Nama itu muncul begitu saja di antara deretan tanggal yang sudah dibaca Wening puluhan kali, seperti sesuatu yang selama ini bersembunyi di celah huruf. Ia sedang menyisir ulang buku catatan Ningsih, mencocokkan setiap kunjungan posyandu dengan kurva yang sudah ia gambar, ketika matanya berhenti pada satu baris tinta yang mulai pudar: *12 Maret — Pak Marto (RT 3 Ngepoh), demam tinggi + mimisan, tidak periksa, menolak dirujuk.* Tanggalnya delapan hari sebelum kenduri pemakaman yang selama ini dianggap sebagai titik nyala wabah.
Ia membaca ulang tiga kali, memastikan bukan salah tafsir tulisan tangan Ningsih yang kadang menyingkat kata seenaknya. Delapan hari. Bukan kebetulan kecil. Kalau demam Pak Marto benar bagian dari rantai yang sama, berarti kenduri bukan permulaan — kenduri cuma tempat api lama berkobar lebih besar.
"Hendra," panggilnya, tanpa mengangkat kepala dari meja penuh kertas. "Kamu kenal nama ini?"
Hendra mendekat, membaca lewat bahu Wening, dan wajahnya berubah sebelum ia sempat bicara. Bukan raut orang mengingat-ingat, tapi raut orang yang buru-buru menata ingatan supaya kelihatan biasa saja.
"Pak Marto deres," katanya pelan. "Yang mati bulan Maret itu. Katanya kena angin duduk."
"Angin duduk," ulang Wening, tidak sinis, hanya menandai. Di kuesioner-kuesioner sebelumnya, ia sudah belajar bahwa istilah itu sering jadi selimut untuk apa saja yang orang tidak mau sebut dengan nama sebenarnya. "Dia penderes legen?"
"Penderes paling lama di Ngepoh. Dari sebelum saya lahir katanya pohonnya sudah dia deres." Hendra berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, "Tapi itu sebelum semua ini ramai, Bu Wening. Waktu itu belum ada yang bilang wabah. Orang cuma kubur, ya sudah."
Justru itu yang membuat Wening merasa lantai di bawah kakinya sedikit bergeser. Kalau Pak Marto sakit dan mati sebelum siapa pun punya alasan menyembunyikan apa-apa, catatannya seharusnya paling jujur di antara semua data yang mereka kumpulkan — tidak ada kepanikan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada tekanan pejabat yang membuat orang memilih diam. Kalau ia bisa memastikan gejalanya, waktunya, dan riwayat kontaknya, ia mungkin sedang memegang kasus indeks jalur legen yang selama ini ia cari dalam gelap.
Parmin mengantar mereka pagi itu juga, motor bak terbuka melambat di jalan tanah menuju RT 3, melewati barisan pohon aren yang batangnya masih menyimpan bekas takik-takik deresan lama, sebagian sudah ditumbuhi lumut karena tidak ada yang menyentuhnya lagi sejak pemiliknya tiada. Wening memperhatikan pot-pot bambu yang tergantung, sudah kering dan pecah, seperti sisa dari kehidupan yang berhenti mendadak.
Rumah Pak Marto sederhana, dindingnya separuh bilik separuh tembok, dengan halaman yang disapu bersih — terlalu bersih, pikir Wening, seperti rumah yang sengaja dijaga rapi supaya tidak mengundang pertanyaan. Seorang perempuan setengah baya membuka pintu sebelum mereka mengetuk, seolah sudah menunggu di balik jendela sejak motor Parmin terdengar dari kejauhan.
"Bu Painah," Hendra menyapa, memperkenalkan Wening dengan hati-hati, memilih kata yang tidak menyebut wabah, hanya "pendataan kesehatan warga."
Bu Painah — istri Pak Marto — mempersilakan mereka duduk, tapi tubuhnya tetap berdiri di ambang pintu, seperti menjaga agar rumahnya sendiri tidak sepenuhnya terbuka. Ketika Wening bertanya tentang gejala suaminya sebelum meninggal, jawabannya datang cepat dan seragam: demam biasa, masuk angin, sudah tua, memang sakit-sakitan.
"Ada mimisan, Bu?" tanya Wening, mengingat catatan Ningsih.
Bu Painah menggeleng terlalu cepat. "Nggak ada. Cuma demam."
"Beliau masih deres sampai hari-hari terakhir?"
"Sudah lama berhenti." Jawaban itu meluncur tanpa jeda berpikir, dan justru kelancarannya yang membuat Wening curiga — jawaban yang sudah dilatih, bukan diingat.
Wening tidak mendesak. Ia tahu dari pintu-pintu yang pernah menolak terbuka sebelumnya, bahwa mendorong terlalu keras hanya akan membuat tembok makin tebal. Ia bertanya soal hal-hal kecil yang tidak terasa mengancam — kapan biasanya deres, jam berapa pot dipasang, apakah ada tetangga yang ikut membantu memanen. Namun setiap jawaban mengarah ke jalan buntu yang sama: tidak ingat, sudah lama, tidak penting.
Baru ketika mereka hendak pamit, seorang anak lelaki kecil, cucu Bu Painah, muncul dari balik pintu dalam sambil membawa mainan kayu, dan berkata polos, "Simbah kemarin bilang aku nggak boleh minum legen lagi, katanya potnya kotor kena kelelawar." Bu Painah buru-buru menariknya masuk, wajahnya pucat, tapi kalimat itu sudah terlanjur jatuh ke udara dan tak bisa ditarik kembali.
Di jalan pulang, tak ada yang bicara untuk beberapa saat. Debu mengepul di belakang motor Parmin, dan Wening menatap pohon-pohon aren yang berbaris seperti saksi bisu yang tak bisa dipaksa membuka mulut.
"Dia tahu," kata Wening akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra. "Bu Painah tahu suaminya sakit karena legen. Mungkin bukan cuma dugaan — mungkin Pak Marto sendiri yang bilang sebelum meninggal."
"Kenapa ditutupi?" tanya Hendra, meski nadanya lebih seperti orang yang sudah tahu jawabannya sendiri.
"Karena kalau diakui, legen itu jadi tersangka. Dan legen itu bukan cuma minuman, Hendra. Itu penghasilan. Itu warisan. Itu nama baik keluarga yang dipercaya turun-temurun menjaga pohon." Wening menghela napas, merasakan tembok yang sama yang pernah ia hadapi di rumah-rumah lain, hanya kali ini dengan taruhan yang jauh lebih besar — sebab di balik tembok itu mungkin tersimpan jawaban yang selama ini ia kejar: titik nol yang sesungguhnya.
Ia tidak punya cukup bukti untuk memaksa, tidak punya surat perintah, tidak punya apa pun selain kecurigaan dan sepotong kalimat polos seorang anak kecil. Yang ia miliki hanyalah satu nama baru untuk ditulis di sudut peta — Pak Marto, penderes pertama, kemungkinan kasus indeks — dan satu keluarga yang telah memutuskan bahwa kejujuran terlalu mahal untuk dibayar sendirian.