Kertas itu seharusnya membosankan. Satu lembar fotokopi, huruf mesin ketik yang rapat, kop surat Dinas Kesehatan Kabupaten di atasnya, dan nomor surat yang runtut seperti biasa. Wening baru menyadari ada yang salah ketika matanya berhenti di baris "jumlah kasus dilaporkan minggu berjalan: 3".
Ia menghitung ulang di kepala. Tiga. Bukan dua belas.
Malam itu ruang kerja kecil di belakang Puskesmas Mraggen hanya diterangi satu lampu neon yang berdengung pelan. Peta di dinding sudah penuh titik merah dan biru, tapi kertas di tangannya tidak menyebut satupun dari itu. Ia meletakkan fotokopi itu di sebelah salinan yang ia buat sendiri sepuluh hari lalu, salinan yang ia simpan rapi di map plastik karena kebiasaan lama—jangan pernah kirim sesuatu tanpa menyimpan tembusannya.
Dua belas kasus baru di kolomnya. Tiga di kolom kop surat kabupaten.
"Dari mana kau dapat ini?" tanyanya, tanpa menoleh dari kertas, ketika Hendra masuk membawa termos dan dua gelas.
Hendra meletakkan termos di meja. "Bu Yayuk di kantor kecamatan. Katanya ini yang diteruskan ke provinsi minggu lalu. Dia nanya ke saya kenapa jumlahnya beda jauh dari yang biasa Ibu sebut waktu rapat dusun."
Wening menaikkan kacamatanya, membaca ulang baris demi baris seolah huruf-huruf itu bisa berubah kalau ditatap cukup lama. Penyebab kematian tertulis "demam berdarah dengue, dalam pemantauan." Tidak ada kata zoonosis. Tidak ada gua. Tidak ada legen. Rekomendasinya pun berubah total—dari "penutupan sementara sumber air dan pembatasan aktivitas gua" menjadi satu kalimat pendek: "situasi terkendali, kegiatan masyarakat berjalan normal."
Ia pernah menulis kalimat itu. Tapi bukan kalimat itu.
"Ini bukan salah ketik," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra.
"Bu Bagas—maksud saya Dokter Bagas—tahu soal ini?"
"Belum." Wening berdiri, membawa kedua lembar itu ke ruang periksa tempat Bagas masih mencatat rekam medis pasien terakhir hari itu. Ia menaruh dua kertas berdampingan di atas meja, di samping stetoskop yang tergeletak.
Bagas menunduk, membaca. Lama.
"Ini nomor suratnya sama dengan yang kita kirim," katanya akhirnya, jarinya menunjuk sudut kanan atas. "Tanggal sama. Cuma isinya..." Ia tidak menyelesaikan kalimat, karena tidak perlu.
"Aku yang mengetik laporan itu, Dokter. Aku yang tanda tangan draf pertamanya, sebelum diteruskan lewat kabupaten." Wening menahan suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. "Kalau angkanya berubah setelah keluar dari mejaku, berarti seseorang di kabupaten yang mengubahnya sebelum diteruskan ke provinsi."
"Kepala Dinas," gumam Bagas. "Cuma dia yang tanda tangan pengesahan sebelum surat itu jalan ke provinsi. Puskesmas cuma pelapor teknis, bukan yang mengesahkan."
Hendra berdiri di ambang pintu, memegang gelas yang isinya sudah tak lagi mengepul. "Berarti selama ini, Bu... waktu kita capek-capek mendata, angka yang sampai ke provinsi memang sudah dipotong duluan?"
Tak ada yang menjawab sebentar. Di luar, suara jangkrik dari halaman Puskesmas terdengar lebih jelas daripada biasanya, seperti mengisi kekosongan yang tak sanggup diisi kata-kata siapapun di ruangan itu.
Wening menarik kursi, duduk, dan mulai membentangkan kedua laporan itu berdampingan, sebaris demi sebaris, seperti ia memetakan rumah-rumah di Ngepoh dulu. Bukan lagi mencari pola penularan. Sekarang ia mencari pola penghapusan.
Setiap angka yang hilang punya bentuknya sendiri. Jumlah kasus dipotong jadi seperempat. Kematian yang sebenarnya delapan, tertulis dua, dengan keterangan "sebab lain, tidak terkait." Nama dusun Karangsari, tempat adik Hendra dirawat, tidak disebut sama sekali—seolah dusun itu tidak pernah ada dalam kurva penyakit yang sedang mereka lawan.
"Kalau aku cuma menduga Camat menekan supaya laporan dihaluskan," kata Wening akhirnya, "itu masih bisa dibantah. Tekanan lisan tidak meninggalkan jejak. Tapi ini—" ia mengetuk kertas kop surat itu dengan buku jarinya, "—ini bukan tekanan. Ini bukti tertulis. Seseorang duduk, mengganti angka, mengesahkannya, lalu mengirimnya seolah itu laporanku."
"Lantas apa bedanya sekarang?" Bagas bertanya, lebih ke arah dirinya sendiri. "Provinsi tetap terima laporan yang salah."
"Bedanya," kata Wening, "kalau kemarin kita menduga ada yang disembunyikan, sekarang kita tahu siapa yang menyembunyikannya, dan kita punya dua lembar kertas yang membuktikan itu berdampingan." Ia melipat kedua laporan itu, tidak menyatukannya, sengaja membiarkannya sebagai dua benda terpisah yang saling menuduh. "Selama ini aku pikir yang harus kulawan cuma rumor warga dan alasan ekonomi Pak Camat. Ternyata jalur resminya sendiri sudah bocor sebelum sampai ke tangan yang bisa bertindak."
Hendra meletakkan gelasnya, suaranya lebih pelan dari biasa. "Kalau begitu, laporan yang kita kirim minggu depan—siapa yang jamin itu tidak diubah lagi di tengah jalan?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu malam itu. Wening hanya menatap kedua lembar kertas di depannya, satu berisi kebenaran yang ia susun dari rumah ke rumah, satu lagi berisi kebohongan yang rapi, resmi, bertanda tangan, dan berjalan mulus ke provinsi tanpa ada yang mempertanyakannya—sampai malam ini.
Ia memasukkan kedua kertas itu ke map yang sama, tapi menaruh penjepit kertas di antara keduanya, seolah menandai jarak yang tak boleh lagi ia biarkan menyatu diam-diam. Di luar, angin membawa bau tanah basah dari arah dusun, dan untuk pertama kalinya sejak wabah ini dimulai, yang membuatnya takut bukan virus yang belum bernama itu, melainkan berapa banyak lagi kertas serupa yang mungkin sudah lebih dulu sampai ke provinsi, tanpa pernah ia ketahui.