Mobil dinas berwarna hitam itu terparkir tepat di depan pendopo kecamatan ketika Wening tiba bersama Parmin, pelat merahnya masih berdebu dari perjalanan jauh. Beberapa staf kecamatan berdiri berkelompok di teras, bicara pelan-pelan sambil sesekali melirik ke pintu. Ada yang buru-buru merapikan meja tamu, ada yang menggeser kursi, seolah sedang menyambut seseorang yang kehadirannya harus dijaga betul kesannya.
"Pak Broto," bisik Hendra begitu Wening turun dari mobil. "Dari provinsi. Baru datang setengah jam lalu."
Wening belum pernah mendengar nama itu diucapkan dengan nada seperti ini oleh Hendra—bukan takut, tapi hati-hati, seperti orang menyebut nama penyakit yang belum ingin ia yakini benar ada.
"Jabatannya?"
"Katanya asisten deputi. Urusan investasi dan pariwisata daerah." Hendra menelan ludah. "Camat Sudrajat dari tadi pagi wira-wiri nyuruh bersih-bersih."
Di dalam pendopo, Camat Sudrajat berdiri agak membungkuk di samping seorang pria berkemeja putih licin, berkacamata tipis berbingkai emas, duduk di kursi utama seolah kursi itu memang miliknya. Pak Broto tidak besar badannya, tidak juga berpenampilan mengancam. Ia justru tersenyum ramah ketika Wening masuk, senyum yang datang terlalu cepat untuk terasa tulus.
"Ini dia," katanya, "dokter yang bikin heboh sampai ke provinsi."
"Wening Pradipta, Pak," Camat Sudrajat buru-buru menambahkan, seperti takut Broto salah menyebut nama dan itu akan jadi kesalahannya sendiri.
Wening duduk di kursi yang disediakan, terlalu jauh dari meja untuk terasa setara. Ia meletakkan tas kerjanya di pangkuan, bukan di lantai—kebiasaan lama, menjaga jarak aman dari apa pun yang bisa direbut orang lain tanpa izin.
"Saya sudah baca laporan dokter," Pak Broto membuka map tipis di meja, tidak repot-repot membukanya lebih jauh. "Bagus. Rapi. Data lapangan yang detail begini jarang saya temui dari kecamatan sekecil Mraggen."
"Terima kasih, Pak."
"Tapi." Ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung saputangan, gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru menempuh jalan berjam-jam dari ibu kota provinsi. "Ada beberapa bagian yang menurut saya perlu dipertimbangkan ulang. Bukan datanya. Cara menyampaikannya."
"Bagian mana, Pak?"
"Bagian yang menyebut gua dan pasar sebagai sumber penularan aktif." Ia memakai kembali kacamatanya, menatap Wening lurus-lurus, dan untuk pertama kali sejak masuk ruangan itu Wening merasakan sesuatu yang dingin di balik nada ramahnya. "Dua bulan lagi ada Pekan Raya dan Sedekah Bumi. Sudah direncanakan setahun. Investor dari tiga kabupaten sudah pesan lapak. Kalau laporan dokter beredar seperti ini, apa akibatnya bagi Mraggen, menurut dokter?"
"Akibatnya orang tahu risikonya, Pak. Supaya bisa dicegah."
"Atau," Pak Broto menyandarkan punggung, "orang jadi takut datang. Pedagang rugi. Investasi jalan tol yang direncanakan lewat sini bisa batal, dipindah ke kecamatan sebelah. Dan itu bukan cuma soal uang, Dokter—itu soal seribu keluarga yang menggantungkan hidup dari pasar dan panen musim ini."
"Kalau ribuan orang berkumpul di tengah wabah yang jalur penularannya belum tuntas terpetakan, korbannya bukan cuma seribu keluarga, Pak. Bisa lebih."
"Itu asumsi dokter."
"Itu data, Pak. Empat kasus indeks, kurva yang masih menanjak, sampel yang mengarah ke gua dan sumber air. Saya bisa tunjukkan grafiknya."
Pak Broto tersenyum lagi, kali ini lebih lama, seperti sedang menimbang seberapa jauh ia perlu turun tangan sendiri untuk sesuatu yang seharusnya cukup diurus orang di bawahnya. Camat Sudrajat berdiri kaku di sudut, tidak berani duduk, tidak berani bicara.
"Dokter Wening," katanya, lebih pelan sekarang, seolah mereka berdua saja di ruangan itu, "saya dengar dokter ini lulusan bagus. Karier masih panjang. Provinsi sedang butuh orang seperti dokter untuk program surveilans regional—posisi lebih besar, tanggung jawab lebih luas. Ibu kota provinsi, bukan kecamatan kecil begini."
"Saya belum selesai di sini, Pak."
"Justru itu maksud saya." Ia mencondongkan badan sedikit. "Kadang tugas yang paling penting bukan menyelesaikan satu titik sampai berdarah-darah, tapi tahu kapan harus melihat gambar besar. Saya tidak bilang laporan dokter salah. Saya bilang—ada cara menyampaikan kebenaran yang bijaksana, dan ada cara yang gegabah. Yang gegabah bisa berakibat pada banyak hal. Termasuk pada diri dokter sendiri."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit. Wening menatap map tipis di meja, lalu pada wajah Broto yang tenang seperti kolam tanpa riak, dan ia mengerti sekarang kenapa Hendra menyebut nama itu dengan hati-hati tadi. Camat Sudrajat bisa ditekan, bisa dibujuk, bisa marah lalu reda. Orang ini berbeda. Ia tidak perlu mengancam dengan suara keras karena kuasanya sudah cukup menjelaskan dirinya sendiri—tanda tangan yang bisa memindahkan orang dari satu provinsi ke provinsi lain, jabatan yang bisa dibuat naik atau lenyap dalam satu memo.
"Saya hanya melaporkan apa yang saya temukan di lapangan, Pak," kata Wening akhirnya, menjaga suaranya tetap datar. "Kalau itu dianggap gegabah, saya siap mempertanggungjawabkan setiap angka yang saya tulis."
"Bagus." Pak Broto menutup map itu, seolah percakapan sudah selesai menurut penilaiannya sendiri. "Saya cuma minta dokter pikirkan ulang. Pekan Raya tetap jalan sesuai rencana. Soal gua dan pasar, biar nanti kita bicarakan lagi—dengan kepala dingin, bukan dengan laporan yang buru-buru disebar ke mana-mana."
Ia berdiri, merapikan lengan kemejanya, lalu menjabat tangan Wening dengan genggaman yang pas—tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat, seperti sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak meninggalkan kesan apa pun selain kesan bahwa ia selalu memegang kendali.
Di luar pendopo, ketika mobil hitam itu berangkat meninggalkan debu tipis di jalan, Hendra mendekat dengan wajah pucat.
"Bagaimana, Bu?"
Wening menatap punggung mobil yang menjauh, menghitung dalam kepala berapa lama lagi ia punya waktu sebelum tekanan itu berubah jadi sesuatu yang tak bisa ditawar lagi.
"Kita jalan terus," katanya. "Tapi mulai sekarang, simpan salinan semua data di tempat yang tidak bisa mereka jangkau."