Kertas-kertas di meja balai desa Karangsari berbau apak, seperti disimpan bertahun-tahun di lemari yang jarang dibuka. Wening menunggu sementara petugas administrasi—seorang perempuan setengah baya bernama Bu Endang—mengaduk-aduk map plastik warna hijau yang sudah pudar, mencari berkas izin pengelolaan gua yang diminta Hendra dua hari lalu lewat telepon.
"Ini yang bapak-ibu maksud?" Bu Endang menyodorkan satu map tipis. "Surat Keterangan Pemanfaatan Lahan. Tahun 2019."
Wening membukanya pelan-pelan, seperti takut kertas itu rontok. Isinya singkat: izin pemanfaatan kawasan gua untuk "budi daya sarang burung walet dan pengumpulan hasil ikutan," atas nama Haji Suparlan, ditandatangani kepala desa lama dan diketahui camat. Tidak ada rincian volume produksi, tidak ada kewajiban pelaporan kesehatan pekerja, tidak ada klausul tentang guano sama sekali—seolah kotoran kelelawar yang menumpuk di lantai gua bukan bagian dari "hasil ikutan" yang dimaksud.
"Cuma ini?" tanya Hendra. "Nggak ada laporan produksi tahunan? Retribusi?"
Bu Endang menoleh ke pintu sebelum menjawab, refleks yang tidak luput dari mata Wening. "Kalau soal itu, langsung ke kecamatan, Mas. Di sini cuma nyimpen surat izin awal."
"Ibu tahu berapa nilainya? Sarang waletnya, maksud saya."
Bu Endang tertawa kecil, getir. "Mas Hendra ini asli sini, kok tanya saya. Sarang mangkok putih dari gua Karangsari itu kelas bagus, Mas. Dulu ada tengkulak dari kota bilang, semutih itu bisa laku delapan sampai sepuluh juta sekilo. Sekali panen, gua itu bisa keluar puluhan kilo."
Wening menghitung dalam hati, cepat dan kasar—sepuluh juta dikali tiga puluh kilo saja sudah tiga ratus juta, dan itu untuk satu kali panen dari satu gua. Ia teringat papan di Puskesmas, angka-angka kasus yang ia tulis dengan spidol, dan sekarang angka lain muncul di kepalanya, jauh lebih besar, jauh lebih licin untuk dipetakan karena tak seorang pun mau menuliskannya di kertas resmi.
"Guano-nya?" Hendra mendesak lagi.
"Itu yang saya nggak paham betul. Katanya ada truk dari luar kota, ambil rutin buat pupuk. Tapi itu urusan dagang Pak Haji sendiri, bukan urusan desa." Bu Endang menutup map itu, isyarat bahwa pembicaraan sudah cukup jauh.
Di luar, Parmin menunggu di dekat mobil dinas, mengelap kaca spion dengan kain yang sama dari hari pertama Wening datang ke Mraggen. Ketika Wening dan Hendra keluar, Parmin melirik map hijau di tangan Wening lalu berkata pelan, seperti membagi rahasia yang sudah lama ia simpan.
"Bu, dulu saya pernah nganter tamu dari kota ke rumah Pak Haji. Tamu itu bukan tengkulak. Mobilnya plat merah."
"Plat merah dari mana?"
"Nggak tahu persis, Bu. Tapi sopirnya sombong. Bilang, 'ini urusan atasan, kamu jangan macem-macem.'" Parmin menaikkan bahu, seolah kalimat itu cukup menjelaskan segalanya tanpa perlu ia tafsirkan lebih jauh.
Wening menatap gua dari kejauhan, bukit yang menghijau dengan mulut gelap di lerengnya, tempat ia berdiri menyaksikan kelelawar keluar malam itu. Ia mulai mengerti bahwa yang ia hadapi bukan sekadar satu pengusaha keras kepala. Ada jalur uang yang mengalir dari mulut gua itu ke tangan-tangan yang lebih jauh dari Mraggen, dan setiap tangan yang menerima aliran itu punya alasan untuk memastikan gua tetap terbuka.
Di kecamatan, mereka tak sampai masuk ke ruang camat. Seorang staf muda—entah sekretaris atau ajudan, Wening tak sempat menangkap jabatannya—menghadang di lorong sebelum mereka mencapai loket arsip.
"Bu Wening, ya? Dari tim surveilans?" Senyumnya ramah, terlalu ramah untuk basa-basi biasa. "Pak Camat titip pesan, kalau soal data usaha warga, sebaiknya dikoordinasikan dulu lewat beliau. Biar nggak simpang siur ke luar."
"Kami cuma mau memastikan sumber paparan, Mas. Bukan mengurus izin usaha."
"Saya paham, Bu. Tapi Pak Haji itu penyumbang besar buat kecamatan—jalan desa, masjid, acara-acara. Beliau juga dekat sama orang-orang di provinsi. Kalau nanti ada yang salah paham, jadi runyam buat semua." Staf itu masih tersenyum, tapi matanya tidak. "Saya cuma menyampaikan pesan, ya, Bu. Bukan melarang."
Wening mengangguk, menyimpan kalimat itu dalam ingatan sepersis mungkin, karena ia tahu kalimat semacam itu jarang diulang dua kali dengan kata yang sama. Ia melangkah keluar bersama Hendra tanpa membantah, sebab membantah di lorong kecamatan hanya akan membuang amunisi yang belum siap ia pakai.
Di mobil, dalam perjalanan pulang ke Puskesmas, Hendra memecah diam. "Kalau kita tutup gua itu, Bu, bukan cuma Pak Haji yang rugi."
"Aku tahu," jawab Wening pelan. Ia membuka lagi map hijau di pangkuannya, membaca ulang tanda tangan camat lama di bawah izin itu, membayangkan berapa banyak tanda tangan serupa yang mengikuti aliran uang yang sama selama bertahun-tahun. "Tapi kalau kita diam, yang rugi jauh lebih banyak. Cuma nggak kelihatan di neraca siapa pun."
Ia menutup map itu dan meletakkannya di atas tumpukan kuesioner, di sebelah kurva epidemik yang masih menanjak. Dua peta berbeda, pikirnya—satu memetakan siapa yang sakit, satu lagi memetakan siapa yang diuntungkan oleh mereka yang tetap diam. Dan ia baru saja mulai menggambar yang kedua.