lebih banyak dari yang ia duga ketika hipotesis ini baru berupa catatan kecil Parmin yang nyaris terlewat.
"Delapan belas," gumam Hendra, mencocokkan dengan daftarnya. "Termasuk yang di Karangsari."
Wening tidak menoleh, tapi tangannya berhenti sebentar di udara sebelum menyambung garis berikutnya. Karangsari berarti dekat rumah Hendra. Ia tahu itu, dan ia tahu Hendra juga tahu ia tahu, tapi mereka sudah sepakat—atau lebih tepatnya, Wening yang bersikeras—untuk tidak membiarkan itu menghentikan tangan yang sedang bekerja.
Biru berikutnya, untuk air dan guano. Garis ini lebih rumit karena harus menyusuri jalur yang tak kasat mata: dari mulut gua tempat Haji Suparlan mengelola panen sarang walet, turun mengikuti aliran hujan yang membawa kotoran kelelawar ke hulu mata air, lalu ke sumur-sumur yang dulu sempat mereka tandai lalu hapus lalu tandai lagi. Wening menarik garis biru itu berkelok, bukan garis lurus seperti merah, karena begitulah air mengalir—ikut kontur tanah, bukan ikut logika manusia yang ingin semuanya rapi.
"Ini yang paling susah dijelaskan ke warga," kata Bagas, yang baru masuk ruangan dengan map rekam medis di tangan, sambil melepas maskernya. "Air kelihatan jernih. Orang tidak percaya sesuatu yang jernih bisa membunuh."
"Makanya dipetakan," jawab Wening. "Supaya tidak perlu dipercaya begitu saja. Tinggal dilihat."
Ia menyambung tujuh titik biru, sebagian besar berimpit dengan titik merah—rumah yang sama, keluarga yang sama, terpapar dari dua arah sekaligus, legen dan air, yang selama ini membuat kurva sulit dibaca karena satu orang bisa masuk dua hipotesis berbeda.
Kuning yang terakhir, dan yang paling menyebar liar. Untuk pasar dan kontak manusia—pedagang hewan Mraggen, pelayat kenduri, keluarga yang saling kunjung ketika ada yang sakit, tetangga yang membantu memandikan jenazah tanpa tahu apa yang mereka sentuh. Garis kuning ini tidak mengikuti kontur tanah seperti biru, tidak mengikuti jalur pohon seperti merah—garis kuning mengikuti manusia, dan karena itu paling banyak bercabang, meloncat dari satu dusun ke dusun lain, bahkan menyeberang ke perbatasan kecamatan tetangga yang belum sepenuhnya mereka petakan.
Yuni datang membawa map lusuh peninggalan Ningsih tepat ketika Wening sedang menghubungkan dua titik kuning yang jauh terpisah. Gadis itu berdiri di ambang pintu, ragu-ragu, sebelum akhirnya masuk dan meletakkan map itu di meja.
"Ada nama yang belum masuk peta," katanya. "Bu Ningsih catat kunjungan ke rumah yang sakit batuk lama, dua bulan sebelum Bu Sari meninggal. Saya baru ketemu ini semalam."
Wening meletakkan spidol kuning, mengambil map itu, membacanya cepat—tulisan tangan rapi meski di kertas buram, tanggal dan nama dan gejala dicatat dengan disiplin seorang kader yang tak pernah tahu ia sedang menyusun bukti untuk sebuah wabah.
"Ini bisa geser semuanya," ujar Wening pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia tidak menambahkan titik itu sekarang—terlalu dini, perlu diverifikasi dulu—tapi ia menandai sudut papan dengan kertas tempel kuning kecil bertuliskan tanya, seperti bendera peringatan yang menunggu jawaban.
Ketika ia mundur beberapa langkah untuk melihat papan secara utuh, ruangan jadi hening. Tiga warna itu berkelindan di atas foto udara dua dusun—merah menjalar dari pohon ke pohon, biru berkelok dari gua ke sumur, kuning menyebar liar dari manusia ke manusia—dan di beberapa titik ketiganya bertemu, menumpuk di satu rumah, satu keluarga, satu nama yang sekarang berdiri sebagai simpul dari tiga jalur sekaligus.
"Ini bukan tiga wabah," kata Hendra akhirnya, suaranya agak parau. "Ini satu wabah, cuma jalan masuknya banyak."
"Betul," jawab Wening. Ia menatap papan itu lebih lama dari biasanya, mencoba melihatnya bukan sebagai dokter atau petugas surveilans, tapi seperti orang yang baru pertama kali masuk ruangan ini—dan untuk sesaat, ia berhasil. Yang tampak bukan lagi kumpulan titik dan garis, melainkan bentuk sebuah wabah yang selama ini tak bernama, kini punya wajah, punya jalur, punya logika yang bisa dilawan.
Tapi ia juga tahu peta ini belum selesai. Ada kertas tempel kuning di sudut yang belum terjawab, ada garis-garis yang masih perlu diverifikasi, dan di luar sana, di kantor kecamatan, ada orang-orang yang akan melihat peta ini bukan sebagai bukti melainkan sebagai ancaman terhadap Pekan Raya yang sudah mulai dibicarakan orang.
Ia menutup spidol kuning, meletakkannya di talang bawah papan bersama dua yang lain, lalu berbalik ke Hendra dan Parmin.
"Kita foto ini malam ini juga," katanya. "Sebelum ada yang minta dihapus."