Telepon itu berdering saat Wening sedang menandai titik ke-dua puluh tiga pada peta di dinding Puskesmas Mraggen, spidol merah masih basah di ujung jarinya. Hendra yang mengangkat, dan dari caranya diam sambil menegakkan punggung, Wening tahu ada yang tidak beres bahkan sebelum kalimat pertama selesai.
"Ploso," kata Hendra setelah menutup telepon, menyebut nama kecamatan tetangga seperti mengucapkan sesuatu yang berat di lidah. "Puskesmas sana laporan tiga pasien demam tinggi, dua di antaranya sudah masuk fase pendarahan. Bidan yang telepon bilang dia pernah baca surat edaran kita soal gejala."
"Tiga pasien dalam berapa hari?"
"Dua hari terakhir. Tapi Bu Wening—" Hendra ragu sebentar, "—salah satunya penjual bumbu di pasar hewan Mraggen. Yang dua lagi ikut rombongan pelayat dari kenduri waktu itu. Bukan orang Mraggen."
Wening meletakkan spidol di nampan kecil di bawah peta, pelan-pelan, seakan gerakan cepat bisa membuat kabar itu jadi lebih nyata dari yang sudah nyata. Ia sudah menduga ini akan datang sejak pelacakan kontak kenduri menunjukkan sebagian hadirin membawa alamat dari luar wilayah. Menduga tidak sama dengan siap.
"Kita perlu berkas mereka. Nama, alamat, tanggal mulai gejala, siapa yang mereka temui sebelum sakit."
"Puskesmas Ploso belum punya kuesioner seperti punya kita," kata Bagas, yang sejak sintesis kerja klinis-populasi mereka berjalan lebih rapi, kini justru orang pertama yang menyambar tas obatnya. "Aku telepon dokter jaga di sana, kirim format kita lewat WA. Tapi format saja tidak cukup, Wening. Mereka butuh orang yang tahu cara membaca jawabannya."
Parmin sudah menyalakan mobil sebelum diminta. Ketika Wening keluar membawa tas berisi APD, kuesioner cadangan, dan termometer genggam, Parmin hanya bertanya, "Berapa jam, Bu?"
"Secepat yang aman."
Jalan ke Ploso melewati punggung bukit yang sama dengan jalan ke gua, tapi bercabang di sebuah pertigaan berpohon beringin tua, lalu menurun ke lembah yang lebih kering. Sepanjang perjalanan Wening membuka catatan lama—daftar hadir kenduri yang mereka susun dari kesaksian warga, sebagiannya masih berupa nama tanpa alamat lengkap, ditulis dengan ejaan seadanya oleh orang yang mengingat dari pendengaran, bukan dari kartu keluarga. Ada nama yang sekarang, dengan telepon tadi, mendadak berarti sesuatu yang lain: bukan sekadar tamu, tapi kemungkinan mata rantai yang membawa penyakit pulang ke rumahnya sendiri.
Puskesmas Ploso lebih kecil dari Mraggen, catnya mengelupas di bagian bawah dinding, dan ruang isolasinya cuma sekat tirai di ujung koridor. Dokter jaga, laki-laki muda dengan wajah pucat karena kurang tidur, menyambut dengan tumpukan rekam medis yang belum tersusun rapi.
"Yang ini," katanya, menyerahkan berkas paling atas, "penjual bumbu. Namanya Painah. Demam sejak lima hari lalu, tapi baru dibawa kemari kemarin karena dikira masuk angin biasa."
Wening membaca cepat: usia, keluhan, tanggal. Ia menghitung mundur dalam kepala—masa inkubasi kasar yang sudah mereka susun dari kurva sebelumnya—dan tanggal mulai gejala Painah cocok, terlalu cocok, dengan hari-hari ia berjualan di pasar hewan Mraggen, bersebelahan lapak dengan salah satu nama yang sudah tertera di peta dinding Puskesmas Mraggen sebagai kasus aktif.
"Dua yang lain?"
"Pelayat. Suami-istri, dari dusun sebelah sini. Mereka datang ke kenduri di Karangsari, katanya numpang mobil tetangga."
Hendra menuliskan nama itu di buku catatannya sendiri, tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, Wening tahu bedanya sekarang, tapi karena ia mulai bisa membaca apa yang akan terjadi pada peta begitu nama-nama ini dipindahkan ke sana: garis yang selama ini berhenti di batas Kecamatan Mraggen akan menyeberang, dan begitu menyeberang, tidak ada cara menariknya kembali.
Mereka memeriksa ketiga pasien satu per satu, dengan APD yang mereka bawa sendiri karena stok Puskesmas Ploso menipis. Bagas memutuskan dua yang sudah masuk fase pendarahan harus dirujuk ke rumah sakit kabupaten malam itu juga; yang satu, suami dari pasangan pelayat, masih bisa ditangani rawat inap sementara sambil menunggu hasil sampel darah dikirim ke lab provinsi.
Di luar, sambil menunggu ambulans datang, Wening menelepon dr. Larasati.
"Sudah keluar dari Mraggen," katanya, tanpa basa-basi, karena keduanya sudah lama berhenti membutuhkan basa-basi. "Ploso. Tiga kasus, satu terhubung pasar, dua terhubung kenduri."
Di ujung telepon terdengar helaan napas panjang, lalu suara kertas dibalik-balik, seperti dr. Larasati sedang mencari sesuatu untuk dipegang selain kabar itu sendiri. "Itu artinya ini bukan lagi laporan kecamatan, Wening. Aku harus naikkan ini ke tingkat provinsi resmi, bukan cuma antarku dan kau lewat telepon pribadi lagi."
"Aku tahu."
"Kau siap kalau nanti yang datang bukan cuma aku?"
Wening menoleh ke arah Puskesmas Ploso, ke jendela ruang isolasi tempat Painah berbaring dengan wajah pucat dan mata yang mengikuti gerak orang-orang berseragam yang tidak ia kenal. Ia memikirkan peta di dinding Puskesmas Mraggen, garis merah, biru, kuning yang selama ini masih bisa ia jangkau dengan sekali rentang tangan. Sebentar lagi peta itu harus melebar keluar dinding itu sendiri, keluar dari kecamatan yang selama ini menjadi seluruh dunianya sejak ia datang.
"Tidak," jawabnya jujur. "Tapi itu tidak mengubah apa yang harus dilakukan."
Ambulans datang dengan lampu merah berputar tanpa suara sirine, karena sopirnya tahu suara sirine di malam hari bisa memicu kabar burung lebih cepat daripada kabar sebenarnya. Wening menaiki mobil Parmin lagi, membawa berkas-berkas baru yang harus disalin, diberi tanggal, dan dijahit ke dalam rantai yang sama—rantai yang sekarang membentang lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan waktu pertama kali menulis empat nama di kertas kuesioner.