Hendra datang ke Puskesmas Mraggen sebelum subuh, wajahnya basah bukan oleh hujan. Ia menggedor pintu samping dengan kepalan tangan sampai daun pintu bergetar, memanggil nama Dokter Bagas seperti orang yang sedang tenggelam memanggil daratan. Di baknya, dibungkus sarung dan jaket yang bukan miliknya, adiknya terbaring dengan napas pendek-pendek, bibir pucat kebiruan, dan bercak merah kecil yang mulai bermunculan di lengan seperti taburan lada.
Wening baru saja tertidur di kursi ruang data, kepala menunduk di atas tumpukan kuesioner, ketika suara berisik itu membangunkannya. Ia berlari ke ruang tindakan, dan yang pertama ia lihat bukan pasien, melainkan Bagas—sudah berdiri di sisi ranjang dengan stetoskop masih tergantung miring di leher, memberi perintah cepat kepada perawat jaga tanpa jeda, seolah tubuhnya sudah tahu apa yang harus dilakukan sebelum otaknya sempat berpikir.
"Pasang infus dua jalur. Cek tensi tiap lima menit. Siapkan oksigen." Suara Bagas datar, tapi tangannya bergerak gelisah saat memeriksa gusi gadis itu yang mulai berdarah tanpa sebab, saat menekan perutnya dan mendapati gadis itu meringis kesakitan di titik yang sama seperti empat korban sebelumnya di papan.
Wening berdiri di ambang pintu, tak tahu harus membantu atau menyingkir. Ia sudah pernah membaca gejala ini berulang-ulang dalam rekam medis Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi—demam tinggi, lalu jeda semu seolah membaik, lalu jatuh mendadak dengan pendarahan dan tekanan darah yang runtuh. Ia mengenali pola itu secepat ia mengenali huruf namanya sendiri. Tapi mengenali pola di atas kertas sama sekali berbeda dengan menyaksikannya menimpa tubuh yang bernapas di depan matanya, tubuh yang sampai kemarin sore masih tercatat dalam catatannya hanya sebagai satu baris: kontak keluarga, kasus suspek, Karangsari.
"Tensinya delapan puluh per lima puluh," perawat itu melapor, suaranya naik satu oktaf.
Bagas tidak menjawab. Ia menaikkan tetesan cairan infus, memasang jalur kedua di pergelangan tangan yang lain, matanya menyusuri monitor seolah bisa memaksa angka itu naik lewat kemauan saja. Hendra berdiri di sudut ruangan, tangannya mencengkeram bingkai pintu sampai buku-buku jarinya memutih, dan untuk pertama kalinya sejak Wening mengenalnya, petugas surveilans yang biasa tenang menerjemahkan keluhan warga itu tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Dia cuma demam biasa tiga hari lalu," kata Hendra, kepada siapa pun yang mau mendengarkan, atau mungkin kepada dirinya sendiri. "Aku suruh dia minum obat penurun panas. Aku pikir—aku pikir itu cukup."
Wening ingin mengatakan sesuatu yang menenangkan, tapi lidahnya kelu. Ia tahu persis bahwa jeda semu itu—perbaikan singkat sebelum keruntuhan—adalah bagian paling berbahaya dari penyakit tanpa nama ini, dan bahwa tak seorang pun di Mraggen tahu itu sebelum terlambat, karena mereka belum pernah cukup jujur mengumumkannya luas-luas. Pengetahuan yang ia kumpulkan di papan Puskesmas, yang selama ini terasa seperti kemenangan kecil tiap kali sebuah titik baru bisa ditandai, tiba-tiba terasa seperti kegagalan yang menganga: pengetahuan yang datang sehari terlambat untuk keluarga yang berdiri di depannya.
Bagas bekerja tanpa henti selama dua jam berikutnya. Ia mencoba menstabilkan tekanan darah, memberi cairan, mengatur oksigen, sesekali menoleh ke arah telepon di meja seakan berharap dr. Larasati bisa mengangkatnya dari jarak seratus kilometer dan menghadirkan trombosit yang tak tersedia di Puskesmas kecamatan. Sesekali ia berhenti sejenak, menutup mata, lalu melanjutkan lagi, seperti orang yang menahan sesuatu di dadanya agar tidak pecah di tengah kerja.
Menjelang pukul lima, monitor itu berbunyi datar.
Bagas masih mencoba—pijat jantung, dorongan cairan sekali lagi, perintah singkat yang makin lama makin terdengar seperti permohonan daripada instruksi klinis—sampai akhirnya ia berhenti sendiri, tangannya masih menempel di dada gadis itu, kepalanya tertunduk. Ruangan menjadi sangat sunyi, hanya suara kipas angin tua berputar dan isak yang mulai pecah dari sudut ruangan tempat Hendra berdiri.
Wening tidak bergerak. Ia menyaksikan Hendra jatuh berlutut di lantai ubin yang dingin, memegangi tangan adiknya yang sudah tak membalas genggaman, dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Mraggen, angka-angka di papan yang selama ini ia susun rapi—kurva yang menanjak, klaster yang mengelompok, tanggal-tanggal onset yang ia catat dengan pena merah—berubah wujud di kepalanya. Bukan lagi titik-titik abstrak yang harus dihubungkan menjadi pola. Ia melihat wajah. Ia melihat seorang kakak yang sedang runtuh di lantai.
Bagas melepas sarung tangannya perlahan, membuangnya ke tempat sampah medis dengan gerakan yang lelah sekali, lalu berdiri diam di sisi ranjang. Untuk sesaat, dokter yang biasa bersikeras bahwa tugasnya adalah menyelamatkan satu nyawa di depan matanya itu tampak seperti orang yang baru kalah dalam pertarungan yang sudah ia perkirakan bakal ia kalah, cepat atau lambat, jika rantai penularan di luar sana tidak juga diputus.
"Aku sudah coba semua yang aku tahu," katanya pelan, tidak menoleh kepada siapa pun.
"Aku tahu," jawab Wening. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, lebih lembut dari yang biasa ia pakai untuk berbicara soal data. Ia melangkah mendekat, berdiri di sebelah Bagas, tidak mengatakan apa-apa lagi, karena kata-kata terasa terlalu kecil untuk ruangan yang baru saja kehilangan seseorang.
Ia berdiri di sana cukup lama sebelum akhirnya berbalik menatap Hendra yang masih berlutut, lalu menatap pintu yang mengarah ke ruang data, ke papan penuh nama dan garis yang selama ini ia perlakukan sebagai pekerjaan. Kali ini ia tahu, begitu ia kembali ke sana, nama yang akan ia tambahkan bukan lagi sekadar entri baru dalam kurva. Nama itu akan menjadi adik Hendra, dan Puskesmas ini tidak akan pernah lagi terasa seperti kantor tempat ia sekadar mengisi kuesioner dan menghitung selisih hari.