Pagi itu peta di dinding Puskesmas Mraggen tampak berbeda di mata Wening Pradipta. Bukan karena ada titik baru—ia sudah hafal tiap paku dan benang di sana—melainkan karena kabar semalam dari dr. Larasati mengubah artinya. Virus pada kelelawar gua itu cocok dengan virus di darah pasien. Reservoir kini punya nama, punya wajah: koloni yang bergelantung di perut bumi, di gua milik Haji Suparlan. Tapi justru karena pangkalnya sudah pasti, ruang kosong di tengah peta menganga lebih lebar.
"Kelelawar tidak menggigit orang-orang ini satu per satu," kata Wening, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada tiga orang yang berdiri di belakangnya. Ia mengetuk gua dengan ujung spidol, lalu menariknya turun ke gerombolan titik merah di sepanjang dusun Ngepoh dan Karangsari. "Ada sesuatu di antara sini dan sini. Perantara. Kita tahu pangkalnya, kita tahu ujungnya. Tengahnya masih gelap."
Dokter Bagas menyilangkan lengan. Wajahnya lelah, tapi ada sesuatu yang lebih lembut sejak adik Hendra terbaring di bangsal. "Kau punya tiga tersangka, kalau begitu. Bukan satu."
"Tiga," Wening mengangguk. Ia mengambil tiga potong kertas dan menempelkannya berdampingan di bawah peta. "Legen. Air yang membawa guano. Pasar." Ia menuliskan nama-nama itu satu per satu, huruf tegak yang keras. "Dan aku belum bisa membuang satu pun."
Hendra mencondongkan badan, membaca papan seolah nama korban di sana adalah nama saudaranya. "Kalau begitu kita pilih yang paling banyak cocok. Legen, kan? Bu Sari Darto, Pak Kasdi—mereka minum legen. Pot dibiarkan terbuka semalaman, kelelawar datang. Bukankah itu jawabannya?"
"Kalau itu jawabannya, jelaskan Mbak Surti." Wening menekan titik biru kecil di pinggir Karangsari. "Mbak Surti tidak minum legen. Suaminya bersumpah begitu, dan aku percaya, karena keluarganya justru menganggap legen minuman orang yang tidak bisa menahan diri. Tapi rumahnya di hilir, di bawah mata air yang dialiri guano waktu hujan besar bulan lalu."
Ruangan hening sejenak. Parmin, yang biasanya diam di ambang pintu, berdeham. "Bu Dokter, kalau boleh… penderes-penderes itu bukan cuma minum. Mereka juga ke pasar. Legen yang tidak habis dijual ke warung dekat pasar hewan. Jadi orang yang tidak menderes pun bisa kena legennya di sana."
Wening menoleh cepat. Ada kalimat yang selama ini ia cari, dan Parmin mengucapkannya tanpa sadar. "Jadi jalur-jalur ini tidak berdiri sendiri. Mereka bersinggungan." Ia menarik benang dari kertas 'legen' ke kertas 'pasar', lalu ke titik-titik di Ngepoh. "Legen bisa jadi sungai kecil yang bermuara ke pasar. Air-guano jalur lain. Sebagian orang kena dua-duanya."
"Tapi kau tidak bisa menuliskan 'semua sebab' di laporan," kata Bagas, hati-hati, dan Wening tahu itu bukan tantangan melainkan peringatan seorang klinisi yang terbiasa mencari satu diagnosis. "Provinsi akan minta kau tunjuk satu. Broto akan minta kau tunjuk satu yang paling mudah dibantah."
"Ilmu tidak berutang satu jawaban kepada Broto." Suara Wening lebih tajam dari yang ia mau. Ia menarik napas. "Maaf. Tapi kalau aku bohong demi kerapian, orang mati karena pintu yang tidak kututup. Kalau kubilang cuma legen, mereka akan tutup pot legen dan merasa aman, sementara guano masih meracuni air Karangsari. Kalau kubilang cuma pasar, penderes akan terus menaruh potnya terbuka."
Ia berbalik ke papan lagi, menandai tiap korban dengan huruf kecil: L untuk yang minum legen, A untuk yang tinggal di hilir aliran guano, P untuk yang rutin ke pasar hewan. Spidol berderit di kertas. Perlahan, sebuah pola yang kotor muncul—bukan tiga kelompok rapi, melainkan tumpang tindih yang berantakan. Bu Sari Darto membawa L dan P. Pak Kasdi ketiga-tiganya. Mbak Surti hanya A. Ningsih, kader posyandu itu, tidak jelas—ia mendatangi rumah semua orang.
"Lihat," bisik Wening. "Tidak ada garis bersih. Yang paling banyak titiknya legen, tapi legen sendiri tidak menyentuh Mbak Surti. Air-guano menutup lubang yang ditinggalkan legen. Pasar menautkan yang tidak saling kenal." Ia mundur selangkah, memandang keseluruhannya. "Bobotnya berbeda-beda. Legen kelihatannya paling berat—paling langsung menyentuh mulut orang, di malam hari, waktu kelelawar keluar. Tapi berat bukan berarti satu-satunya."
Hendra menegang. Wening tahu apa yang ada di kepala pemuda itu: adiknya di Karangsari, hilir, di bawah aliran itu. A. Bukan L, bukan P. Air. Ia melihat rahang Hendra mengeras, dan untuk sesaat ingin melunakkan angka-angka itu demi dia. Tapi melunakkan angka adalah dosa yang sedang ia lawan mati-matian.
"Kita harus timbang," kata Wening akhirnya, pelan. "Bukan pilih. Berapa korban yang hanya bisa dijelaskan legen. Berapa yang hanya air. Berapa yang hanya pasar. Yang tersisa—yang tidak bisa dijelaskan salah satu saja—itu yang memberitahu kita jalur mana yang tidak boleh kita abaikan."
Bagas mendekat ke papan, dan untuk pertama kalinya ia tidak berdebat, melainkan ikut membaca. "Mbak Surti," katanya. "Kalau hanya dia yang lewat air, satu titik itu bisa saja kebetulan. Tapi kalau ada lima seperti dia…"
"Maka air bukan kebetulan." Wening menyalakan perhitungan itu di kepalanya. "Aku perlu menelusuri hilir mata air, rumah demi rumah, dan memisahkan siapa yang benar-benar tidak tersentuh legen atau pasar. Parmin, besok pagi kita ke Karangsari. Hendra—" Ia berhenti. "Kalau terlalu berat untukmu, tidak apa."
Hendra menggeleng cepat, matanya merah tapi tegak. "Justru harus aku."
Wening menatap peta itu lama sekali. Reservoir sudah ada di ujung sana, jelas dan pasti. Manusia-manusia yang sakit ada di ujung sini, jelas dan pasti pula. Di antara keduanya masih tergantung ruang kosong—perantara yang hilang, bukan satu jembatan melainkan mungkin tiga, dengan lebar yang berbeda-beda. Ia merasakan godaan lama untuk menyederhanakan, untuk menutup satu pintu dan menyebutnya selesai. Ia menolaknya. Peta yang jujur, ia tahu sekarang, adalah peta yang berani mengaku belum lengkap.
"Besok kita hitung yang hilang," katanya. "Satu jembatan pun tidak boleh kita lewatkan tanpa nama."