Sumur itu sudah tak ada ketika Wening dan Hendra tiba.
Bukan hilang seperti sihir—tertutup. Batu kali ditumpuk rapat menutup mulutnya, disemen asal-asalan dengan adukan yang belum kering benar, masih basah di pinggirnya, meninggalkan jejak jari-jari yang buru-buru merapikan permukaan. Di atasnya, seseorang menaruh anyaman bambu, seolah menutup luka yang tak ingin dilihat siapa pun.
"Kapan ini dikerjakan?" Wening berjongkok di tepi tanah yang masih longgar, mengulurkan tangan menyentuh semen yang belum mengeras sepenuhnya.
"Semalam." Hendra menjawab pelan, matanya menyapu rumah-rumah di sekeliling yang pintunya tertutup rapat padahal matahari sudah tinggi. "Pak Dulah cerita tadi pagi. Katanya keluarga Yu Painah yang punya tanah ini yang nyuruh tukang."
Wening berdiri, mengedarkan pandangan. Tiga rumah yang dulu ia tandai berbagi sumber air yang sama kini seperti menahan napas bersama. Ini sumur yang sama yang pernah ia curigai berbulan-bulan lalu, yang sampelnya negatif, yang sempat ia coret dari papan lalu ia gambar ulang setelah menemukan aliran guano yang terbawa hujan dari mulut gua turun ke hulu. Sumur yang baru saja kembali jadi pusat perhatiannya—dan sekarang tertutup rapat, seakan tak pernah ada.
"Panggil Bu Painah," kata Wening. Suaranya berusaha tenang, tapi jantungnya berdegup cepat, seperti melihat halaman terakhir buku dirobek sebelum sempat dibaca.
Hendra tak perlu memanggil. Perempuan setengah baya itu sudah berdiri di ambang pintu, tangannya meremas ujung kain sarung yang dipakainya menutup kepala. Di belakangnya, dua anak muda—mungkin anak-anaknya—berdiri kaku, seperti menunggu vonis.
"Bu, kenapa sumurnya ditutup?" Wening berusaha membuat suaranya sedatar mungkin, tanpa tuduhan.
"Bukan kami yang bikin orang sakit, Bu Dokter." Suara Bu Painah gemetar, tapi ada nada keras kepala di baliknya, semacam pertahanan yang sudah dilatih semalaman. "Sejak sumur ini disebut-sebut di balai desa, orang-orang mulai nunjuk-nunjuk rumah kami. Ada yang bilang anak saya yang nularin. Ada yang nggak mau lewat depan rumah ini lagi. Kami cuma mau ini berhenti."
"Menutup sumur bukan cara menghentikannya, Bu." Wening melangkah mendekat, menahan diri agar tak terdengar seperti menyalahkan. "Ini justru satu-satunya bukti yang bisa menunjukkan dari mana penyakit ini datang. Kalau sumbernya bisa dibuktikan jelas, justru keluarga Ibu yang paling terbebas dari tuduhan."
Bu Painah menunduk, tapi tak menjawab. Salah satu anaknya, yang berdiri di belakangnya, akhirnya membuka mulut. "Kami takut, Bu. Ada yang bilang mau lapor ke Pak Camat biar sumur ini disegel paksa, tanahnya diambil buat pemeriksaan. Kami nggak mau tanah bapak jadi rusak gara-gara ini."
Ah. Jadi bukan cuma rasa malu—ada ketakutan lain yang lebih konkret: kehilangan tanah, kehilangan yang sedikit mereka punya. Wening menahan napas sejenak. Ia paham logikanya, meski logika itu justru menghancurkan hal yang paling ia butuhkan.
"Berapa lama tadi malam sebelum ditutup, ada yang masih ambil air dari sini?" tanyanya, mencoba menyelamatkan apa pun yang tersisa.
"Sore," jawab si anak. "Terakhir Bapak yang nimba, buat wudu."
Artinya jejak air masih ada di dasar, tapi begitu batu-batu itu menutup rapat, ia tak mungkin mengambil sampel baru tanpa membongkarnya kembali—dan membongkar berarti konfrontasi yang lebih besar, mungkin memicu keributan yang justru mempercepat penutupan sumur-sumur lain di dusun ini.
Wening berlutut lagi di tepi tanah becek, memandangi dinding sumur yang masih tersisa terlihat sedikit di sela batu penutup. Ada garis kehijauan tipis membekas di batu bagian atas—jejak air yang meluap saat hujan deras beberapa hari lalu, bercampur warna kecokelatan yang lebih gelap di beberapa titik. Ia mengeluarkan kameranya, memotret dari berbagai sudut sebelum sempat ada yang menyuruhnya berhenti.
"Hendra, catat posisi rumah, arah aliran air waktu hujan, dan ketinggian tanah dari sumur ke arah gua." Ia bicara cepat, seperti berlomba dengan detik yang terus berjalan. "Kalau bisa, tanya juga kapan terakhir hujan deras sebelum yang sakit di sini mulai demam."
Hendra mengangguk, membuka buku catatannya, tapi matanya sempat melirik ke arah Bu Painah dengan raut yang lebih lembut dari Wening—raut orang yang paham betul rasa takut kehilangan nama baik di kampung sendiri.
"Bu," katanya, memilih kata-kata pelan-pelan, "bukan salah keluarga Ibu penyakit ini datang. Tapi kalau semua orang nutup-nutupi kayak gini, nanti yang kena justru anak-cucu kita semua, karena kita nggak pernah tahu benar dari mana asalnya."
Bu Painah tak menjawab, tapi bahunya sedikit turun, seperti beban yang ia pikul sendirian barusan dibagi.
Wening berdiri, mengusap tangannya yang berlepotan semen basah ke celana kerja. Ia tahu ia tak bisa memaksa membongkar sumur itu sekarang—bukan haknya, dan memaksa hanya akan membuat dusun ini makin tertutup rapat seperti batu yang baru saja menutup mulut sumur. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangkap sisa-sisa yang masih terlihat, secepat mungkin, sebelum hujan berikutnya mencuci semuanya bersih tanpa jejak.
Ia menoleh ke Parmin yang menunggu di dekat mobil, wajahnya juga tegang memperhatikan dari kejauhan.
"Kita ke rumah yang lain," kata Wening. "Sebelum ditutup juga."
Parmin mengangguk tanpa bertanya, sudah memutar kunci kontak bahkan sebelum Wening duduk penuh di joknya. Di kaca spion, Wening melihat Bu Painah masih berdiri di depan rumahnya, memandangi gundukan batu dan semen itu seperti memandangi kuburan yang baru saja ia gali sendiri—tanpa tahu bahwa yang ia kubur bukan hanya rasa malu, tapi juga sepotong kebenaran yang mungkin tak akan pernah bisa digali ulang.