Malam sudah jauh ketika Wening Pradipta menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan urutan angka di hadapannya.
Papan di dinding Puskesmas Mraggen itu penuh sekarang. Titik-titik kasus dari Ngepoh dan Karangsari, garis tipis yang menghubungkan rumah ke rumah, tanggal yang ditulis dengan tinta berbeda warna. Di sudut kanan, di atas meja yang biasa dipakai Dokter Bagas menimbang bayi, ia telah menempelkan kurva epidemik yang disusunnya ulang sore tadi — batang-batang harian yang menanjak seperti punggung bukit. Dan di tengah kurva itu, dengan spidol merah, ia menarik satu garis tegak lurus: hari kenduri pemakaman besar itu.
Ia telah begitu yakin. Kenduri itu tempat puluhan orang berdesakan semalaman, berbagi piring, berbagi gelas, bersalaman dengan tangan yang sama. Daftar hadir yang susah payah mereka kumpulkan — nama demi nama, tulisan tangan yang miring — seolah menjelaskan segalanya. Kenduri adalah pusat ledakan. Dari sanalah, pikirnya, wabah menyebar ke seluruh Mraggen.
"Kopimu dingin," kata Hendra dari kursi seberang. Ia menguap, matanya merah oleh kantuk dan oleh hal-hal yang tak ia ucapkan sejak adiknya di Karangsari jatuh demam. "Sudah tengah malam, Bu Dokter. Besok saja."
"Sebentar." Wening tidak menoleh. Ia sedang menyalin tanggal mulai gejala — bukan tanggal orang itu datang ke Puskesmas, bukan tanggal ia meninggal, tetapi hari pertama demam menyerang — dari tumpukan kuesioner ke sehelai kertas kosong. Angka itu yang penting. Angka itu yang jujur.
Yuni duduk di lantai bersandar dinding, buku catatan mendiang Ningsih terbuka di pangkuannya. Kader muda itu belum mau pulang sejak sore. "Bu Sari Darto," bacanya pelan, membantu, "Bu Ningsih tulis di sini, tanggal 'bu Sari mulai panas'. Dua minggu sebelum posyandu terakhir."
Wening berhenti menulis.
"Coba ulangi tanggalnya."
Yuni menyebut angkanya. Wening meletakkan spidol, mengambil kertas tanggalnya, dan matanya berpindah ke garis merah di kurva. Ke hari kenduri. Lalu kembali ke tanggal Bu Sari Darto.
Sebelum. Tanggal itu jatuh di sebelah kiri garis merah. Bu Sari Darto sudah demam ketika kenduri itu bahkan belum diselenggarakan.
Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya, dan itu bukan angin malam.
"Hendra." Suaranya berubah. "Bangun. Bacakan aku daftar hadir kenduri. Pelan-pelan."
"Bu—"
"Tolong."
Hendra menegakkan punggung, menarik map dari tumpukan, dan mulai membaca. Wening berdiri di depan kurva, spidol biru di tangan. Setiap nama yang disebut Hendra, ia cari tanggal mulai gejalanya, lalu menandai satu titik biru di kurva — bukan di hari kenduri, tetapi di hari orang itu benar-benar mulai sakit.
Pak Kasdi. Titik biru jatuh tepat di garis merah.
Mbak Surti. Titik biru jatuh dua hari sesudah garis merah. Masuk akal. Cocok dengan masa inkubasi kasar yang ia hitung — beberapa hari antara paparan dan gejala.
Lalu nama keempat. Kelima. Titik biru mereka berjatuhan di sebelah kiri garis. Sebelum kenduri. Satu, dua, lima orang yang hadir di kenduri itu ternyata sudah membawa demam ke dalam ruangan — bukan pulang membawanya keluar.
Wening mundur selangkah, menatap kurva yang kini berbintik dua warna. Merah di garis, biru berpencar ke kiri.
"Aku salah baca ini," katanya, lebih kepada dirinya sendiri.
Hendra mengernyit. "Salah bagaimana? Bukankah kenduri itu yang bikin meledak?"
"Meledak, iya." Wening mengetuk garis merah dengan ujung spidol. "Tapi meledak itu beda dari menyalakan. Lihat, Hendra." Ia menunjuk gerombolan titik biru di sebelah kiri. "Kalau kenduri asal-mulanya, tidak mungkin ada orang yang sudah demam sebelum kenduri digelar. Inkubasi itu jalan maju, bukan mundur. Tak ada penyakit yang menular ke seseorang hari Sabtu lalu bikin dia panas hari Kamis sebelumnya. Waktunya tidak cocok."
Ia berhenti, membiarkan kata-kata itu mengendap di ruangan yang bau formalin dan kopi basi.
"Kenduri itu cuma menyiram minyak," lanjutnya. "Apinya sudah menyala sebelumnya. Sudah ada di antara mereka — di lima, enam orang ini — sebelum mereka duduk berdesakan semalaman. Kenduri membuat lima jadi lima puluh. Tapi lima yang pertama itu tertular dari tempat lain. Dari sumber yang lebih tua."
Yuni menutup buku Ningsih perlahan. "Jadi Bu Ningsih sendiri…"
"Belum tahu." Wening tidak mau mendahului bukti. "Tapi kalau Bu Sari Darto sudah panas dua minggu sebelum kenduri, artinya rantai ini sudah berjalan jauh sebelum kita datang. Kita selama ini mengejar ekornya. Kepalanya ada di suatu tempat, lebih ke belakang."
Hendra menggosok wajahnya. "Kita sudah wawancara semua yang ada di daftar."
"Daftar kenduri. Bukan daftar yang lebih awal." Wening mengambil kertas bersih, menuliskan lima nama yang titik birunya jatuh sebelum garis merah, dan melingkarinya. "Besok kita mundur. Kita cari siapa yang sakit sebelum lima orang ini. Siapa yang mereka temui, ke mana mereka pergi, apa yang mereka minum dan makan pada hari-hari itu. Bukan mencari kerumunan lagi. Mencari orang pertama."
Ruangan itu senyap. Di luar, seekor tokek berbunyi di atap. Wening menatap papannya sendiri — peta yang selama ini ia banggakan — dan untuk sekian detik ia merasa peta itu berbohong kepadanya, sama seperti sumur di Ngepoh dulu berbohong. Bukan karena angkanya salah. Karena ia membaca angka yang benar dari titik yang salah.
"Aku hampir menutup kasus ini di kenduri," gumamnya. "Aku hampir menulis di laporan bahwa itu asal-mulanya."
"Untung belum," kata Hendra.
"Untung Ningsih menulis tanggal." Wening menoleh ke buku di pangkuan Yuni, ke tulisan tangan seorang perempuan yang sudah tak ada. "Orang yang paling teliti di antara kita sudah meninggal, dan dia masih mengoreksi kita dari kertasnya."
Ia menandai lingkaran di sekitar lima nama itu, lalu di bawahnya menulis satu kata yang membuat tangannya sedikit gemetar: sebelum siapa?
Malam itu Wening tidak pulang. Ia duduk di depan kurva yang kini bercabang dua, memandang gerombolan titik biru yang menuntun matanya terus ke kiri — ke belakang, ke hari-hari yang belum ia periksa, ke seseorang yang jatuh sakit lebih dulu dari semua orang yang sudah ia tulis namanya. Peta itu belum selesai. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Mraggen, ia tahu persis ke arah mana harus melangkah: bukan maju mengejar korban baru, melainkan mundur, menuruni waktu, mencari nama yang paling awal dari semuanya.