Hujan semalam meninggalkan tanah longsor kecil di tebing dekat mulut gua, dan dari situlah Wening mulai menyusuri jalan yang tak pernah ia lewati sebelum ini. Parmin memarkir mobil sejauh jalan setapak masih bisa dilalui roda, lalu mereka berjalan kaki menembus rimbunan bambu yang basah, sepatu bot berlumur lumpur merah.
"Ini jalur air hujan dari atas gua, Bu Dokter," kata Parmin, menunjuk alur becek yang membelah semak. "Kalau musim hujan, ini yang paling deras. Dulu saya sering lihat anak-anak main di sini, ngejar air."
Wening berjongkok di tepi alur, mengamati warna tanah yang bukan cuma merah lempung biasa, melainkan bercampur sesuatu yang lebih gelap, hampir kehitaman, dengan bau yang tajam dan asam. Ia sudah menciumnya sekali, di dalam gua, ketika mereka mengambil sampel guano dari lantai batu. Baunya sama.
"Hendra," panggilnya, "coba lihat ini."
Hendra mendekat, menekuk lutut di samping Wening. Ia mengambil sedikit tanah dengan spatula kecil, memasukkannya ke kantong sampel. "Ini terbawa dari atas. Dari mulut gua."
"Terbawa ke mana?"
Mereka berdua menaikkan pandangan bersamaan, mengikuti alur yang menurun, berkelok di antara akar-akar bambu, terus turun—dan berhenti di satu titik yang membuat dada Wening berdesir dingin: mata air yang sama yang tiga bulan lalu ia tandai sebagai hipotesis pertama, lalu ia coret sendiri di depan tim setelah sampel air kembali negatif.
Ia berdiri diam beberapa detik, membiarkan air yang jernih itu mengalir tenang di depan matanya, seakan menertawakan kesimpulannya yang lama.
"Ini sumber yang sama," kata Hendra pelan, seperti tak percaya pada suaranya sendiri. "Yang di Ngepoh."
"Aku tahu." Wening menelan ludah. "Aku yang menghapusnya dari papan."
Parmin berdiri agak menjauh, memandang mereka berdua dengan raut yang tak biasa—bukan bingung, tapi hati-hati, seperti orang yang tahu sesuatu yang penting sedang terjadi tapi belum berani bersuara. Wening menoleh padanya.
"Pak Parmin, ini jalur hujan yang biasa dilewati air dari gua sampai ke sumur itu?"
"Kalau hujan deras, ya, Bu. Tanahnya miring ke situ. Orang sini bilang itu 'jalan air leluhur'—turun dari gua, lewat sini, terus ke mata air, baru ke sawah. Sudah dari dulu begitu."
"Kenapa tidak ada yang bilang begitu waktu aku tanya soal air?"
Parmin menggeleng kecil. "Ditanya soal air, ya orang mikirnya sumur, Bu. Bukan gua. Siapa yang nyangka air dari gua bisa nyampe ke sumur?"
Wening menatap alur tanah kehitaman itu sekali lagi, lalu mengeluarkan buku catatannya, menggambar cepat sketsa aliran: mulut gua di puncak, longsoran kecil di lereng, alur air hujan menuruni bukit, bermuara di mata air Ngepoh. Ia menulis di sampingnya, dengan tangan yang sedikit gemetar bukan karena dingin: guano terbawa hujan → mencemari hulu sumber → bukan air itu sendiri yang jadi biang, tapi jalur yang membawanya.
"Dulu aku pikir airnya yang salah," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri. "Makanya waktu sampel negatif, aku anggap hipotesisnya gugur total. Tapi yang gugur cuma satu bagian. Bukan sumbernya, bukan penyakitnya—cara aku menguji jalurnya yang salah tempat, salah waktu."
Hendra menimpali, mengangkat kantong sampel tanah ke arah cahaya, memeriksa warnanya. "Sampel air yang kita ambil dulu itu diambil pas kemarau, kan? Nggak hujan."
"Betul. Musim kemarau, tidak ada yang membawa guano turun. Air jernih, negatif, aman. Tapi begitu hujan deras—" Wening menunjuk alur di depan mereka, "—semua yang menumpuk di lantai gua selama berbulan-bulan ikut terbawa turun, campur ke sumber air. Lalu reda lagi, mengendap, hilang jejaknya. Air itu tidak selalu berbahaya. Ia berbahaya di momen tertentu, dan kita kebetulan mengambil sampel di momen yang salah."
"Berarti hipotesis airnya benar," kata Hendra, setengah bertanya, setengah memastikan.
"Benar, tapi bukan sebagai penyebab tunggal seperti dulu aku pikirkan. Air jadi perantara, bukan sumber. Sumbernya tetap gua—kelelawarnya, kotorannya. Air cuma jalan yang membawanya sampai ke rumah orang." Wening menutup buku catatan, menatap Hendra lurus. "Ini yang mesti kita catat baik-baik: dulu aku salah bukan karena metodenya salah, tapi karena aku berhenti terlalu cepat. Aku pikir satu sampel negatif berarti seluruh jalur gugur. Padahal harusnya aku tanya, kapan sampel itu diambil, dalam kondisi apa."
Parmin, yang sejak tadi mendengarkan sambil sesekali menyeka lumpur dari sepatunya, akhirnya bersuara. "Jadi sekarang gimana, Bu? Sumurnya ditutup lagi?"
"Belum bisa buru-buru begitu, Pak Parmin. Aku harus ambil sampel air sekarang juga, pas masih ada sisa hujan semalam, kirim ke dr. Larasati bareng sampel tanah ini. Kalau memang cocok, kita punya mekanisme yang jelas—bukan cuma dugaan lagi." Ia mulai membongkar tas lapangan, mengeluarkan botol steril, tangannya sudah bergerak otomatis mengikuti prosedur yang sudah ribuan kali ia ulang, tapi pikirannya masih berputar pada satu hal yang mengganjal: berapa banyak lagi kesimpulan yang pernah ia coret terlalu cepat, hanya karena buktinya datang di waktu yang keliru.
Ia berjongkok di tepi mata air, mencelupkan botol ke arus yang masih keruh sisa hujan, memperhatikan butiran halus kehitaman yang melayang di dalamnya sebelum menutup rapat tutupnya.
"Peta itu bukan sekali gambar lalu selesai," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hendra atau Parmin yang berdiri menunggu di belakangnya. "Dia harus terus digambar ulang, setiap kali ada yang baru kelihatan. Termasuk garis yang pernah kuhapus."
Hendra mengangguk pelan, mencatat sesuatu di kuesionernya, sementara di kejauhan, dari arah lereng, suara gemericik air kecil masih mengalir turun—jalan yang selama ini tak pernah benar-benar berhenti membawa apa yang ada di dalam gua menuju rumah-rumah di Ngepoh.