Malam itu bau minyak tanah sampai ke hidung Wening sebelum ia melihat apa pun.
Ia baru turun dari mobil dinas Parmin ketika Yuni berlari menghambur dari kegelapan, napasnya putus-putus, sandal jepitnya berlumur lumpur. "Bu Wening, di gua—orang-orang mau bakar." Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa basa-basi, seolah kalimat yang lebih panjang tak sanggup ditahannya lagi.
Mereka memacu kaki menyusuri pematang menuju mulut gua di lereng Karangsari. Dari kejauhan sudah tampak kerlip oranye—belasan obor bambu berjajar, dan di antaranya seorang lelaki menenteng jeriken. Bau asap kayu bercampur karbit menyengat. Suara orang-orang bersahutan, sebagian menangis, sebagian meneriakkan yel yang tak jelas ujungnya, hanya getar amarah yang mengalir dari mulut ke mulut.
"Bakar saja sarangnya! Biar penyakitnya ikut mati!"
Hendra sudah lebih dulu tiba, berdiri di antara kerumunan dan mulut gua, kedua tangannya terentang seperti hendak menahan ombak dengan telapak tangan kosong. Wening mengenali beberapa wajah—salah satunya anak sulung Pak Kasdi, matanya merah, rahangnya mengeras. Dialah yang paling depan, jeriken di tangannya nyaris tumpah karena gemetar.
"Bapakku mati karena kelelawar sialan itu," katanya begitu melihat Wening mendekat. "Sekarang dokter-dokter bilang dari gua ini asalnya. Ya sudah, habisi. Apa lagi yang mau ditunggu?"
Wening tidak langsung menjawab. Ia berdiri sejajar dengan Hendra, membiarkan napasnya turun dulu, membiarkan matanya menyapu wajah-wajah yang menyala oleh api obor—bukan wajah orang jahat, pikirnya, hanya wajah orang yang kehilangan dan tak tahu ke mana harus mengarahkan kemarahannya.
"Aku ikut berduka soal Bapakmu," katanya akhirnya, suaranya diusahakan tetap datar, tidak menggurui. "Tapi kalau malam ini kalian bakar gua ini, besok penyakitnya tidak hilang. Yang ada, kalian bikin lebih parah."
"Kok bisa lebih parah? Sumbernya kan itu!" seseorang menyahut dari barisan belakang.
"Justru karena itu sumbernya, dia harus tetap tenang." Wening melangkah setengah maju, mengarahkan pandangan ke mulut gua yang menganga gelap, ke bayangan sayap-sayap yang sesekali berkelebat di ambangnya, gelisah oleh cahaya dan keributan. "Kelelawar-kelelawar itu sudah membawa virus ini bertahun-tahun tanpa sakit sendiri. Itu memang cara alam bekerja—ada hewan yang jadi tempat virus tinggal tanpa terganggu. Kalau kita usir paksa, bakar, atau bikin mereka panik, mereka akan kabur ke gua lain, ke atap-atap rumah, ke pohon-pohon di dusun sebelah. Mereka bawa virusnya ke tempat baru yang belum siap. Sekarang wabahnya masih bisa kita petakan di sini. Kalau koloni ini tercerai-berai, kita kehilangan jejaknya sama sekali."
Ia berhenti sebentar, membiarkan kalimat itu meresap, lalu menoleh ke arah Hendra, memberi isyarat kecil. Hendra, yang tahu betul bagaimana bicara dengan bahasa yang sampai ke telinga warga, mengambil alih dengan nada lebih dekat, lebih dari tetangga daripada petugas.
"Kalian ingat cerita Bu Wening soal pot legen yang dibiarkan terbuka semalaman?" katanya. "Kelelawar itu datang bukan karena jahat, tapi karena pot-pot itu memang jadi undangan terbuka. Itu yang bisa kita tutup. Itu yang ada di tangan kita, bukan di tangan kelelawar."
Anak Pak Kasdi masih menggenggam jeriken, tapi genggamannya sudah tidak sekeras tadi. "Terus kita disuruh diam saja? Biarkan gua ini tetap seperti biasa?"
"Bukan dibiarkan," Wening menjawab cepat, memastikan tak ada celah untuk disalahartikan. "Ada yang harus berubah, tapi bukan gua-nya yang dimusnahkan. Yang harus diubah itu caranya kita bersinggungan dengan gua ini. Bapakmu, dan yang lain, kemungkinan besar tertular bukan karena kelelawarnya jahat, tapi karena tidak ada yang melindungi ketika legen ditampung, ketika sarang dipanen, ketika guano dikorek tanpa masker atau sarung tangan." Ia menghitung dengan jari, seakan menata ulang papan di kepalanya di depan mereka semua. "Tutup pot legen sebelum malam. Pekerja gua wajib pakai alat pelindung—masker, sarung tangan, tidak boleh tangan kosong menyentuh guano basah. Atur waktu panen sarang walet, jangan tiap hari, jangan di jam-jam koloni ramai keluar-masuk. Itu yang memutus rantai. Bukan api."
Seorang lelaki setengah baya—mandor gua, Wening mengenali wajahnya dari kunjungan ke Haji Suparlan beberapa hari lalu—berdiri agak menjauh dari nyala obor, lengannya bersedekap. "Kalau diatur-atur begitu, panen jadi lambat. Siapa yang tanggung kalau setoran turun?"
"Yang bapak takutkan setoran," Wening menoleh ke arahnya, suaranya tak dinaikkan tapi juga tak lagi lunak, "yang orang-orang ini takutkan nyawa. Dua-duanya bisa diselesaikan tanpa membakar apa pun. Tapi kalau malam ini gua ini dibakar, saya jamin, minggu depan bapak masih akan kehilangan setoran—karena kelelawarnya sudah pergi entah ke mana, dan yang tinggal cuma abu serta wabah yang tetap jalan."
Hening sesaat. Angin malam membawa bau sarang burung dan lembap batu kapur bercampur asap yang mulai kehilangan semangatnya sendiri. Anak Pak Kasdi menurunkan jeriken ke tanah, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang terlalu berat untuk terus dipeluk.
"Kalau memang ada cara lain," katanya, suaranya pecah, "kenapa Bapakku tetap saja mati?"
Tak ada jawaban yang bisa membuat pertanyaan itu ringan. Wening tidak mencoba menghaluskannya. "Karena caranya belum ada waktu itu," katanya jujur. "Sekarang ada. Itu yang bisa kita pastikan tidak terjadi lagi pada orang lain."
Ia tidak tahu apakah kata-kata itu cukup. Sebagian obor mulai dipadamkan, diinjak ke tanah becek satu per satu, tapi sebagian lain masih menyala di tangan orang-orang yang berdiri diam, menimbang. Mandor gua sudah berbalik lebih dulu, menghilang ke arah jalan setapak yang gelap, seolah punya laporan lain yang harus segera disampaikan kepada seseorang yang lebih berkuasa dari sekadar warga yang berduka.
Wening menatap mulut gua sekali lagi, ke sayap-sayap yang perlahan tenang kembali di kegelapannya. Ia tahu malam ini baru satu obor yang berhasil dipadamkan. Api yang lebih besar—yang tersulut di ruang rapat kecamatan, di rekening seorang pengusaha sarang walet, di ketakutan yang lebih tua daripada semua kurva yang pernah ia gambar—masih menyala, menunggu giliran.