Angin sore itu bau debu jalan dan asap knalpot mobil dinas yang baru saja berhenti di depan kantor kecamatan. Wening berdiri di ambang pintu, masih memegang map berisi kurva mingguan yang belum sempat ia tempel di papan Puskesmas. Ajudan Pak Broto membukakan pintu belakang, dan lelaki itu keluar dengan senyum yang sudah ia kenal — senyum yang selalu datang tepat sebelum sesuatu diminta darinya.
"Dokter Wening," katanya, seolah mereka berjumpa di resepsi, bukan di tengah kecamatan yang sedang menghitung mayat. "Saya minta waktu sepuluh menit. Bukan rapat. Ngobrol saja."
Mereka duduk di ruang tamu kecamatan yang jarang dipakai, kursi rotan berdebu tipis, kipas angin berputar lambat di sudut. Pak Broto menaruh map cokelat di meja tanpa membukanya, seperti pistol yang sengaja diperlihatkan tapi tidak diarahkan.
"Saya sudah baca laporan-laporanmu," ujarnya. "Kerjamu rapi. Provinsi butuh orang seperti itu." Ia berhenti, membiarkan kalimat itu mengambang, lalu melanjutkan, "Ada posisi kosong di bidang surveilans provinsi. Struktural. Bukan lapangan lagi — kau yang akan mengarahkan tim-tim seperti timmu sekarang, dari kantor yang punya AC dan anggaran yang tidak perlu kau kemis-kemis dari Puskesmas kecamatan."
Wening tidak menjawab. Ia menatap map cokelat itu, mencoba menebak apa isinya, dan memutuskan bahwa isi map itu tidak penting — yang penting adalah apa yang tidak dikatakan Pak Broto.
"Dengan mutasi," Pak Broto meneruskan, "riwayat kerjamu di Mraggen otomatis jadi prestasi, bukan beban. Kau naik golongan. Kau tidak perlu lagi tinggal di losmen yang — maaf saya bilang begini — jelas bukan tempat untuk perempuan sepertimu, sendirian, dikelilingi orang yang marah setiap hari."
"Kapan saya harus jawab?" Wening akhirnya bertanya, suaranya datar, sengaja tidak memberi apa pun untuk dipegang.
"Secepatnya lebih baik. Sebelum Pekan Raya." Pak Broto tersenyum lagi, dan kali ini senyum itu turun sedikit, memperlihatkan sesuatu di baliknya. "Supaya semua bisa selesai dengan baik. Kau dapat posisi yang pantas, kami dapat kecamatan yang tenang menjelang acara besar. Laporan yang sudah ada — cukup sampai di situ. Tidak perlu ditambah-tambah lagi. Tidak perlu diributkan ke pusat."
Di situlah kalimat itu menampakkan wajah aslinya. Bukan penghargaan. Tawaran untuk pergi, dibungkus rapi supaya terasa seperti hadiah, bukan pengusiran.
Wening memandang ke luar jendela, ke arah jalan yang membawa ke Ngepoh, ke Karangsari, ke Puskesmas tempat papan datanya berdiri — dua warna yang sudah mulai terlihat menyatu, merah untuk pot legen yang dibiarkan terbuka semalaman, biru pudar untuk aliran air yang mereka duga membawa guano dari gua. Ia memikirkan nama-nama di papan itu. Bu Sari Darto. Mbak Surti. Pak Kasdi. Ningsih, yang catatannya sendiri kini jadi tambang data paling jujur di seluruh kecamatan justru karena perempuan itu sudah tak bisa dibungkam siapa pun.
Ia memikirkan pekerja gua yang bersaksi minggu lalu, lalu dipecat tiga hari kemudian, dan bagaimana ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain mencatat kejadian itu di map lain — map yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa pun kalau ia menerima tawaran ini.
Ia memikirkan Hendra, yang masih datang setiap pagi meski adiknya sudah tidak ada, menerjemahkan bahasa warga dengan mata yang tidak pernah benar-benar kering lagi. Kalau ia pergi, siapa yang akan duduk di sebelah Hendra saat kurva itu naik lagi?
"Golongan berapa?" tanyanya, hanya untuk melihat wajah Pak Broto berubah — dan benar, lelaki itu terlihat sedikit lega, mengira pertanyaan itu tanda ia mulai luluh.
"Bisa dirundingkan. Yang penting kau mau."
Wening menahan diri untuk tidak tertawa getir. Ia teringat malam ia berdiri di mulut gua, melihat kelelawar berputar keluar seperti asap hidup, dan bagaimana ketakutan itu terasa lebih jujur daripada ruangan berkipas ini. Ketakutan di gua punya bentuk yang bisa dipetakan. Ketakutan di ruangan ini menyamar jadi kebaikan.
"Saya belum bisa jawab hari ini," katanya akhirnya, memilih kalimat yang tidak menutup pintu, karena ia tahu menutup pintu terlalu cepat sama berbahayanya dengan membukanya.
Senyum Pak Broto mengeras sedikit, tapi ia mengangguk. "Jangan terlalu lama berpikir, Dokter. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali." Ia berdiri, merapikan map cokelat yang tak pernah dibuka, lalu berhenti sebentar di pintu. "Dan— jaga kesehatan. Kerja di lapangan seperti ini, siapa yang tahu kau tertular apa. Provinsi lebih aman."
Ia pergi sebelum Wening sempat membalas kalimat terakhir itu, yang terdengar seperti nasihat tapi terasa seperti ancaman yang dibungkus rapi, sama seperti tawaran itu sendiri.
Wening duduk sendirian di ruang tamu berdebu itu untuk beberapa menit, mendengar mobil dinas menjauh. Ia membuka map yang ia bawa sendiri — bukan map Pak Broto — dan menatap kurva yang masih menanjak pelan-pelan di sudut kertas. Ia bisa membayangkan hidupnya di provinsi: ruangan dingin, laporan yang ditandatangani orang lain, nama-nama yang jadi baris statistik tanpa wajah.
Ia melipat map itu, berdiri, dan berjalan keluar menuju arah Puskesmas, ke papan yang menunggunya, ke Hendra yang pasti sudah menyiapkan kuesioner hari itu. Ia belum menjawab Pak Broto. Tapi kakinya sudah menjawab lebih dulu, melangkah ke arah yang salah menurut kalkulasi karier mana pun, dan benar menurut satu-satunya peta yang masih ia percayai.