Pagi itu daftar nama di tangan Wening sudah penuh coretan pensil—nama yang dicoret berarti sudah didatangi, nama yang dilingkari merah berarti kontak dekat, nama dengan tanda tanya berarti belum jelas kapan terakhir bertemu penderes yang mati minggu lalu. Ia dan Hendra berjalan menyusuri gang Karangsari yang basah oleh embun, membawa daftar itu seperti membawa peta harta karun yang sebenarnya adalah peta luka.
"Rumah keempat," kata Hendra, menunjuk pagar bambu yang pintunya setengah terbuka. "Kulo nuwun dulu, baru tanya siapa yang batuk-batuk minggu ini."
Belum sempat mereka mengetuk, seorang perempuan dari rumah sebelah sudah berdiri di ambang pintunya sendiri, tangan bersedekap, mata menyipit ke arah rumah yang akan mereka datangi.
"Mau nanya keluarga itu, Pak? Tanya saja kenapa anaknya masih keluar-masuk padahal bapaknya baru meninggal karena penyakit itu. Tanya kenapa mereka masih jual legen ke pasar."
Suaranya tidak pelan. Beberapa tetangga lain, yang tadinya pura-pura menyapu halaman atau menjemur pakaian, ikut mendekat, seolah kalimat itu adalah undangan.
Wening menatap Hendra sekilas—isyarat agar ia tidak buru-buru menjawab. Tapi pintu bambu itu keburu terbuka lebih lebar, dan seorang laki-laki setengah baya keluar dengan wajah yang sudah lebih dulu marah sebelum tahu apa yang akan dikatakan orang.
"Sudah, jangan didengarkan," katanya kepada Wening, lalu berbalik ke arah tetangganya. "Bapak saya sudah mati, Bu. Kurang apa lagi? Sekarang mau dituduh nyebarin penyakit juga?"
"Lha kenapa waktu ditanya petugas dulu bilang bapakmu cuma masuk angin? Baru sekarang ngaku!"
Kalimat itu jatuh seperti batu ke air tenang. Wening merasakan udara di gang berubah, orang-orang yang tadi berjarak sekarang berdiri lebih dekat, dan di antara mereka ada yang menunjuk-nunjuk kertas di tangannya sendiri—kertas yang jelas fotokopi dari lembar yang pernah diedarkan tim posyandu, penuh nama dan tanggal.
"Itu daftar dari mana, Bu?" tanya Wening, mencoba menahan suaranya tetap datar.
"Dari anak Bu Ningsih. Katanya dari catatan lama, biar tahu siapa saja yang deket-deket sama yang sakit." Perempuan itu mengangkat kertas itu tinggi-tinggi, seolah itu bukti sah. "Nah, di sini ada nama keluarga ini. Berkali-kali ketemu almarhum. Berarti dari sini asalnya, to?"
Wening mengenali tulisan tangan di kertas itu—rapi, hasil salinan dari buku Ningsih yang sudah dibagikan Yuni kepada beberapa kader agar pelacakan kontak lebih cepat. Niatnya baik: agar data mengalir, agar tak ada rumah yang terlewat. Tapi di tangan yang salah, daftar kontak berubah jadi daftar tertuduh.
"Itu bukan daftar siapa yang menyebarkan," kata Wening, melangkah setengah ke depan supaya dilihat semua orang, bukan cuma dua pihak yang sudah siap bertengkar. "Itu daftar siapa yang perlu diperiksa dan dilindungi. Semua orang yang namanya ada di situ, termasuk keluarga ini, sama-sama berisiko—bukan sama-sama bersalah."
"Tapi kalau nggak ketemu bapaknya, kenapa istri saya sekarang demam?" seorang laki-laki lain menyahut dari belakang, menunjuk ke arah keluarga yang sama.
Suasana makin ramai. Anak dari keluarga yang dituding berdiri di dekat pintu, memeluk lengannya sendiri, matanya berkaca-kaca tapi tidak menangis—seperti sudah terlalu lelah untuk itu. Hendra maju, mencoba menenangkan dengan bahasa yang lebih ia kenal daripada bahasa Wening, tapi bahkan logat Jawanya sendiri terdengar goyah di tengah kerumunan yang sudah kadung marah.
"Sabar, Pak, Bu. Ini bukan soal siapa yang salah. Kalau saling tuduh begini, malah nanti yang sakit takut ngomong, terus kita nggak tahu siapa lagi yang perlu diobati."
Kata-kata itu benar, tapi tak satu pun wajah di gang itu melunak. Wening berdiri di tengah, memegang kertas kuesionernya sendiri, dan untuk pertama kalinya ia merasa kertas itu berat di tangannya—bukan karena isinya, tapi karena cara orang membacanya. Data yang ia susun dengan hati-hati di Puskesmas, garis-garis yang ia tarik antar rumah di peta dinding, ternyata bisa dibaca warga bukan sebagai rantai penularan, melainkan sebagai daftar dosa.
Ia mundur selangkah, membiarkan Hendra dan seorang tetua kampung yang akhirnya keluar melerai, menyuruh semua orang bubar dengan alasan sudah waktunya salat. Kerumunan mengurai perlahan, meninggalkan sisa bisik-bisik yang masih mengalir dari rumah ke rumah, seperti air yang tak bisa disumbat lagi setelah pecah dari bendungan.
Di ujung gang, Wening berhenti sebentar, membuka kuesionernya. Nama-nama itu masih sama—Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, ditambah puluhan nama baru hasil pelacakan kenduri dan legen—tapi untuk pertama kalinya ia melihat di balik tiap nama itu bukan cuma titik di kurva, melainkan seseorang yang bisa dipermalukan di depan tetangganya sendiri hanya karena namanya tertulis di kertas yang dibawa orang asing.
"Bu Wening," kata Hendra pelan, menyusul dari belakang, suaranya masih agak parau. "Kalau begini terus, sampeyan bisa dapat data, tapi kampung ini bisa pecah."
Wening tidak langsung menjawab. Ia menatap kertas di tangannya, lalu ke arah rumah yang tadi dikepung tetangganya sendiri, pintu bambunya kini tertutup rapat.
"Aku pikir tugasku cuma menyusun peta yang benar," katanya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra. "Ternyata peta yang benar saja tidak cukup, kalau orang-orang di dalamnya tidak percaya kenapa peta itu dibuat."
Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam tas, dan untuk pertama kali sejak datang ke Mraggen, ia berjalan pulang tanpa buru-buru menghitung nama berikutnya yang harus ditandai.