Wening berdiri di depan peta yang mulai penuh titik merah, matanya menyusuri kolom tanggal yang ia tulis kecil-kecil di sisi kertas. Ada sesuatu yang mengganggu sejak semalam: tujuh kasus baru, dari empat dusun berbeda, semuanya jatuh sakit dalam rentang tiga hari yang sama. Bukan kebetulan biasa. Ia menghitung mundur dari tanggal mulai demam, mengurangi masa inkubasi kasar yang sudah ia susun di kurva—lima sampai delapan hari—dan berhenti di satu titik yang sama persis untuk hampir semua nama itu.
“Ini tanggalnya pas,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Hendra yang sedang menyusun map di meja sebelah. “Pas banget, Mas Hendra. Kayak semua orang ini ketemu di satu tempat, di hari yang sama.”
Hendra berhenti menulis. Ia menatap tanggal yang ditunjuk Wening, lalu wajahnya berubah, seperti orang yang baru ingat sesuatu yang seharusnya sudah ia sebut lebih awal.
“Itu pitung dina-nya Pak Kasdi, Dok,” katanya pelan. “Kenduren tujuh hari sepeninggal beliau. Rame. Sekampung teko.”
Wening menoleh cepat. “Kenduri kematian?”
“Nggih. Adat kene ngono, Dok. Wong mati, dielengi pitung dina, patang puluh dina, satus dina. Sing pitung dina biasane paling rame, amarga kabeh sedulur, tangga, wong sak kampung diundang mangan bareng. Kanggo ndongakke sing wis ndisik.” Hendra menerjemahkan sendiri kalimatnya begitu melihat kening Wening berkerut. “Buat mendoakan yang sudah meninggal. Semua orang datang, Dok. Bukan cuma keluarga dekat.”
Wening menatap peta lagi, dan sesuatu di dadanya mengeras seperti batu yang tenggelam ke dasar sungai. Bukan sumur. Bukan pasar. Satu ruangan, satu malam, ratusan orang duduk berdesakan di atas tikar, berbagi nasi dari satu wadah besar, saling bersalaman, saling menyeka air mata yang sama.
Rumah keluarga Pak Kasdi masih berbau kemenyan ketika mereka tiba sore itu. Tikar-tikar bekas kenduri sudah digulung dan disandarkan di dinding teras, tapi bekas jejak duduk masih membekas di lantai semen—lingkaran-lingkaran pudar dari alas yang digelar terlalu lama. Istri Pak Kasdi menyambut mereka dengan mata yang masih merah, tangannya cepat mengelap kursi sebelum mempersilakan duduk, seolah kesibukan kecil itu bisa menahan sesuatu yang lebih besar dari runtuh.
“Bapak sing masak, sing ngeloni tamu, kula mung nampani,” katanya, suaranya lirih. Hendra menerjemahkan sebentar untuk Wening: dia hanya menerima tamu, yang lain-lain diurus tetangga. “Akeh banget sing teko, Dok. Sedulur teko Karangsari, teko Ngepoh, malah enek sing teko soko njobo kecamatan. Bapak kula kondang, tiyang seneng.”
“Ibu masih ingat kira-kira berapa orang yang datang?” tanya Wening, lewat Hendra.
Perempuan itu menggeleng pelan, lalu matanya beralih ke sudut ruangan, ke sebuah buku tipis bersampul karton yang terselip di rak dekat foto suaminya. “Enten niku,” katanya. “Buku sumbangan.”
Hendra mengambilkannya. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan berbagai gaya—nama, alamat dusun, jumlah beras atau uang yang disumbangkan, ditulis oleh entah siapa yang duduk di meja penerima tamu malam itu. Wening membolak-balik dengan hati-hati, seakan memegang sesuatu yang bisa hancur kalau ditekan terlalu keras. Ratusan nama. Bukan buku tamu resmi, bukan catatan yang dibuat untuk dibaca orang seperti dirinya—tapi untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Mraggen, ia memegang sesuatu yang mendekati daftar hadir sungguhan.
“Ini bisa dipinjam, Bu?” tanyanya, suaranya sengaja dijaga tetap lembut. “Cuma untuk dicatat. Nanti dikembalikan.”
Istri Pak Kasdi menatap buku itu lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih berat daripada sekadar kertas. Lalu ia mengangguk, pelan, seolah menyerahkan bagian terakhir dari suaminya yang masih bisa ia serahkan.
Di perjalanan pulang, di jok depan mobil Parmin, Wening membuka buku itu di pangkuannya sambil menghitung dengan jarinya, baris demi baris. Seratus enam puluh tiga nama. Ia tahu itu bukan angka pasti—banyak yang datang tanpa menyumbang apa-apa, banyak anak kecil yang ikut orang tua tanpa tercatat sendiri—tapi angka itu sudah cukup membuat dadanya berdebar dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan debar takut kehilangan arah. Debar karena untuk pertama kalinya ia melihat bentuk dari sesuatu yang selama ini hanya ia curigai: bukan tempat yang berbahaya, tapi momen. Satu malam, satu ruangan penuh, napas yang berdesakan di udara yang sama selama berjam-jam.
“Peta kita bakal berubah banyak, Mas Hendra,” katanya, tanpa mengangkat kepala dari buku. “Ini bukan cuma satu rantai lagi. Ini kayak—” ia berhenti, mencari kata yang tidak akan membuat Hendra makin cemas, lalu menyerah dan mengatakan yang sebenarnya. “Kalau benar dari sini, satu malam ini bisa saja yang bikin belasan orang ketularan sekaligus. Bukan satu-satu kayak biasa.”
Hendra diam di kursi belakang, matanya menatap ke luar jendela, ke arah rumah-rumah yang mulai menyalakan lampu teras. “Sedulur kula ya teko, Dok,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar di atas deru mesin. “Adik kula. Melu kenduren, tak jak.”
Wening menoleh. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan kalimat itu mengendap dulu di antara mereka berdua, sebelum meletakkan tangan sebentar di lengan Hendra—gestur kecil, tidak diucapkan, tapi cukup untuk mengatakan bahwa ia mendengar, dan bahwa ia tahu daftar nama di pangkuannya sekarang bukan sekadar data.
“Kita mulai dari yang paling gampang dilacak dulu,” katanya kemudian, lebih tenang. “RT-nya, kadernya, siapa yang masih inget siapa duduk di mana. Satu-satu, Mas. Nggak buru-buru, tapi juga nggak boleh berhenti.”
Parmin, yang sejak tadi diam menyetir, akhirnya bersuara dari balik kemudi. “Kula ngerti sopo sing masak wedang kunir kanggo tamu wingi kae, Dok. Isih cedhak omahe.”
Wening menutup buku sumbangan itu perlahan, menyelipkan jarinya sebagai penanda halaman terakhir yang ia hitung, dan menatap jalan berdebu di depan mereka yang mulai gelap. Seratus enam puluh tiga nama menunggu untuk didatangi satu per satu, dan ia tahu, sebelum malam itu selesai, daftar itu akan bertambah panjang lagi.