Mulut gua itu menganga seperti luka lama di lereng yang tak pernah sembuh, dan Wening berdiri di ambangnya dengan senter kepala yang cahayanya terasa terlalu kecil untuk apa pun yang menunggu di dalam. Udara yang keluar dari kegelapan itu dingin dan asam, membawa bau amonia yang menusuk hingga ke pangkal hidung. Ia menarik masker kain berlapis dua lebih rapat, tahu betul bahwa itu bukan APD yang layak—hanya masker bedah biasa, sarung tangan lateks yang ia beli sendiri di apotek kecamatan, jas hujan plastik yang diikat tali rafia di pergelangan. Perlindungan seadanya. Kata itu terus berputar di kepalanya seperti tuduhan.
"Masih sempat balik, Bu," kata Hendra di belakangnya. Suaranya berusaha datar, tapi Wening menangkap getar tipis di ujungnya. "Kalau nunggu APD beneran dari provinsi—"
"Bisa dua minggu, Hendra. Mungkin lebih." Wening tidak menoleh. "Dan dua minggu lagi, entah berapa pot legen yang sudah didatangi. Kita ambil sampel sekarang, atau kita menebak-nebak sampai musim hujan."
Parmin sudah jongkok di dekat mulut gua, menata dua kantong plastik tebal, tabung sampel, dan sekop kecil yang biasa dipakainya membersihkan bak mobil. "Saya duluan yang masuk, Bu," katanya pelan. "Saya hafal gua-gua begini waktu kecil sering nyari kelelawar buat obat. Bukan yang ini, tapi mirip." Ia menepuk lututnya, lalu menyalakan senter kedua. "Ikut jejak saya. Batu di sini licin karena guano basah. Sekali kepleset, kepala duluan."
Mereka masuk beriringan, Parmin di depan, Wening di tengah, Hendra menutup barisan. Cahaya senter mengiris kegelapan menjadi kerucut-kerucut sempit yang bergoyang. Langit-langit gua turun perlahan sampai Wening harus menunduk, dan bau amonia menebal hingga matanya berair. Di bawah sepatu botnya, lantai gua tak lagi keras—ia melangkah di atas hamparan lembek yang mengeluarkan bunyi becek setiap kali kaki diangkat. Guano. Bertumpuk entah berapa puluh tahun. Di dinding, ia melihat bercak-bercak putih kehijauan tempat sarang walet dipanen, tangga bambu yang disandarkan miring, jejak manusia yang bekerja di tempat ini tanpa satu pun pelindung.
"Di sini mereka manjat," gumam Wening. Ia membayangkan pekerja Haji Suparlan menggantung di ketinggian, tangan telanjang menyentuh dinding yang sama, menghirup udara yang sama. Setiap napas di sini adalah paparan. Ia mengeluarkan tabung, mengikis guano dari dinding dengan spatula, memasukkannya, memberi label dengan pena yang hampir tak mau menulis di plastik lembap. Tangannya gemetar sedikit. Ia berpura-pura itu karena dingin.
Kemudian terdengar suara itu—gemerisik yang bermula dari kedalaman, seperti ratusan lembar kertas diremas serentak. Parmin membeku. "Jangan sorot ke atas—"
Terlambat. Hendra, refleks, mengangkat senternya ke langit-langit, dan cahaya itu menyapu koloni yang bergelantungan rapat seperti buah gelap di pohon terbalik. Sesaat mereka melihatnya: ribuan tubuh berbulu, mata-mata kecil memantulkan cahaya. Lalu langit-langit itu seolah runtuh menjadi gerak. Kelelawar meledak dari sarangnya, gelombang sayap dan pekik ultrasonik yang lebih terasa di kulit daripada di telinga, angin kotor menampar wajah Wening dan memadamkan salah satu senter.
"Merunduk!" teriak Parmin.
Wening menjatuhkan diri, tabung sampel dipeluk ke dada. Sayap-sayap menyambar rambutnya, dan ia merasakan sentuhan-sentuhan ringan di punggung, di lengan, tubuh-tubuh kecil yang panik mencari jalan keluar. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia menahan napas, takut membuka mulut, takut sesuatu masuk. Dalam kegelapan yang tiba-tiba nyaris penuh, ia mendengar Hendra terpeleset—bunyi debam basah, umpatan tertahan, lalu diam yang lebih menakutkan daripada teriakan.
"Hendra!" Wening merangkak ke arah suara. Senternya menyorot dan menangkap sosok itu terlentang di hamparan guano, satu tangan mencengkeram pergelangan yang lain, wajahnya meringis. Darah tipis merembes dari gores di punggung tangannya—terkena batu tajam, atau bambu, entah apa. Tapi yang membuat perut Wening jatuh bukanlah lukanya. Melainkan tempat luka itu terbuka: di sini, di dalam sup guano dan udara yang sarat virus, kulit yang robek adalah pintu.
"Jangan disentuh dengan sarung tangan yang sudah kena guano," katanya cepat, suaranya sendiri terdengar asing, terlalu tenang. Otak epidemiologinya mengambil alih tangan yang panik. "Parmin, air. Yang di ranselku, botol yang segelnya masih utuh. Sekarang."
Parmin sudah ada di sisinya, membuka ransel dengan tangan yang bergetar. Kelelawar terakhir menyapu keluar lewat mulut gua, dan hening turun perlahan, hanya menyisakan napas mereka yang memburu dan tetes-tetes entah dari mana. Wening menyiram luka Hendra dengan seluruh botol, membiarkan air mengalir membawa kotoran, lalu membalutnya dengan kasa dari kotak kecil di sabuknya.
"Aku bodoh," bisik Hendra. Wajahnya pucat di bawah cahaya senter. "Aku nyorot ke atas. Aku tahu enggak boleh, tapi tanganku—"
"Kita semua tahu enggak boleh, dan kita tetap masuk ke sini tanpa APD betul." Wening menekan kasa itu lebih rapat. Ia menatap mata Hendra, dan untuk sekejap ia tak melihat petugas surveilans, melainkan seorang lelaki yang adiknya sedang demam tinggi di Karangsari, yang barusan membuka kulitnya di sarang penyakit yang belum punya nama. "Dengar. Kemungkinan kamu tertular kecil. Kita cuci cepat. Tapi aku enggak akan bohong sama kamu dan bilang nol. Kita catat ini, kita pantau kamu empat belas hari. Jujur, ya, kalau ada gejala. Sekecil apa pun."
Hendra mengangguk, rahangnya menegang.
Parmin sudah mengumpulkan tabung-tabung yang berhamburan, memeriksa satu per satu apakah tutupnya masih rapat. "Sampelnya selamat, Bu," katanya. "Guano tiga tabung, dan—" ia mengangkat sesuatu yang dibungkus kantong ganda, "—ada satu yang mati, jatuh dekat kaki saya waktu tadi. Utuh."
Wening menatap bungkusan itu. Di dalamnya, tubuh kecil yang barangkali menyimpan jawaban yang telah merenggut Bu Sari Darto, Mbak Surti, Pak Kasdi, Ningsih. Ia tak merasa menang. Ia hanya merasa lelah sampai ke tulang, dan sadar bahwa membuktikan reservoir ini ada baru langkah pertama—jalan dari sayap di kegelapan ini menuju pot legen di bawah pohon, menuju meja Haji Suparlan, menuju rapat yang menekannya, masih panjang dan gelap dengan cara yang berbeda.
"Kita keluar," katanya. Ia membantu Hendra berdiri, memapahnya, dan menuntun ketiganya perlahan menuju setitik cahaya siang di mulut luka lama itu. "Rantai dingin harus siap sebelum sampel ini kehilangan artinya."