Malam turun perlahan di lereng Ngepoh, dan Wening Pradipta belajar bahwa gelap di desa tidak pernah benar-benar sunyi. Ada suara jangkrik yang menumpuk seperti dengung mesin, ada anjing menyalak jauh di Karangsari, dan ada napas Parmin di sampingnya yang ia atur agar tidak terlalu keras. Mereka meringkuk di balik gerumbul bambu, di punggung bukit kecil yang menghadap deretan pohon aren. Wening menarik kerah jaketnya. Udara pegunungan menggigit, lembab, berbau tanah dan sabut yang membusuk.
"Sabar, Bu Dokter," bisik Parmin. Ia mengunyah sesuatu, entah cengkih entah kelembak, dan aromanya samar menyelinap. "Penderes belum turun. Biasanya habis isya, ndak lama lagi."
Wening tidak menjawab. Ia menatap pohon-pohon aren yang menjulang seperti tiang gelap, mahkotanya membentuk siluet lebar di langit yang masih menyimpan sisa jingga. Di ketinggian, terikat pada tandan bunga yang telah disadap, tergantung pot-pot dari bambu dan seng bekas. Ia sudah menghitungnya sore tadi: sembilan pot pada empat pohon, semuanya terbuka di mulut, menganga ke arah malam. Di dalam catatannya, jalur legen masih sekadar garis putus-putus, dugaan yang menautkan Bu Sari Darto dan Pak Kasdi tanpa memiliki wajah. Ia datang malam ini untuk memberi garis itu sebuah tubuh.
Seberkas cahaya senter muncul dari arah gubuk. Seorang lelaki tua berjalan menyeret bakul, obor kecil di satu tangan, sabit di pinggang. Ia berhenti di kaki pohon pertama, meludah, lalu mulai memanjat dengan gerak yang tidak tergesa tetapi pasti, kaki telanjangnya mencengkeram takik-takik pada batang.
"Itu Pak Wagiman," gumam Parmin. "Deres di sini turun-temurun. Bapaknya dulu juga penderes."
Wening mengeluarkan buku catatan, menahannya rendah agar tak tertimpa cahaya. Ia menuliskan waktu: pukul sembilan lewat sepuluh. Ia menuliskan cara lelaki itu bekerja — bagaimana ia menurunkan pot yang lama, menuang isinya ke bumbung besar di punggungnya, lalu menggantung pot kosong kembali dengan mulut yang sekali lagi dibiarkan terbuka. Tidak ada tutup. Tidak ada kain. Hanya bambu menganga menampung tetes demi tetes nira yang akan mengumpul sepanjang malam.
"Kenapa tidak ditutup, Pak Parmin?" Wening bertanya, suaranya nyaris tak berbunyi.
Parmin mengangkat bahu di kegelapan. "Kalau ditutup, katanya legennya ndak 'napas', jadi masam. Sudah dari mbah-mbahnya begitu. Lagian yang mau naik-turun malam-malam nutup pot cuma buat apa? Repot." Ia diam sebentar. "Saya dulu waktu kecil juga suka nyuri legen dari pot begini. Manis, seger. Diminum langsung dari mulut potnya."
Sesuatu mengetat di dada Wening mendengar itu. Diminum langsung. Ia membayangkan garis-garis di papan Puskesmas Mraggen, nama-nama yang menuju satu titik yang belum ia beri warna.
Pak Wagiman turun, berpindah ke pohon kedua. Obornya bergoyang, memuntahkan asap tipis. Wening menahan napas, mengamati, mencatat. Dan pada saat lelaki itu menggantung pot kosong yang ketiga, terjadilah hal yang ia tunggu tanpa berani mengucapkannya.
Mula-mula hanya kelebat. Sesuatu melintas di depan siluet mahkota aren, terlalu cepat untuk seekor burung, terlalu lebar geraknya. Lalu satu lagi, memutar, meliuk dengan cara yang tidak dimiliki makhluk bersayap bulu. Wening merasakan bulu kuduknya berdiri, bukan karena takut, melainkan karena pengenalan yang dingin dan tajam.
"Parmin," bisiknya, mencengkeram lengan sang sopir. "Lihat. Di atas pot."
Seekor kelelawar hinggap di bibir pot bambu yang baru saja digantung Pak Wagiman. Ia menggantung terbalik sesaat, lalu menjulurkan kepala ke dalam mulut pot, ke arah nira yang manis dan mengundang. Wening dapat melihat gerak kecil rahangnya. Menjilat. Minum. Di sebelahnya, pot pada tandan lain menerima tamu yang sama. Satu, dua, tiga — bayangan-bayangan yang meluncur dari arah bukit sebelah timur, dari mulut gua yang jauh, mendatangi pot-pot terbuka itu seperti mendatangi kolam yang disediakan untuk mereka.
Wening tidak bergerak. Ia merasakan detak jantungnya sendiri, keras dan tidak teratur. Selama berminggu-minggu jalur legen hanyalah hipotesis, sesuatu yang ia pertahankan dengan keras kepala melawan skeptisisme Dokter Bagas dan keraguan Hendra. Kini ia melihatnya. Bukan grafik, bukan kuesioner, bukan cerita bekas. Reservoir yang bersayap datang menyentuh air yang esok pagi akan diteguk manusia. Rantai itu memiliki tubuh sekar, dan tubuh itu menggantung terbalik di depan matanya.
"Masyaallah," Parmin berbisik, suaranya bergetar. "Codot. Codot minum legen. Selama ini... saya kira mereka cuma cari buah."
"Ludahnya," Wening berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Air liurnya, kotorannya, jatuh ke dalam pot. Lalu pagi orang menuangnya, meminumnya, membaginya kepada tetangga." Ia menutup buku catatan, tak sanggup menulis lagi untuk sesaat. "Kita menandai sumurnya, Parmin. Kita menandai pasarnya. Sepanjang itu, jawabannya menggantung di pucuk pohon, terbuka setiap malam."
Pak Wagiman, tak menyadari apa-apa, meneruskan kerjanya di bawah sana. Obornya bergerak menjauh. Kelelawar-kelelawar itu tinggal, tenang, tak peduli pada dua manusia yang meringkuk di balik bambu dan menahan seluruh berat pemahaman baru.
Parmin menoleh kepadanya. Dalam cahaya bintang, wajahnya yang biasanya banyak bicara kini serius, hampir keras. "Bu Dokter, saya cuma sopir. Tapi malam ini saya ngerti kenapa Ibu ngotot. Orang-orang bilang Ibu mencari-cari yang tidak ada. Bagas, Camat, semua." Ia menelan ludah. "Yang saya lihat barusan itu nyata. Saya mau bantu Ibu. Bukan cuma nyetir. Apa saja."
Wening menatapnya. Ada sesuatu yang bergeser di antara mereka, sebuah kepercayaan yang tidak lahir dari perintah atau jabatan, melainkan dari menyaksikan hal yang sama pada malam yang sama. Ia tahu bukti ini masih harus diuji, disampel, dibawa dalam rantai dingin ke dr. Larasati; ia tahu satu malam pengintaian bukanlah kesimpulan. Tetapi ia juga tahu bahwa mulai malam ini ia tidak sendirian membaca peta.
"Terima kasih, Parmin," katanya. "Besok pagi kita datang lagi. Sebelum penderes menuang. Aku ingin mengambil sampel dari pot itu sendiri — sebelum ada yang meminumnya."
Di atas mereka, seekor kelelawar melepaskan diri dari bibir pot, mengembangkan sayap, dan lenyap ke arah gua di kaki langit. Wening mengikuti geraknya sampai hilang, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Mraggen, ia merasa garis-garis di papannya mulai menyatu menjadi sesuatu yang bisa diputus.