Hujan turun pelan di atas seng Puskesmas Mraggen ketika Wening masih duduk di ruang arsip, jam sudah menunjuk pukul sebelas lewat. Lampu neon berkedip sesekali, seperti ikut lelah menahan terang. Di layar laptopnya, sebuah surel kosong menunggu, kursor berkedip di kolom penerima yang baru terisi tiga huruf: dit.
Ia menghapusnya, lalu mengetik ulang. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Nama lembaga itu terasa jauh lebih berat daripada delapan kata yang menyusunnya, seolah tiap huruf adalah pintu yang, sekali diketuk, tak bisa ditutup lagi.
Di meja, tersusun rapi seperti barang bukti: salinan kuesioner rumah ke rumah, fotokopi kurva epidemik yang masih menanjak, hasil laboratorium dari dr. Larasati yang menyebut virus itu belum berklasifikasi, dan sebuah flashdisk kecil yang Yuni titipkan diam-diam dua minggu lalu—salinan dari salinan, disembunyikan dari jalur resmi justru supaya bisa diselamatkan kalau jalur resmi berkhianat.
Wening mengangkat flashdisk itu, menimang beratnya yang nyaris tak terasa. Begitu ringan untuk sesuatu yang bisa mengguncang sebuah kecamatan.
Ia sudah mencoba jalan yang benar. Laporan sudah ia susun, dikirim ke atasannya, ke kantor kecamatan, bahkan—lewat basa-basi rapat yang dipotong di tengah jalan—ke meja Pak Broto. Semua mental seperti melempar batu ke kolam yang sudah dibendung; riaknya tak pernah sampai ke mana pun yang penting. Dan tawaran mutasi yang disodorkan tiga hari lalu masih berdengung di kepalanya, terbungkus kata-kata sopan yang sebenarnya sebuah ancaman: pindah baik-baik, atau tinggal dan menanggung akibat sendirian.
Kalau ia kirim surel ini—ke pusat, atau ke kenalan lama di sebuah media nasional yang pernah sekelas dengannya waktu koas dulu—semua bisa berubah dalam hitungan hari. Pekan Raya bisa ditunda sebelum jadi ajang penularan raksasa seperti yang diproyeksikan model dr. Larasati. Tapi ia juga tahu persis apa yang dipertaruhkan.
Ia bukan pegawai biasa yang bisa dipecat lalu mencari kerja lain minggu depan. Melanggar jalur hierarki sebagai aparatur sipil punya nama sendiri di buku aturan, dan nama itu bisa berakhir dengan pemecatan tidak hormat, bahkan tuntutan pidana kalau data itu digolongkan rahasia dinas. Hendra bisa ikut terseret—namanya ada di setiap laporan lapangan, tanda tangannya menempel di kuesioner-kuesioner itu. Parmin, yang hanya seorang sopir, bisa kehilangan pekerjaan karena dianggap membantu. Dan Yuni—Yuni yang masih muda, yang mewarisi ketekunan Ningsih tanpa pernah diminta—bisa jadi sasaran pertama kemarahan orang-orang yang merasa nama desa mereka dicoreng di berita nasional.
Ia teringat wajah pekerja gua yang bersaksi lalu dipecat. Kebenaran, ia sudah tahu, selalu punya harga, dan yang membayarnya jarang orang yang mengambil keputusan.
Telepon di meja bergetar. Dr. Larasati, dari ibu kota provinsi.
"Belum tidur?" suara di seberang terdengar lelah, tapi masih waspada seperti biasa.
"Aku sedang menulis sesuatu," kata Wening, memandangi kursor yang masih berkedip. "Belum tahu berani mengirimnya atau tidak."
Ia menjelaskan—surel ke pusat, mungkin juga ke media, sebelum Pekan Raya yang tinggal menghitung minggu. Ada jeda panjang di ujung telepon, jeda yang biasa muncul kalau dr. Larasati sedang menimbang kata-kata ilmiah yang harus disederhanakan tanpa dibuat murahan.
"Datamu kuat," kata dr. Larasati akhirnya. "Tapi kuat untuk laboratorium belum tentu kuat untuk ruang sidang atau ruang redaksi. Begitu ini keluar dari jalur resmi, mereka tidak akan menyerangmu dengan sains. Mereka akan menyerang caramu mendapatkannya."
"Jadi aku diam saja?"
"Aku tidak bilang begitu." Terdengar helaan napas. "Aku bilang, kalau kau lempar ini keluar sekarang, dengan bukti yang masih berlubang di sana-sini, mereka cukup menemukan satu lubang untuk membuang seluruh isi ember. Sekali gagal, kau tidak akan dapat kesempatan kedua untuk didengar."
Kata-kata itu menempel, tak enak tapi jujur. Wening memandangi peta kasus yang tertempel samar di balik pintu ruang arsip—bukan yang lengkap di Puskesmas, hanya salinan kecil yang ia bawa untuk kerja malam. Titik-titik itu belum semuanya berwarna, beberapa jalur masih tanda tanya. Legen. Air-guano. Pasar. Ia tahu ketiganya belum benar-benar tertaut jadi satu garis yang tak terbantahkan.
Kalau ia menunggu, berapa banyak lagi yang akan sakit sebelum bukti itu cukup kokoh? Tapi kalau ia bergerak sekarang dan gagal, siapa yang akan percaya lagi ketika bukti itu benar-benar lengkap nanti?
Setiap pilihan, ia sadar, punya korbannya sendiri. Diam berarti mempertaruhkan nyawa yang bisa diselamatkan hari ini. Bicara terlalu cepat berarti mempertaruhkan kemungkinan didengar sama sekali, kelak, ketika suaranya paling dibutuhkan.
"Kalau kau mau menunggu," kata dr. Larasati pelan, seolah membaca keheningan di seberang, "jangan menunggu tanpa tujuan. Kasih dirimu batas. Kalau sampai hari tertentu jalur resmi masih buntu, kau kirim itu, dengan bukti sekuat apa pun yang kau punya saat itu."
Wening menatap kalender kecil di dinding, mencoret dalam kepala jarak hari menuju Pekan Raya. Ia menghitung mundur, seperti menghitung mundur kurva epidemik yang belum juga menekuk turun.
Ia menutup laptop tanpa mengirim surel itu, tapi tidak menghapusnya. Naskah itu tetap tersimpan di folder draf, seperti peluru yang sudah masuk laras namun pelatuknya belum ditarik. Flashdisk dari Yuni ia masukkan kembali ke kantong dalam tasnya, dekat dengan tubuhnya sendiri, bukan di laci mana pun yang bisa digeledah.
Di luar, hujan mulai reda, menyisakan tetes-tetes yang jatuh dari atap seng dengan jarak yang makin lebar, seperti hitungan mundur yang belum selesai. Wening mematikan lampu ruang arsip, tapi bukan tekadnya.