Wening baru menyadari betapa sunyinya jalan setapak menuju mulut gua saat matahari sudah condong ke barat. Bau tanah basah bercampur amonia menyengat dari kejauhan, dan suara kelelawar yang mulai terbangun dari tidur siang mereka terdengar seperti gemerisik daun kering yang tak pernah berhenti. Ia menunggu di bawah pohon randu bersama Hendra, jauh dari pos jaga tempat dua lelaki bertopi menyandang golok duduk mengawasi jalan masuk.
"Katanya dia mau ketemu, tapi bukan di sini," kata Hendra pelan, matanya awas ke arah pos jaga. "Takut kelihatan."
Mereka berjalan memutar lewat kebun singkong, menyusuri pematang yang berbatasan langsung dengan tebing kapur, sampai akhirnya sampai di gubuk reyot tempat karung-karung guano kering ditumpuk menunggu truk. Di sanalah seorang lelaki kurus dengan bekas ruam di lengan duduk memunggungi jalan, seperti sengaja tak ingin wajahnya terlihat dari kejauhan.
"Kang Slamet," panggil Hendra lirih.
Lelaki itu menoleh. Wajahnya lebih tua dari usianya—kulit legam terbakar matahari, mata cekung dengan lingkaran gelap yang bukan sekadar lelah biasa. Ia memberi isyarat agar keduanya duduk di balik tumpukan karung, seolah karung-karung itu bisa menyembunyikan mereka dari siapa saja yang lewat.
"Saya cuma bisa bicara sebentar," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Kalau mandor lihat saya ngobrol sama orang Puskesmas, besok saya nggak dipanggil kerja lagi."
Wening mengangguk, menahan diri untuk tidak buru-buru mengeluarkan kuesioner. Ia belajar dari rumah-rumah yang menutup pintu—kertas dan pena bisa membuat orang mengunci mulut lebih rapat. Ia hanya membiarkan tangannya diam di pangkuan, mendengarkan.
"Dulu di gua itu ada tujuh orang kerja rutin," kata Slamet. "Sekarang tinggal empat. Bukan pindah kerja. Mati."
"Mati karena apa?" Hendra bertanya, suaranya berusaha tenang meski Wening bisa melihat rahangnya mengeras.
"Demam. Batuk darah. Ada yang bilang masuk angin, ada yang bilang kena santet karena berani ambil sarang di lorong dalam." Slamet menggeleng, seperti membuang sendiri kata-kata takhayul yang baru diucapkannya. "Tapi saya kerja di situ tiga tahun. Saya tahu itu bukan masuk angin."
"Kapan yang terakhir meninggal?"
"Dua bulan lalu. Namanya Karto Diyo, bukan yang dukun itu, beda orang. Dari Ngepoh juga." Slamet meraih sebatang rokok dari balik ikat pinggangnya, tapi tidak menyalakannya, hanya memutar-mutar di antara jarinya yang gemetar. "Keluarganya nggak lapor ke Puskesmas. Langsung dikubur. Haji bilang biar nggak repot, biar nggak ada yang tanya-tanya, nanti dianggap gua ini bawa sial, orang takut kerja."
Wening merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya—bukan kematian yang mengejutkannya, melainkan betapa rapi kematian itu disembunyikan, seolah ada tangan yang sudah terlatih menghapus jejak sebelum jejak itu sempat dicatat siapa pun.
"Kalau begitu, sudah berapa yang meninggal, Kang? Yang benar-benar dari pekerja gua ini?"
"Setahu saya empat. Termasuk Karto Diyo." Slamet menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah mulut gua yang menganga hitam di kejauhan. "Tapi saya nggak yakin itu semua. Ada yang pindah ke desa lain waktu sakit, biar nggak ketahuan dari sini."
Hendra mencatat cepat-cepat di buku kecilnya, namun Wening melihat tangannya berhenti sesaat, seperti menahan diri agar tulisannya tidak bergetar. Ia tahu Hendra sedang membayangkan wajah adiknya sendiri di Karangsari, dan ia sengaja tidak menegurnya. Biar dulu, pikirnya. Ada saatnya emosi harus disingkirkan dari data, tapi bukan sekarang, bukan di depan orang yang baru saja mempertaruhkan begitu banyak untuk bicara jujur.
"Kalau saya kasih tahu semua ini," kata Slamet tiba-tiba, "sampeyan bisa jamin saya nggak dipecat?"
Pertanyaan itu menghantam Wening lebih keras daripada semua angka yang pernah ia hitung. Ia ingin menjawab ya, ingin menjanjikan perlindungan, tapi ia tahu ia bukan siapa-siapa di hadapan kuasa Haji Suparlan yang menguasai izin panen, upah harian, dan utang separuh warga dusun ini.
"Saya nggak bisa janji itu," katanya akhirnya, memilih jujur daripada manis. "Yang bisa saya janjikan, kesaksian Kang Slamet akan saya catat benar, dan kalau nanti ini dipakai untuk laporan resmi, nama Kang Slamet nggak akan saya sebut sembarangan tanpa izin."
Slamet menatapnya lama, seolah mengukur apakah kejujuran seorang perempuan berjaket lapangan sepadan dengan risiko kehilangan satu-satunya sumber nafkahnya. Anak-anaknya, istrinya yang jualan di pasar, cicilan sepeda motor yang belum lunas—semua itu tergantung pada tangan yang sama yang mengatur siapa boleh masuk gua dan siapa tidak.
"Saya ada anak tiga," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka berdua. "Tapi Karto Diyo juga ada anak. Sekarang siapa yang urus anaknya kalau semua orang diem?"
Ia menyalakan rokoknya, mengisap dalam-dalam, lalu mengembuskan asap ke arah gua yang mulai temaram oleh senja.
"Ya sudah," katanya. "Catat. Tapi kalau saya dipanggil mandor besok pagi, sampeyan yang tanggung jawab cari kerja buat saya."
Wening tidak menjawab dengan janji kosong. Ia hanya mengangguk, merasakan beban kata-kata itu menempel di dadanya sepanjang jalan pulang, ketika langit di atas dusun Ngepoh berubah jingga tua dan asap dari dapur-dapur warga mulai mengepul seperti biasa, seolah tak ada apa pun yang berubah di bawahnya.