Telepon di ruang periksa Puskesmas Mraggen berdering pukul sembilan malam, ketika hujan baru saja reda dan genangan di halaman memantulkan neon yang berkedip karena tegangan listrik yang naik-turun. Wening mengangkatnya sebelum dering kedua selesai. Ia sudah menunggu sejak sore, sejak kurir dinas kesehatan mengabarkan lewat radio bahwa hasil dari sampel kelelawar dan guano yang diambil Hendra dan Parmin dari mulut gua sudah selesai diperiksa di laboratorium provinsi.
"Dokter Larasati," suara di ujung sana terdengar lebih hati-hati dari biasanya, tanpa basa-basi yang biasa mereka pertukarkan. "Kamu duduk?"
"Aku berdiri. Tapi katakan saja."
Ada jeda, seperti orang yang memastikan angka di layar sebelum berani mengucapkannya. "Sekuens RNA dari jaringan limpa dan air liur kelelawar yang kalian kirim—tiga dari lima ekor positif. Dan waktu kubandingkan dengan sekuens dari serum pasien yang kita kirim bulan lalu, kesamaannya di atas sembilan puluh delapan persen pada gen inti."
Wening menutup mata sebentar, bukan karena terkejut, tapi karena harus menahan diri agar tidak langsung memercayainya sepenuhnya. Sembilan puluh delapan persen bukan angka yang bisa disangkal sebagai kebetulan. Tapi ilmu yang jujur adalah ilmu yang tetap bertanya sebelum merayakan.
"Bisa dipastikan bukan kontaminasi silang? Bukan sampel yang tertukar di jalan?"
"Aku pikir kau akan tanya itu." Ada suara kertas dibalik, mungkin Larasati sedang membuka print out di mejanya sendiri. "Kontrol negatif bersih. Kita jalankan dua kali, dari dua ekstraksi berbeda, dua mesin PCR berbeda. Hasilnya konsisten. Dan pohon filogenetik—maaf, ini gambar percabangan yang menunjukkan kekerabatan antar-virus berdasarkan seberapa mirip kodenya—menempatkan virus dari kelelawar dan virus dari pasien dalam satu cabang yang sama, terpisah jauh dari virus-virus lain yang sudah dikenal. Ini bukan virus yang sudah ada di katalog mana pun, Wening. Ini spesies baru. Dan kelelawar-kelelawar dari gua itu membawanya."
Wening menoleh ke peta di dinding, ke titik-titik merah dan hitam yang selama berminggu-minggu ia susun tanpa tahu ke mana ujungnya bermuara. Malam ini, untuk pertama kalinya, salah satu ujung itu punya nama yang pasti: bukan sumur, bukan takdir, bukan kutukan yang disebut Mbah Karto—melainkan makhluk bersayap yang selama ini dianggap warga sekadar penghuni gua, pemakan buah, bagian dari lanskap yang tak pernah dicurigai.
Hendra, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sambil memegang cangkir kopi yang sudah dingin, mendekat begitu melihat wajah Wening berubah. "Apa katanya?"
"Reservoirnya kelelawar." Wening meletakkan gagang telepon di antara bahu dan telinga, tangannya meraih pena, mencoret sesuatu di buku catatan yang selalu ia bawa. "Virus di kelelawar gua itu cocok dengan virus di darah pasien-pasien kita. Dokter Larasati bilang kesamaannya di atas sembilan puluh delapan persen."
Hendra diam sejenak, matanya bergerak ke peta, seolah mencoba membayangkan garis yang menghubungkan mulut gua yang gelap dengan kamar-kamar tempat Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, dan Ningsih terbaring dulu. "Berarti benar. Yang kita lihat waktu itu di mulut gua—kelelawar yang beterbangan pas magrib—itu memang..."
"Itu memang bagian dari rantainya," Wening menyelesaikan kalimatnya, karena ia tahu Hendra butuh seseorang mengucapkannya keras-keras agar terasa nyata. "Tapi jangan buru-buru menyimpulkan lebih dari itu. Larasati, aku masih di sini—maaf. Ini artinya kelelawar itu reservoirnya, bukan berarti gigitan langsung yang menularkan ke semua pasien kita, kan?"
"Belum tentu," jawab Larasati dari seberang. "Dari yang kutahu soal virus-virus keluarga ini di tempat lain, penularan langsung dari gigitan kelelawar ke manusia jarang. Biasanya ada perantara. Bisa lewat kotoran yang mencemari sesuatu yang dikonsumsi, bisa lewat hewan lain yang jadi jembatan. Itu yang belum kita tahu, dan itu yang harus kalian cari di lapangan sementara aku menulis laporan resminya di sini."
Wening mencatat kalimat itu kata demi kata, karena ia tahu esok pagi kalimat itu akan menjadi pertanyaan yang menuntun langkah berikutnya. Reservoir terkonfirmasi bukan berarti kasus ditutup. Itu justru membuka pertanyaan yang lebih tajam—bagaimana caranya sesuatu yang hidup di kegelapan gua bisa sampai ke darah orang-orang yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di mulut gua itu.
Setelah menutup telepon, Wening berdiri lama di depan peta, membiarkan Hendra memanggil Dokter Bagas yang sedang memeriksa pasien di ruang sebelah. Ketika Bagas datang, wajahnya masih menyisakan lelah dari jaga malam, tapi begitu mendengar kabar itu, ia menarik kursi dan duduk, seolah tubuhnya butuh tumpuan untuk menerima kepastian sebesar itu.
"Jadi bukan air, bukan cuma pasar," kata Bagas pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ada makhluk yang lebih tua dari semua kecurigaan kita."
"Kelelawar sudah ada di gua itu jauh sebelum ada yang sakit," jawab Wening. "Yang berubah bukan kelelawarnya. Yang berubah pasti sesuatu di cara kita bersentuhan dengannya."
Ia menempelkan secarik kertas kecil di pojok peta, bertuliskan satu kata yang selama ini hanya berupa dugaan di kepalanya: RESERVOIR—TERKONFIRMASI (KELELAWAR GUA). Tinta itu belum kering ketika Parmin muncul di pintu, membawa payung yang masih menetes, wajahnya penuh tanya karena melihat tiga orang berkumpul dengan raut yang sulit dibaca.
"Ada kabar dari provinsi?" tanyanya.
Wening menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu memetakan kematian demi kematian, ia merasakan sesuatu yang mendekati kelegaan—tipis, hati-hati, tapi nyata. "Kita sekarang tahu dari mana virus ini berasal, Pak Parmin. Yang belum kita tahu adalah bagaimana ia menemukan jalan dari sana sampai ke rumah-rumah kita."
Di luar, hujan mulai turun lagi, memukul atap seng Puskesmas dengan ritme yang tak beraturan, seperti derap sesuatu yang belum selesai bercerita.